SOLO, MENARA62.COM – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penelitian dan Riset Ilmiah Mahasiswa (PRISMA) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mendorong mahasiswa berperan aktif menciptakan inovasi berkelanjutan dan mengembangkan jiwa kewirausahaan. Upaya tersebut diwujudkan melalui Seminar Nasional Pekan Ilmiah dan Penalaran Mahasiswa (PENA) 8.0 yang mengangkat tema Youth-Driven Sustainability.
Seminar nasional yang digelar pada Minggu (18/10/2026) tersebut menjadi puncak rangkaian PENA 8.0. Sebelumnya, kegiatan ini telah menghadirkan kompetisi Lomba Esai dan Business Plan Competition (BPC) sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan dan solusi inovatif bagi masyarakat.
Ketua Pelaksana PENA 8.0, Wendy Yossamodra, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan ruang kepada mahasiswa dalam menyampaikan ide sekaligus menawarkan solusi yang memiliki manfaat nyata.
“Kegiatan ini berangkat dari mahasiswa yang memiliki ide. Melalui tema yang diusung, kami mengajak mahasiswa untuk menghadirkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Wendy, Senin (2/11/2026).
Ketua Umum UKM PRISMA UMS, Muhammad Daffa Luthfi Bahtiar, menjelaskan bahwa tema PENA 8.0 merupakan upaya mendorong kontribusi mahasiswa terhadap pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kontrol sosial yang dapat berkontribusi dalam mendukung agenda Asta Cita. Peran tersebut perlu diwujudkan melalui tindakan dan gagasan yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
“Sebagai mahasiswa, kita dapat menjalankan peran kontrol sosial tersebut dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Pembina UKM PRISMA UMS, Muhammad Al Fatih Hendrawan, S.T., M.T., mengapresiasi keberhasilan PRISMA dalam menyelenggarakan kompetisi berskala nasional. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang pengembangan kapasitas mahasiswa sekaligus mendorong lahirnya perubahan positif.
Ia juga mengajak mahasiswa untuk terus berimprovisasi, mengembangkan potensi, dan menghasilkan berbagai inovasi yang mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Apresiasi serupa disampaikan Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta Inovasi (DKPTI) UMS, Ahmad Kholid Al Ghofari, S.T., M.T. Menurutnya, PRISMA tidak hanya aktif mengirimkan anggotanya mengikuti berbagai perlombaan, tetapi juga mampu menjadi penyelenggara kompetisi nasional.
“PRISMA tidak hanya menjadi UKM yang mengikuti lomba, tetapi juga menyelenggarakan lomba. Tahun ini PRISMA juga lolos PPK Ormawa. Tentu event seperti ini merupakan capaian yang luar biasa. Para ketua dan pemimpin organisasi inilah yang harus terus dijaga,” tuturnya.
Kuliah Tak Cukup, Mahasiswa Harus Punya Keterampilan
Dalam seminar tersebut, panitia menghadirkan Samuel Lie, Founder & CEO Zypia, kreator konten edukasi, sekaligus penerima beasiswa fully-funded di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia dikenal telah mengisi lebih dari 100 acara sebagai pembicara publik.
Sesi talkshow interaktif dipandu Agita Asri K., Mahasiswa Berprestasi (Mapres) FKIP UMS 2026 sekaligus Co-Founder SandarKami.
Samuel membuka pemaparannya dengan pertanyaan provokatif, “Kuliah itu scam?” Ia kemudian menjelaskan bahwa esensi dari pertanyaan tersebut bukan untuk meragukan pendidikan tinggi, melainkan mengajak mahasiswa memahami bahwa kuliah merupakan jembatan untuk mengeksplorasi diri dan mengembangkan kompetensi.
Ia menyoroti tantangan dunia kerja yang perlu menjadi perhatian mahasiswa. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan dalam seminar, terdapat sekitar 2,5 juta lulusan sarjana setiap tahun, sedangkan sekitar 1,03 juta di antaranya terserap ke dunia kerja per tahun.
Kondisi tersebut, menurut Samuel, menunjukkan bahwa gelar akademik saja tidak otomatis menjamin masa depan seseorang. Mahasiswa perlu membangun keterampilan, pengalaman, dan kapasitas diri agar mampu menghadapi persaingan.
Ia menghubungkan hal tersebut dengan agenda Asta Cita, khususnya peningkatan kualitas pendidikan atau quality education. Mahasiswa juga didorong mengambil peran sebagai agent of change dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Samuel mengingatkan bahwa prestasi akademik tetap penting, tetapi mahasiswa sebaiknya tidak berhenti mengejar nilai. Kemampuan lain, seperti kepemimpinan, komunikasi, kreativitas, dan keterampilan profesional, juga perlu dikembangkan.
Dalam sesi Study Smart Time Management, ia memperkenalkan Prinsip Pareto 80:20, yakni gagasan bahwa 80 persen hasil dapat diperoleh dari 20 persen usaha yang tepat sasaran.
Ia juga menjelaskan pentingnya memahami proses kerja otak dalam belajar. Menurutnya, proses belajar tidak cukup hanya dengan memasukkan informasi (encoding), tetapi harus dilanjutkan dengan kemampuan mengingat kembali informasi (retrieval) agar tersimpan lebih kuat dalam memori jangka panjang.
Bangun Bisnis dari Keberanian Memulai
Selain manajemen waktu dan strategi belajar, Samuel membahas pentingnya pola pikir kewirausahaan atau entrepreneurial mindset.
Ia mengajak mahasiswa keluar dari zona nyaman, mengembangkan high value skill, serta berani memulai sesuatu meskipun belum memiliki sumber daya yang memadai.
Menurutnya, keberhasilan dalam berwirausaha tidak selalu dimulai dari kondisi ideal. Keberanian mencoba, konsistensi, dan kesiapan menghadapi kegagalan menjadi bagian penting dalam membangun usaha.
Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta menanyakan awal mula pendirian Zypia. Samuel menjelaskan bahwa Zypia merupakan platform pembelajaran bagi generasi Z, antara lain untuk membantu persiapan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Platform tersebut memiliki fitur pembeda berupa smart scrolling.
“Platform ini dibangun dengan modal nekat tanpa uang sepeser pun, tetapi didukung konsistensi sejak awal,” kata Samuel.
Peserta lainnya, Ardafa, mempertanyakan efektivitas formula kesuksesan individu ketika persoalan ekonomi menjadi salah satu hambatan utama mahasiswa generasi Z untuk memperoleh pekerjaan.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Samuel mengakui bahwa faktor keberuntungan juga memiliki peran. Namun, menurutnya, kesiapan individu perlu berjalan beriringan dengan dukungan sistem yang memungkinkan seseorang mengembangkan potensinya.
Menutup sesi seminar, Samuel berpesan agar mahasiswa tidak terjebak dalam zona nyaman. Ia mengajak peserta menemukan jati diri, mengembangkan keterampilan bernilai tinggi, dan membangun kemampuan yang dapat menjadi bekal menghadapi perubahan dunia.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa mahasiswa perlu menjadikan masa kuliah sebagai momentum untuk bereksplorasi, berinovasi, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.
Melalui PENA 8.0, UKM PRISMA UMS berharap semakin banyak mahasiswa yang tidak hanya mampu menghasilkan gagasan, tetapi juga berani mengimplementasikannya menjadi inovasi dan peluang kewirausahaan yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. (*)

