SOLO, MENARA62.COM – Puskesmas Gajahan Dinas Kesehatan Kota Surakarta memperkuat kolaborasi dengan sekolah melalui kegiatan Sosialisasi dan Koordinasi Pelayanan Program Anak Usia Sekolah dan Remaja yang digelar di Puskesmas Gajahan, Kamis (23/7/2026). Kegiatan ini diikuti guru dari sekolah binaan Puskesmas Gajahan, mulai jenjang SD hingga SMP, sebagai upaya menyamakan persepsi dalam pelaksanaan program kesehatan peserta didik.
Melalui kegiatan tersebut, Puskesmas Gajahan menegaskan pentingnya sinergi antara sektor kesehatan dan pendidikan agar berbagai program promotif serta preventif dapat berjalan optimal tanpa mengganggu proses belajar mengajar.
Kepala Subbagian Tata Usaha Puskesmas Gajahan, Rini Styaningsih, Amd.Keb., yang mewakili Kepala Puskesmas Gajahan, mengatakan pelayanan kesehatan bagi anak usia sekolah kini tidak lagi berfokus pada pengobatan saat sakit, melainkan mengedepankan upaya pencegahan melalui skrining kesehatan, imunisasi, dan deteksi dini.
“Paradigma pelayanan kesehatan sudah berubah. Sekarang kami lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif agar anak-anak tetap sehat, sehingga dapat belajar dan berkembang secara optimal,” ujarnya.
Menurut Rini, salah satu tantangan yang dihadapi adalah penyesuaian jadwal pelaksanaan program kesehatan dengan padatnya agenda sekolah. Karena itu, komunikasi dan koordinasi yang baik antara Puskesmas dan pihak sekolah menjadi faktor penting agar seluruh kegiatan dapat terlaksana secara efektif.
Dalam sosialisasi tersebut, guru mendapatkan penjelasan mengenai berbagai program kesehatan yang akan dilaksanakan sepanjang tahun. Program tersebut meliputi Cek Kesehatan Lengkap (CKG) bagi peserta didik, Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), pemberian obat cacing, serta pemeriksaan kadar hemoglobin bagi siswa kelas VII dan kelas X sebagai bagian dari deteksi dini anemia.
Selain itu, Puskesmas Gajahan juga memperkenalkan sistem sertifikasi sekolah sehat melalui aplikasi Microset. Sistem tersebut digunakan untuk mengukur capaian sekolah berdasarkan sejumlah indikator kesehatan dengan klasifikasi mulai dari strata minimal hingga paripurna.
Rini menjelaskan, penerapan sistem berbasis data tersebut diharapkan mampu mendorong sekolah terus meningkatkan kualitas lingkungan belajar yang sehat sekaligus menjadi bahan evaluasi dalam penyelenggaraan program kesehatan.
“Melalui aplikasi ini, sekolah dapat mengetahui posisi capaian kesehatan mereka sehingga dapat terus melakukan perbaikan secara berkelanjutan,” katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan program kesehatan sekolah tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan aktif dari kepala sekolah dan para guru.
Menurutnya, guru memiliki peran strategis sebagai pendamping sekaligus motivator bagi peserta didik agar bersedia mengikuti berbagai kegiatan pemeriksaan kesehatan, imunisasi, maupun edukasi kesehatan yang dilaksanakan di sekolah.
“Kami berharap guru dapat menjadi mitra utama Puskesmas dalam menyukseskan program kesehatan anak usia sekolah. Dengan kolaborasi yang kuat, kita dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat secara fisik maupun mental,” ujarnya.
Melalui koordinasi ini, Puskesmas Gajahan berharap seluruh sekolah binaan semakin siap mengimplementasikan program kesehatan secara terintegrasi. Sinergi antara tenaga kesehatan dan dunia pendidikan diharapkan mampu menciptakan lingkungan sekolah yang sehat, meningkatkan kualitas tumbuh kembang peserta didik, serta mendukung lahirnya generasi yang unggul, sehat, dan berdaya saing. (*)
