31.6 C
Jakarta

Sadranan Jadi Jembatan Mahasiswa UMS Dekati Warga Seboto

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Teknologi bukan satu-satunya kunci keberhasilan program pengabdian masyarakat. Bagi Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Informatika (HMP PTI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/, membangun kedekatan dengan masyarakat dan memahami budaya lokal juga menjadi bagian penting.

 

Hal itu dilakukan Tim PPK Ormawa HMP PTI UMS dengan terlibat dalam rangkaian tradisi Sadranan yang digelar masyarakat Desa Seboto, Kecamatan Ampel, Gladagsari, Kabupaten Boyolali.

 

Keterlibatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan warga sekaligus mengenal nilai-nilai sosial dan budaya yang masih dirawat secara turun-temurun.

 

Perwakilan Tim PPK Ormawa HMP PTI UMS, Qusnul Refalina, mengatakan Sadranan merupakan salah satu tradisi yang memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial masyarakat Desa Seboto.

 

Menurut dia, rangkaian Sadranan umumnya diawali dengan kegiatan membersihkan makam leluhur. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan silaturahmi antarmasyarakat.

 

“Tradisi tersebut menjadi salah satu momentum bagi masyarakat untuk menjaga hubungan sosial, mempererat kebersamaan, serta melestarikan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ungkap Qusnul, Sabtu (12/9/2026).

 

Tim PPK Ormawa HMP PTI UMS tidak mengikuti seluruh rangkaian Sadranan. Mahasiswa mulai bergabung ketika masyarakat memasuki agenda silaturahmi dari rumah ke rumah setelah berziarah ke makam.

 

Dalam kegiatan tersebut, tim turut berkunjung bersama sejumlah perangkat desa, kelompok tani, dan masyarakat setempat.

 

Bagi mahasiswa, interaksi tersebut bukan sekadar bagian dari agenda program. Pertemuan dari rumah ke rumah justru membuka ruang bagi tim untuk mengenal kehidupan sosial warga Desa Seboto secara lebih dekat.

 

Pengalaman itu dinilai penting mengingat Tim PPK Ormawa HMP PTI UMS tengah menjalankan program Seboto Smart Farming, yang membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat sebagai mitra.

 

Qusnul menjelaskan, penerapan teknologi dalam program pengabdian tidak dapat berjalan sendiri. Komunikasi dan kepercayaan dengan masyarakat menjadi fondasi agar inovasi yang dibawa mahasiswa dapat diterima dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

 

“Hubungan yang baik dengan masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung keberlangsungan program, terutama karena pelaksanaan program berbasis teknologi membutuhkan keterlibatan dan kerja sama dengan masyarakat setempat,” jelasnya.

 

Karena itu, tradisi Sadranan menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk membangun komunikasi yang lebih cair dengan warga.

 

Melalui kebersamaan tersebut, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pelaksana program, tetapi juga menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat yang menjadi mitra pengabdian.

 

PPK Ormawa HMP PTI UMS 2026 pun berupaya mengedepankan komunikasi, kebersamaan, dan penghargaan terhadap budaya lokal dalam membangun kolaborasi bersama masyarakat Desa Seboto.

 

“Tradisi Sadranan sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan program pengabdian tidak hanya ditentukan oleh penerapan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan membangun hubungan yang baik dengan masyarakat,” kata Qusnul.

 

Keterlibatan dalam tradisi Sadranan akhirnya mempertemukan dua hal yang kerap dianggap berbeda: teknologi dan kearifan lokal.

 

Melalui pengalaman tersebut, Tim PPK Ormawa HMP PTI UMS berupaya memastikan program Seboto Smart Farming tidak hanya berbicara tentang inovasi teknologi, tetapi juga tumbuh dari komunikasi, kebersamaan, serta penghargaan terhadap nilai sosial dan budaya masyarakat.

 

Dengan demikian, hubungan antara mahasiswa, perangkat desa, kelompok tani, dan warga Desa Seboto diharapkan semakin kuat untuk mendukung keberlanjutan program pengabdian berbasis teknologi tersebut. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!