JAKARTA, MENARA62.COM — Rezeki dalam Islam tidak selalu diukur dari banyaknya harta. Kesehatan, ketenangan hati, keluarga harmonis, keberkahan, hingga kesempatan memberi manfaat kepada orang lain juga merupakan bentuk rezeki yang patut disyukuri.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Majelis Pembina Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UHAMKA, Faozan Amar, saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah, Jakarta.
Dalam khutbahnya, Faozan mengungkap tiga jalan penting untuk menjemput kelapangan rezeki, yakni bersungguh-sungguh dalam bekerja, bertawakal kepada Allah SWT, dan gemar bersedekah.
Menurut Faozan, Islam tidak mengajarkan umat untuk berpangku tangan menunggu rezeki datang. Ikhtiar merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Ia mengutip QS Al-Jumu’ah ayat 10 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk bertebaran di muka bumi setelah menunaikan salat dan mencari karunia Allah SWT.
“Setelah salat, Allah memerintahkan kita untuk bertebaran di muka bumi dan mencari karunia-Nya. Ini menunjukkan bahwa ibadah dan ikhtiar ekonomi tidak boleh dipisahkan,” ujar Faozan.
Bekerja Sungguh-Sungguh
Faozan menekankan, salah satu cara menjemput rezeki adalah bekerja dan berusaha secara optimal. Seorang Muslim dituntut meningkatkan kompetensi, membaca peluang, bekerja profesional, serta melakukan perencanaan.
Namun, usaha tersebut harus tetap berada dalam koridor yang halal dan baik.
“Setelah salat, Allah memerintahkan kita untuk bertebaran di muka bumi dan mencari karunia-Nya. Ini menunjukkan bahwa ibadah dan ikhtiar ekonomi tidak boleh dipisahkan,” katanya.
Menurut Faozan, keberhasilan dalam bekerja tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan manusia. Ada ketentuan Allah SWT yang berada di luar kendali manusia.
Karena itu, kelapangan rezeki tidak semestinya melahirkan kesombongan. Sebaliknya, ketika rezeki terasa sempit, seorang Muslim tidak boleh kehilangan harapan.
Tawakal Setelah Ikhtiar
Jalan kedua adalah tawakal. Faozan menjelaskan bahwa tawakal bukan berarti pasrah tanpa melakukan usaha.
Tawakal merupakan sikap menyerahkan hasil kepada Allah setelah seseorang melakukan ikhtiar secara maksimal.
Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Umar bin Khattab RA tentang burung yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.
“Burung saja keluar dari sarangnya untuk mencari rezeki. Karena itu, tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Tawakal adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah,” jelasnya.
Faozan mengingatkan agar manusia tidak menggantungkan seluruh kehidupannya pada hasil usaha semata. Ikhtiar harus berjalan beriringan dengan keyakinan kepada Allah SWT.
“Ketika rezeki lapang, kita bersyukur. Ketika rezeki terasa sempit, kita tetap berikhtiar dan tidak berputus asa. Allah mengetahui waktu dan ukuran yang terbaik bagi setiap hamba-Nya,” katanya.
Sedekah Membawa Keberkahan
Jalan ketiga adalah sedekah. Menurut Faozan, berbagi bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi juga bagian dari ibadah yang dapat menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.
Ia mengutip QS Saba ayat 39 yang menegaskan bahwa apa yang diinfakkan di jalan Allah akan mendapatkan penggantian dari-Nya.
Faozan juga mengutip sabda Rasulullah SAW, Mā naqaṣat ṣadaqatun min māl, yang berarti sedekah tidaklah mengurangi harta.
Namun, ia mengingatkan agar hadis tersebut tidak dipahami secara sempit sebagai jaminan bahwa setiap harta yang dikeluarkan akan kembali dalam jumlah yang sama.
“Kelapangan rezeki tidak selalu berbentuk bertambahnya angka di rekening. Rezeki juga bisa berupa kesehatan, ketenteraman, hubungan sosial yang baik, terbukanya peluang, dan keberkahan dalam kehidupan,” tuturnya.
Selain berdimensi spiritual, sedekah juga memiliki dampak sosial. Ketika sebagian harta diberikan kepada mereka yang membutuhkan, tumbuh solidaritas dan kepedulian di tengah masyarakat.
Dengan demikian, rezeki tidak hanya dinikmati secara pribadi, tetapi juga dapat menjadi sumber kemanfaatan bagi orang lain.
Faozan kemudian mengajak jamaah membangun keseimbangan antara ikhtiar, tawakal, dan berbagi.
“Jangan hanya berdoa agar pintu rezeki dibuka. Kita juga harus bergerak mengetuk pintu-pintu ikhtiar yang halal. Setelah itu, bertawakal dan jangan lupa berbagi,” pesannya.
Ia menegaskan, bekerja tanpa tawakal berpotensi melahirkan kesombongan. Sebaliknya, tawakal tanpa ikhtiar dapat berubah menjadi kemalasan. Demikian pula harta tanpa kepedulian sosial akan kehilangan sebagian makna keberkahannya.
“Semoga kita menjadi hamba yang tekun bekerja, benar dalam bertawakal, ringan tangan dalam bersedekah, serta memperoleh rezeki yang halal, cukup, luas, dan penuh keberkahan,” pungkas Faozan. (*)
