29.4 C
Jakarta

Kulit Jeruk hingga Cengkeh Disulap Jadi Pengusir Nyamuk

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Kulit jeruk, serai, dan cengkeh yang selama ini mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari ternyata dapat diolah menjadi bagian dari inovasi pengusir nyamuk. Hal itu dilakukan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id melalui produk CITROGUARD 3in1.

 

Produk yang dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tersebut menawarkan konsep multifungsi. Selain dirancang sebagai alternatif pengusir nyamuk berbahan alami, CITROGUARD 3in1 juga dikembangkan sebagai aromaterapi dan pengharum ruangan.

 

Ketua Tim CITROGUARD 3in1, Tri Astuti Rejeki Handayani, mengatakan inovasi tersebut berangkat dari upaya memanfaatkan bahan-bahan nabati yang memiliki kandungan minyak atsiri dan senyawa volatil.

 

“Konsep tersebut memadukan bahan-bahan nabati yang memiliki kandungan minyak atsiri dan senyawa volatil, sehingga menghasilkan aroma citrus dan herbal yang segar serta nyaman digunakan di dalam ruangan,” kata Tri Astuti saat diwawancarai, Sabtu (12/9/2026).

 

Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UMS itu menjelaskan, CITROGUARD 3in1 memanfaatkan tiga bahan utama, yakni kulit jeruk, serai, dan cengkeh.

 

Masing-masing bahan memiliki karakteristik senyawa yang berbeda. Kulit jeruk mengandung limonene, sedangkan serai memiliki kandungan sitronelal, sitronelol, dan geraniol. Adapun cengkeh mengandung eugenol.

 

Menurut Tri Astuti, perpaduan berbagai senyawa tersebut berperan dalam membentuk karakter aroma CITROGUARD 3in1 sekaligus mendukung potensi aktivitas penolak serangga.

 

Padukan Fungsi Pengusir Nyamuk dan Aromaterapi

 

Pemanfaatan bahan nabati menjadi salah satu aspek yang diunggulkan tim dalam pengembangan CITROGUARD 3in1. Tim tidak hanya mengeksplorasi potensi bahan alami sebagai alternatif pengusir nyamuk, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan aroma ketika produk digunakan di dalam ruangan.

 

Perpaduan aroma citrus dari kulit jeruk dengan karakter herbal dari serai dan cengkeh diharapkan memberikan pengalaman aromatik yang lebih nyaman.

 

“Konsep multifungsi ini menjadi upaya tim untuk menghadirkan produk yang memiliki nilai guna sekaligus potensi untuk dikembangkan lebih lanjut,” ujar Tri Astuti.

 

Ia menuturkan, pengembangan CITROGUARD 3in1 menjadi pengalaman penting bagi tim. Para mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan gagasan, tetapi juga mengubah gagasan tersebut menjadi produk melalui tahapan pengembangan yang sistematis.

 

Mulai dari mengidentifikasi persoalan sehari-hari, menentukan ide, menyusun konsep inovasi, mengembangkan produk, hingga mengikuti proses seleksi pendanaan PKM.

 

“Alhamdulillah, kami sangat senang dan bersyukur dapat memperoleh pendanaan dari Kemdiktisaintek. Terlebih, proses ini kami jalani bersama teman-teman yang telah berjuang untuk merealisasikan produk ini,” kata Tri Astuti.

 

Ia berharap CITROGUARD 3in1 dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dengan menghadirkan alternatif produk pengusir nyamuk berbahan alami.

 

Mahasiswa Belajar Mengembangkan Produk

 

Bagi tim, pendanaan PKM bukan menjadi akhir dari proses. Justru, tahap setelah memperoleh pendanaan menjadi kesempatan untuk menguji, mengevaluasi, dan menyempurnakan inovasi yang telah dirancang.

 

“Bagi kami, prosesnya tidak berhenti ketika proposal mendapatkan pendanaan. Justru setelah itu kami belajar bagaimana mengembangkan produk, melakukan evaluasi, dan melihat bagaimana inovasi ini bisa terus diperbaiki agar memiliki manfaat yang lebih luas,” ujarnya.

 

Dosen pembimbing dari Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMS, Endang Setyaningsih, S.Si., M.Si., Ph.D., mengapresiasi proses yang telah dilakukan tim.

 

Menurut Endang, salah satu kekuatan dalam pengembangan CITROGUARD 3in1 adalah adanya kolaborasi lintas bidang. Mahasiswa dari latar belakang keilmuan berbeda dapat berkontribusi dalam proses pengembangan inovasi.

 

“Saya melihat teman-teman memiliki semangat yang baik untuk mengembangkan ide menjadi sebuah produk. Proses ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar melakukan penelitian, mengembangkan inovasi, sekaligus mengevaluasi produk secara berkelanjutan,” ungkap Endang.

 

Ia berharap CITROGUARD 3in1 terus dikembangkan sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

 

Pengembangan CITROGUARD 3in1 merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang memperoleh dukungan pendanaan dari Belmawa, Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, serta UMS.

 

Tim pengembang terdiri atas Tri Astuti Rejeki Handayani sebagai ketua, bersama Fatimah Amalia, Saniya Zulfa Riani Sari, Zahra Lu’lu’a Salsabila, dan Dinda Cahya Maghfirah dari Program Studi Pendidikan Biologi UMS. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!