27.1 C
Jakarta

PKM-PM Pelita Jiwa UMS Ajari Anak Lawan Bullying Lewat Canva

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Gawai yang selama ini identik dengan gim dan tontonan mulai diarahkan menjadi alat untuk melawan perundungan. Anak-anak di Rumah Anak Yatim Arrahmah, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, diajak membuat kampanye digital “STOP BULLYING” melalui aplikasi Canva.

 

Kegiatan itu digelar Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Pelita Jiwa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui pelatihan bertajuk “Exploring Digital Influence”, Sabtu (8/8/2026).

 

Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa UMS meningkatkan literasi digital anak sekaligus membangun kesadaran mengenai etika dan tanggung jawab dalam bermedia sosial.

 

Ketua Tim PKM-PM Pelita Jiwa UMS, Umma Farida Baazar, mengatakan perkembangan teknologi digital membawa peluang sekaligus risiko bagi anak-anak. Penggunaan media sosial tanpa pendampingan dapat membuka ruang bagi berbagai persoalan, termasuk perundungan siber dan paparan konten yang tidak sesuai.

 

Karena itu, kata dia, anak-anak perlu dibekali kemampuan untuk menggunakan teknologi secara kritis dan produktif.

 

“Melalui kegiatan Exploring Digital Influence ini, kami tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis pembuatan desain grafis di ponsel, tetapi juga menanamkan pemahaman kritis dan rasa tanggung jawab digital,” ujar Umma, Jumat (11/9/2026).

 

“Kami ingin anak-anak menyadari bahwa gawai yang mereka genggam dapat menjadi sarana yang sangat ampuh untuk menyebarkan kebaikan dan menolak segala bentuk perundungan,” lanjutnya.

 

Dari Pengguna Gawai Jadi Kreator Konten

 

Pelatihan berlangsung dengan pendekatan aplikatif dan interaktif. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi langsung mempraktikkan pembuatan poster digital menggunakan smartphone masing-masing.

 

Materi diawali dengan pengenalan literasi digital dan etika berinternet. Peserta kemudian diarahkan mengenal berbagai fitur utama Canva sebelum membuat desain secara mandiri.

 

Tim Pelita Jiwa mendampingi peserta tahap demi tahap, mulai dari memilih kombinasi warna, menata elemen gambar, menyusun layout, hingga merumuskan kalimat ajakan (call to action) yang mudah dipahami.

 

Tema “STOP BULLYING” dipilih agar keterampilan desain yang dipelajari peserta sekaligus menjadi medium menyampaikan pesan sosial.

 

Hasilnya, sejumlah poster digital berisi ajakan saling menghargai, menghentikan ejekan verbal maupun perundungan di media sosial, serta menciptakan ruang digital yang ramah anak berhasil dibuat.

 

Suasana pelatihan di saung ramah lingkungan Rumah Anak Yatim Arrahmah pun berlangsung penuh keceriaan. Peserta terlihat antusias mengeksplorasi ide dan menuangkannya ke layar gawai.

 

Umma bersama anggota Tim PKM-PM UMS, yakni Nabila Diwida Paramitha, Nisita Adyan Bawanti Putri, Filiasofia Salsabilla, dan Naufal Jonathan Putra Santoso, menjalankan program tersebut dengan pendampingan dosen pembimbing Ika Candra Sayekti, S.Pd., M.Pd.

 

HP Tak Sekadar untuk Gim

 

Salah seorang peserta mengaku mendapat pengalaman baru setelah mengikuti pelatihan. Selama ini, ia lebih sering menggunakan ponsel untuk bermain gim atau menonton video.

 

“Biasanya HP cuma saya pakai untuk main game atau menonton video. Tapi setelah ikut kegiatan dari Kakak-Kakak Pelita Jiwa, saya jadi paham cara membuat poster sendiri di Canva,” tuturnya.

 

Ia bahkan berencana membagikan poster bertema Stop Bullying yang dibuatnya melalui media sosial.

 

“Saya senang sekali bisa buat poster ‘Stop Bullying’ dan ingin membagikannya ke media sosial agar teman-teman lain tidak saling mengejek,” katanya.

 

Dosen pembimbing Tim PKM-PM Pelita Jiwa UMS, Ika Candra Sayekti, mengatakan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa dapat menghadirkan solusi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

 

“Melalui program PKM-PM ini, UMS tidak hanya menghadirkan inovasi dalam pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk menghasilkan solusi yang berdampak langsung bagi masyarakat,” kata Ika.

 

Sebagai tindak lanjut, poster karya peserta direncanakan dipublikasikan melalui media sosial resmi tim. Sejumlah karya juga akan dicetak dan dipajang di sudut edukasi komunitas.

 

Langkah tersebut diharapkan membuat karya anak-anak tidak berhenti sebagai hasil pelatihan, tetapi berkembang menjadi media edukasi sebaya (peer education) yang dapat menyebarkan pesan positif kepada anak-anak lainnya.

 

Melalui perpaduan literasi digital, keterampilan desain visual, dan pendidikan karakter, Tim PKM-PM Pelita Jiwa UMS berharap anak-anak tidak hanya menjadi konsumen teknologi.

 

Mereka juga didorong menjadi kreator konten yang kreatif, kritis, dan bertanggung jawab, sekaligus mampu menggunakan ruang digital untuk menyebarkan kebaikan dan melawan perundungan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!