SOLO, MENARA62.COM — Hujan bukan sekadar fenomena alam. Bagi petani dan masyarakat agraris, hujan menjadi penentu kehidupan, keberlangsungan pertanian, hingga stabilitas ekonomi keluarga. Karena itu, menghadapi kekeringan tidak cukup hanya dengan berdoa, tetapi juga membutuhkan introspeksi diri dan ikhtiar nyata menjaga lingkungan.
Pesan tersebut disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, saat bertugas sebagai khatib sekaligus imam di Masjid As-Syiar RRI Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (23/10/2026).
Dalam khotbahnya, Jatmiko mengangkat kandungan Surah Hud ayat 52 yang merekam seruan Nabi Hud AS kepada kaumnya agar memohon ampun dan bertobat kepada Allah SWT.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa permohonan ampun dan pertobatan menjadi jalan untuk memohon rahmat Allah, termasuk turunnya hujan dan bertambahnya kekuatan.
“Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang lebat kepadamu dan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu. Janganlah kamu berpaling menjadi orang-orang yang berdosa,” demikian kutipan Surah Hud ayat 52.
Istighfar Bukan Sekadar Ucapan
Jatmiko menegaskan, istighfar dan tobat tidak boleh berhenti sebagai ucapan di lisan. Keduanya harus diwujudkan melalui perubahan sikap, perilaku, dan kesungguhan memperbaiki diri.
Ia kemudian mengutip penjelasan Syekh Wahbah az-Zuhaili bahwa seruan Nabi Hud AS berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat yang membutuhkan air untuk menopang pertanian dan perekonomian.
Bagi masyarakat agraris, hujan bukan semata persoalan cuaca. Ketersediaan air berpengaruh langsung terhadap keberhasilan panen, penghasilan petani, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Meski demikian, Jatmiko mengingatkan agar pesan ayat tersebut tidak ditafsirkan secara serampangan, terutama ketika menghubungkan kekeringan dengan dosa manusia.
“Setiap kemarau tidak serta-merta menjadi bukti bahwa Allah sedang menghukum manusia karena dosa tertentu. Kekeringan juga memiliki sebab-sebab alamiah dan klimatologis. Introspeksi jauh lebih penting daripada sibuk menuding orang lain,” tegasnya.
Menurut dia, pesan keagamaan tentang istighfar seharusnya mendorong manusia untuk mengevaluasi diri, bukan menghakimi orang lain yang sedang menghadapi kesulitan.
Doa Harus Diiringi Ikhtiar Menjaga Air
Jatmiko juga menekankan bahwa doa perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar. Dalam Islam, salah satu ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan adalah melaksanakan salat istisqa.
Namun, upaya tersebut perlu disertai tanggung jawab nyata dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat harus menjaga sumber air, menghemat penggunaan air bersih, merawat lingkungan, serta membantu warga yang mengalami kesulitan akibat kekeringan.
“Doa adalah permohonan kepada Allah, sedangkan ikhtiar adalah kesungguhan manusia menggunakan kemampuan yang telah Allah berikan,” urainya.
Pesan tersebut menegaskan pentingnya keseimbangan antara ikhtiar spiritual dan tindakan nyata. Manusia memohon pertolongan Allah SWT, sekaligus berusaha mengatasi persoalan dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki.
Dalam konteks kekeringan, menjaga lingkungan dan menggunakan air secara bijak menjadi bagian penting dari tanggung jawab bersama. Ketersediaan air tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menyangkut pertanian, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat.
Tobat Juga Berarti Bertanggung Jawab terhadap Alam
Lebih jauh, Jatmiko mengajak umat Islam memahami pertobatan sebagai proses perbaikan diri yang berdampak luas, termasuk dalam hubungan manusia dengan alam dan sesama.
Tobat, menurut pesan yang disampaikannya, semestinya melahirkan kepedulian, tanggung jawab, serta kesediaan memperbaiki perilaku yang merugikan lingkungan maupun orang lain.
Dengan demikian, menghadapi kekeringan bukan hanya persoalan memohon turunnya hujan, melainkan juga momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap kelestarian alam dan solidaritas sosial.
“Hujan memang tidak berada dalam kendali manusia. Namun, menjaga air, merawat bumi, dan menolong sesama merupakan bagian dari tanggung jawab manusia, peduli agama, sistem, manusia dan lingkungan,” pungkasnya.
Pesan khotbah tersebut menjadi pengingat bahwa istighfar, doa, dan ikhtiar bukanlah hal yang saling menggantikan. Ketiganya perlu berjalan beriringan agar manusia tidak hanya berharap pada pertolongan Allah SWT, tetapi juga menjalankan tanggung jawabnya dalam menjaga kehidupan. (*)
