SOLO, MENARA62.COM – Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id didorong tidak sekadar aktif berorganisasi, tetapi juga mampu membaca arah perubahan politik secara kritis.
Dorongan itu mengemuka dalam Sekolah Rakyat yang digelar Pimpinan Komisariat (PK) IMM Komisariat Pondok Shabran UMS pada Sabtu-Ahad, 12-13 September 2026. Kegiatan berlangsung di Ruang Seminar Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS.
Mengusung tema “Menempa Nalar Politik Kader dalam Lanskap Intelektual Kampus dan Medan Gerak Persyarikatan”, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi kader untuk memperkuat wawasan dan kemampuan membaca dinamika politik, baik di lingkungan kampus maupun dalam kehidupan Persyarikatan Muhammadiyah.
Ketua panitia, Khoirul Ibady Pinem, mengatakan Sekolah Rakyat digelar di tengah kondisi politik yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian. Karena itu, kader IMM dinilai perlu memiliki kesadaran politik yang matang agar tidak mudah terseret kepentingan sesaat.
“Kami rasa kita perlu untuk meneguhkan diaspora sebagai kader IMM, bukan sekadar individu. Membentuk kader melek politik demi kemaslahatan, bukan kekuasaan ataupun batu loncatan,” kata Khoirul, Ahad (13/9/2026).
Menurut dia, kesadaran politik menjadi bagian penting dalam membentuk kader yang mampu membawa nilai-nilai IMM ke berbagai ruang pengabdian.
Kader Jadi Tulang Punggung Organisasi
Ketua Umum IMM Shabran, Nashiruddin Amin, menilai kader memiliki posisi strategis dalam kehidupan organisasi maupun masyarakat. Kader, kata dia, merupakan individu yang telah melalui proses pendidikan dan pembinaan sehingga memiliki kapasitas untuk mengambil peran dalam menentukan arah perubahan.
“Kader merupakan kelompok manusia yang terbaik karena telah terdidik dan terlatih. Ia menjadi inti atau tulang punggung dari kelompok yang lebih besar dan terorganisasi secara permanen. Karena itu, perlu adanya pendalaman terhadap nilai-nilai politik dalam diri kader,” ujar Nashir.
Ia mengatakan kebutuhan terhadap kader dengan nalar politik yang matang semakin penting, terutama karena kader IMM akan menghadapi ruang-ruang strategis di lingkungan kampus.
“Tahun depan, teman-teman akan mengambil peran di kampus, sehingga perlu mempersiapkan diri sejak sekarang,” tegasnya.
Nashir menekankan, keterlibatan kader dalam kehidupan politik kampus harus dibangun melalui pemahaman, sikap kritis, dan tanggung jawab. Dengan begitu, politik tidak sekadar dipahami sebagai perebutan posisi, tetapi sebagai ruang untuk memperjuangkan kemaslahatan.
Jangan Apatis terhadap Politik
Apresiasi terhadap Sekolah Rakyat juga disampaikan M. Fikri Azka, perwakilan Pimpinan Cabang IMM Sukoharjo. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi kader untuk memperluas perspektif sekaligus meningkatkan kapasitas dalam menghadapi dinamika sosial-politik.
“Semoga acara ini dapat menajamkan nalar politik para kader, sehingga muncul kesadaran yang dapat membawa cahaya perubahan di negeri ini,” ujar Azka.
Sementara itu, Ibnu Masngud, perwakilan Direktur Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS, mengingatkan kader Muhammadiyah agar memiliki kesadaran politik tanpa harus terjebak dalam politik praktis.
Ia mengatakan kader Muhammadiyah tidak dituntut seluruhnya masuk ke dalam politik praktis. Namun, sikap apatis terhadap persoalan politik juga bukan pilihan.
“Tidak semua orang harus terjun dalam politik praktis, akan tetapi sebagai kader Muhammadiyah kita tidak boleh apatis. Kader perlu menjaga integritas, moralitas, dan tetap memperhatikan khittah Muhammadiyah dalam setiap pergerakannya,” pungkas Ibnu.
Melalui Sekolah Rakyat, IMM Shabran UMS ingin membangun kader yang tidak hanya memiliki kapasitas intelektual, tetapi juga mampu membaca realitas politik secara kritis, menjaga integritas, serta menempatkan gerakan sebagai sarana menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. (*)


