28.7 C
Jakarta

Muhammad Taufiq: Muhammadiyah Harus Jadi Menara Api

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Ratusan warga Muhammadiyah mengikuti Jalan Sehat dan GowesMu yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Laweyan, Surakarta, Ahad (27/9/2026). Kegiatan yang mengambil momentum refleksi sejarah G30S/PKI itu berlangsung dengan titik start dan finis di Graha 58 Gedung Serba Guna Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jalan Dr. Wahidin, Purwosari, Kecamatan Laweyan.

 

Selain menjadi ajang olahraga dan silaturahmi, kegiatan tersebut dikemas sebagai ruang refleksi sejarah sekaligus penguatan nasionalisme. Warga Muhammadiyah Laweyan mengikuti jalan sehat dan GowesMu sebelum kegiatan dilanjutkan dengan orasi kebangsaan dan pengundian doorprize.

 

Sejumlah pimpinan Muhammadiyah turut hadir, di antaranya Ketua PDM Kota Surakarta KH Anwar Sholeh, KH Subari, HA Sukidi, H Rohani, Ketua LPCR PM PDM Kota Surakarta Azhari, H Sumanto, Ketua MPKSDI PDM Kota Surakarta Dr. Suyanto, Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta-Timur (UMJT) Prof. Sofyan Anif, H Bagus Sukatno, serta Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah HA Dahlan Rais.

 

Dalam kegiatan tersebut, pengacara asal Kota Surakarta Dr. Muhammad Taufiq, S.H., M.H., menyampaikan orasi yang menyoroti pentingnya memahami sejarah secara kritis dan menjaga nasionalisme.

 

Taufiq mengaitkan refleksi sejarah G30S/PKI dengan perjalanan Muhammadiyah dalam kehidupan kebangsaan. Menurut dia, Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan membangun kehidupan berbangsa.

 

Ia juga menyinggung sosok Panglima Besar Jenderal Sudirman yang memiliki kedekatan historis dengan Muhammadiyah. Dalam pandangannya, sejarah tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya bergerak dalam bidang keagamaan, tetapi juga memiliki kontribusi dalam perjalanan bangsa Indonesia.

 

Muhammadiyah Diminta Jadi “Menara Api”

 

Dalam orasinya, Taufiq juga mengingatkan Muhammadiyah agar kekuatan organisasi yang besar diterjemahkan menjadi manfaat sosial yang luas.

 

Ia menggunakan metafora “menara api”, bukan “menara gading”. Muhammadiyah, kata dia, harus menjadi penerang sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat luas tanpa membatasi diri berdasarkan status sosial maupun latar belakang penerima manfaat.

 

Menurut Taufiq, kekuatan Muhammadiyah semestinya tercermin melalui berbagai amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan kemanusiaan.

 

Ia mencontohkan kiprah lembaga pendidikan dan pelayanan Muhammadiyah di berbagai daerah yang juga memberikan manfaat kepada masyarakat non-Muslim.

 

“Menara api” dalam orasi tersebut dimaknai sebagai gambaran Muhammadiyah yang hadir untuk menerangi dan melayani masyarakat, sedangkan “menara gading” menggambarkan institusi yang eksklusif dan berjarak dari persoalan masyarakat.

 

Soroti Larangan Penyebaran Komunisme

 

Taufiq juga menyinggung aspek hukum dalam menyikapi ideologi komunisme di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa larangan terhadap penyebaran atau pengembangan paham komunisme/Marxisme-Leninisme memiliki dasar hukum, salah satunya Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966.

 

Ketetapan yang ditetapkan pada 5 Juli 1966 tersebut menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang dan melarang kegiatan untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran komunisme/Marxisme-Leninisme. Ketetapan itu kemudian dinyatakan tetap berlaku melalui Ketetapan MPR Nomor I/MPR/2003 dengan ketentuan pelaksanaannya memperhatikan keadilan, hukum, prinsip demokrasi, dan hak asasi manusia.

 

Karena itu, Taufiq menekankan pentingnya penegakan hukum sekaligus pemahaman sejarah yang bertanggung jawab.

 

Ia juga mengkritisi munculnya narasi dan produk budaya yang, menurut penilaiannya, berpotensi memunculkan kembali simbol maupun narasi yang berkaitan dengan PKI. Salah satu yang disinggung adalah film “Tujuh Setan Desa”, yang oleh Taufiq disebut sebagai contoh upaya yang perlu dicermati secara kritis.

 

Taufiq mengajak masyarakat tidak mudah menerima narasi sejarah tanpa melakukan pemeriksaan terhadap sumber dan konteksnya.

 

Sejarah Tak Sekadar Diingat, tetapi Dipahami

 

Bagi Taufiq, memperingati peristiwa sejarah bukan semata-mata mengulang cerita masa lalu. Sejarah perlu ditempatkan sebagai bahan pembelajaran agar masyarakat memahami perjalanan bangsa dan mampu menjaga nilai-nilai kebangsaan.

 

Ia juga mengingatkan pentingnya kualitas pendidikan dan kapasitas intelektual dalam memahami persoalan hukum, sejarah, dan kehidupan bernegara.

 

Dalam konteks Muhammadiyah, ia mendorong agar pendidikan tidak berhenti pada pencapaian gelar akademik, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki tanggung jawab sosial dan moral.

 

“Refleksi sejarah” dalam kegiatan PCM Laweyan tersebut pada akhirnya diarahkan pada kesadaran kolektif untuk menjaga persatuan, memahami hukum, memperkuat pendidikan, serta memperluas manfaat organisasi bagi masyarakat.

 

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan pengundian doorprize. Suasana kegiatan berlangsung meriah dengan kehadiran warga Muhammadiyah Laweyan yang menjadikan Jalan Sehat dan GowesMu bukan hanya sebagai aktivitas olahraga, tetapi juga momentum silaturahmi dan refleksi kebangsaan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!