SOLO, MENARA62.COM – Dosen Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Dr. Ainur Rhain, M.Th.I., bersama tim peneliti berhasil mengungkap temuan baru mengenai manuskrip mushaf Al-Qur’an peninggalan Kasunanan Surakarta yang diperkirakan berusia lebih dari 200 tahun. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal internasional ZAD Al-Mufassirin Volume 8 Nomor 1 Tahun 2026 melalui artikel berjudul ‘Manuscript of the Qur’an of the Kasunan Palace of Surakarta (coded MAA.001): A Historical-Philological Study of Writing Errors and Their Implications for Interpretation’.
Penelitian tersebut menjadi salah satu kajian penting mengenai tahqiq manuskrip Al-Qur’an Nusantara dengan memadukan pendekatan filologi, kodikologi, paleografi, dan ilmu qira’at. Objek penelitian adalah manuskrip mushaf berkode MAA.001 yang tersimpan di Perpustakaan Masjid Agung Kasunanan Surakarta, salah satu koleksi manuskrip Islam bersejarah di Indonesia.
Berdasarkan hasil kajian, manuskrip tersebut diperkirakan ditulis pada rentang tahun 1780–1820 Masehi, bertepatan dengan berkembangnya tradisi intelektual Islam di lingkungan Keraton Surakarta. Temuan ini memperkuat posisi manuskrip sebagai bagian penting dari sejarah perkembangan ilmu Al-Qur’an di Nusantara.
Dalam penelitian tersebut, tim menemukan sejumlah kesalahan penyalinan (scribal errors) pada Surah At-Taubah ayat 81, 83, dan 84. Kesalahan yang ditemukan berupa perubahan huruf maupun harakat yang berpotensi memengaruhi makna ayat apabila tidak ditelaah secara ilmiah.
Namun demikian, Ainur Rhain menegaskan bahwa seluruh kesalahan tersebut bukan berasal dari perbedaan qira’at yang sahih, melainkan kesalahan teknis yang terjadi saat proses penyalinan manuskrip.
“Warisan manuskrip Al-Qur’an Nusantara bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga sumber pengetahuan yang sangat berharga untuk memahami perjalanan transmisi Al-Qur’an di Indonesia. Kajian ilmiah seperti ini menjadi bagian penting dalam menjaga keakuratan teks Al-Qur’an sekaligus melestarikan khazanah intelektual Islam Indonesia,” ungkapnya, Kamis, (23/7/2026).
Selain itu, penelitian juga menemukan adanya percampuran penggunaan rasm imlā’ī dengan rasm ‘Utsmānī, disertai inkonsistensi ortografi pada beberapa bagian manuskrip. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa standardisasi penyalinan mushaf di Nusantara pada akhir abad ke-18 belum berlangsung secara seragam. Variasi tulisan yang ditemukan lebih mencerminkan dinamika sejarah transmisi teks daripada adanya perbedaan bacaan Al-Qur’an.
Temuan lain yang tak kalah penting adalah fungsi manuskrip tersebut yang tidak hanya digunakan sebagai kitab suci untuk ibadah, tetapi juga berperan sebagai media pendidikan Al-Qur’an, simbol legitimasi religius Kesunanan Surakarta, sekaligus pusat transmisi ilmu keislaman di lingkungan Masjid Agung Surakarta.
Hal itu diperkuat dengan keberadaan catatan pinggir (marginal notes) pada manuskrip yang menunjukkan bahwa mushaf tersebut aktif dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran, proses tashih, hingga kajian Al-Qur’an pada masanya.
Menurut Ainur Rhain, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam upaya pelestarian manuskrip Islam Indonesia. Kajian tahqiq diperlukan untuk memastikan keaslian teks, merekonstruksi sejarah perkembangan ilmu Al-Qur’an di Nusantara, sekaligus menjadi landasan penyusunan edisi kritis manuskrip dan kebijakan konservasi naskah kuno di Indonesia.
Ia berharap hasil penelitian tersebut dapat menjadi rujukan bagi akademisi, filolog, pemerhati manuskrip, maupun lembaga pelestarian budaya dalam mengembangkan studi manuskrip Al-Qur’an Nusantara. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Al-Qur’an di Jawa telah berkembang secara dinamis serta memiliki jaringan intelektual yang kuat dengan pusat-pusat keilmuan Islam dunia sejak akhir abad ke-18. (*)
