MADIUN, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) menggelar Seminar Media dan Komunikasi bertajuk “Masa Depan Industri Komunikasi Menghadapi Disrupsi” di Kampus I UMJT, Senin (12/10/2026). Seminar ini membahas tantangan industri komunikasi di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), perubahan sosial politik, dan meningkatnya partisipasi publik dalam memproduksi informasi.
Kegiatan tersebut diikuti sivitas akademika UMJT serta sejumlah akademisi dari perguruan tinggi di wilayah Madiun Raya. Seminar menghadirkan Ketua Program Studi Media dan Komunikasi Program Magister UMY, Dr. Senja Yustitia, S.Sos., M.Si., sebagai narasumber.
Wakil Rektor I UMJT, Dr. Fajar Junaedi, M.Si., mengatakan seminar tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat iklim akademik sekaligus meningkatkan kerja sama ant perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu komunikasi.
“UMJT mengembangkan berbagai kegiatan akademik bagi mahasiswa, seperti seminar ini, agar mahasiswa merasakan iklim akademik. Ini menjadikan UMJT pilihan bagi mahasiswa,” ujar Fajar.
Menurutnya, forum ilmiah seperti seminar media dan komunikasi memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, bertukar gagasan, serta memahami perkembangan industri komunikasi yang terus berubah.
Disrupsi Komunikasi Tak Hanya Dipicu Teknologi
Senja Yustitia mengapresiasi penyelenggaraan seminar tersebut karena mengangkat tema disrupsi yang relevan dengan perkembangan industri komunikasi saat ini.
Ia menilai antusiasme mahasiswa dalam mengajukan pertanyaan, baik terkait materi utama maupun isu di luar tema, menunjukkan pentingnya forum ilmiah sebagai ruang pertukaran gagasan.
“Memang seperti itulah seharusnya forum ilmiah, harus mampu menampilkan dan merangsang keberagaman berpikir,” kata Senja.
Ia menambahkan, ruang diskusi semacam ini perlu diselenggarakan secara berkelanjutan agar semakin banyak orang dapat bertukar informasi dan mendiskusikan berbagai persoalan secara terbuka.
Dalam pemaparannya, Senja menjelaskan bahwa industri komunikasi merupakan sektor yang terbuka terhadap berbagai perubahan. Disrupsi tidak hanya dipicu oleh perkembangan teknologi, termasuk AI, tetapi juga dipengaruhi situasi sosial politik dan perubahan perilaku khalayak.
Ia menyoroti kondisi sosial politik Indonesia yang, menurut pandangannya, menunjukkan kecenderungan otoritarianisme, sementara kebebasan berekspresi mengalami stagnasi dan cenderung menurun.
Di sisi lain, masyarakat semakin aktif memproduksi dan mereproduksi pesan melalui beragam saluran komunikasi. Publik juga memiliki argumentasi, data, dan perspektif yang dapat berbeda dari informasi yang disampaikan media.
“Publik itu perlu kita lihat sebagai orang yang berada dalam lingkungan yang sama. Misalnya, ada satu informasi dari satu pihak, maka pihak itu jangan senang-senang dulu karena masyarakat juga punya data,” ujarnya.
Senja mencontohkan, ketika media merekonstruksi suatu peristiwa, media perlu menyadari bahwa masyarakat memiliki perspektif yang beragam. Karena itu, penyajian informasi tidak cukup hanya bertumpu pada satu sudut pandang.
Media Perlu Hadirkan Informasi Beragam
Senja menegaskan, media perlu mampu menghadirkan keberagaman informasi agar masyarakat memiliki ruang yang memadai untuk mengembangkan nalar kritis.
Menurut dia, informasi yang homogen berisiko membatasi perspektif publik dalam memahami suatu persoalan. Sebaliknya, informasi yang beragam membuka kesempatan bagi masyarakat untuk membandingkan sudut pandang, memeriksa argumentasi, dan membangun pemahaman yang lebih luas.
“Informasi itu mestinya bermacam-macam, beragam, diverse. Untuk itu, acara ini diadakan untuk membangun kesadaran bahwa ruang disrupsi di industri komunikasi itu sangat banyak. Bisa dari teknologi, situasi sosial politik, dan keberadaan khalayak,” terang Senja.
Ia menilai pemahaman terhadap perubahan tersebut penting bagi mahasiswa ilmu komunikasi. Selain memahami perkembangan teknologi, mahasiswa perlu mampu membaca dinamika masyarakat, mengenali keberagaman perspektif, serta terlibat dalam diskusi ilmiah yang mendorong pemikiran kritis.
Melalui seminar ini, UMJT dan UMY berharap tercipta ruang akademik yang mendorong pertukaran pengetahuan sekaligus memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai masa depan industri komunikasi di tengah disrupsi teknologi dan perubahan sosial. (PJ/*)

