SUKOHARJO, MENARA62.COM – Ribuan jamaah mengikuti Kajian Ahad Pagi di Pondok Modern Imam Syuhodo, Blimbing, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Ahad (6/9/2026).
Kajian yang berlangsung pukul 06.00–07.30 WIB itu menghadirkan Prof. Dr. Ir. Suranto, S.T., M.M., M.Si., IPU sebagai pemateri. Ia mengangkat tema “Al-Qur’an: Pedoman Ibadah, Sumber Keberkahan, dan Jalan Menebar Manfaat.”
Jamaah yang hadir berasal dari berbagai kalangan, mulai dari santri putra dan putri Pondok Modern Imam Syuhodo, orang tua santri, hingga masyarakat sekitar.
Prof. Suranto menyampaikan materi dengan gaya komunikatif dan jenaka. Metode penyampaian mengadopsi pendekatan PAIMIN dan PAIKEM GEMBROT, yakni pembelajaran aktif, imajinatif, inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan, gembira, dan berbobot.
Untuk membuat materi lebih mudah dipahami, ia juga menyisipkan sulap edukatif yang relevan dengan pesan kajian.
Dalam pemaparannya, Prof. Suranto menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, keberagamaan tidak cukup hanya diwujudkan melalui aktivitas ritual, tetapi harus tercermin dalam akhlak dan manfaat yang diberikan kepada sesama.
Aqidah sebagai Akar Kehidupan
Prof. Suranto mengibaratkan aqidah sebagai akar sebuah pohon. Semakin kuat akar, semakin kokoh batang dan semakin baik buah yang dihasilkan.
Demikian pula manusia. Ketika tauhid dan keyakinan kepada Allah SWT kokoh, seseorang tidak mudah goyah ketika menghadapi tekanan kehidupan.
“Ketika berada dalam kesempitan, tetap beriman. Ketika mendapatkan kelapangan, tetap berjuang. Ketika tidak memiliki harta, tidak menjual kehormatan. Ketika menghadapi ujian, tidak menggadaikan iman,” demikian pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.
Ia mengingatkan jamaah agar menjaga aqidah dengan berpegang pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, belajar dari sumber ilmu yang benar, menjauhi syirik, memperkuat tauhid, serta menghindari sikap berlebih-lebihan dalam beragama dan taklid buta.
Sikap tenang dan bijaksana juga diperlukan. Jamaah diingatkan agar tidak mudah menghakimi atau mengkafirkan orang lain.
“Yang penting adalah terus berdoa agar Allah SWT memberikan istiqamah. Sebab, bukan hanya memulai kebaikan yang penting, tetapi mampu mempertahankannya sampai akhir kehidupan,” pesan Prof. Suranto.
Ibadah Bukan Sekadar Ritual
Materi kemudian diarahkan pada hakikat ibadah sebagai tujuan utama kehidupan manusia. Prof. Suranto mengutip QS. Adz-Dzariyat ayat 56 yang menjelaskan bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Menurutnya, ibadah tidak hanya berupa aktivitas ritual, tetapi merupakan bentuk penghambaan kepada Allah dengan menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya.
Ia menjelaskan, ibadah secara umum dapat dibedakan menjadi ibadah mahdhah, seperti salat, puasa, zakat, dan haji, serta ibadah ghairu mahdhah yang mencakup berbagai aktivitas kehidupan yang bernilai ibadah ketika dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai syariat.
Karena itu, ibadah seharusnya berdampak terhadap perilaku seseorang.
Ibadah idealnya membuat seseorang semakin baik akhlaknya, semakin jujur, amanah dalam pekerjaan, lembut hatinya, dan semakin besar manfaatnya bagi orang lain.
Prof. Suranto juga mengajak jamaah menjadikan ibadah sebagai sarana muhasabah. Setiap orang perlu mengevaluasi apa yang dilakukan, siapa yang telah dibantu, apakah ucapannya menyakiti orang lain, serta apakah harta dan waktunya digunakan untuk hal-hal yang baik.
“Jangan menunggu tua untuk memperbanyak ibadah. Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu sempit untuk menyadari betapa berharganya kesempatan,” pesannya.
Kesalehan Harus Berdampak
Pesan berikutnya yang ditekankan adalah pentingnya amal saleh yang memberikan dampak bagi kehidupan sosial.
Jika aqidah diibaratkan sebagai akar dan ibadah sebagai batang serta ranting, maka akhlak dan amal saleh merupakan daun, bunga, dan buahnya.
“Pohon yang baik bukan hanya memiliki akar yang kuat, tetapi juga menghasilkan buah yang dapat dinikmati. Begitu pula seorang Muslim. Iman yang kuat dan ibadah yang benar semestinya melahirkan amal saleh yang memberikan manfaat,” jelasnya.
Ia mengajak jamaah memperhatikan lingkungan terdekat, terutama orang tua, saudara, kerabat, anak yatim, fakir miskin, lansia, janda yang hidup dalam keterbatasan, serta mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Kesalehan pribadi, menurut dia, tidak boleh membuat seseorang mengabaikan kesalehan sosial.
“Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi tetangga kita kelaparan dan kita tidak peduli. Jangan sampai kita fasih berbicara tentang agama, tetapi orang tua kita justru merasa kesepian,” katanya.
Kepedulian kepada sesama disebut sebagai salah satu buah dari iman. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semestinya semakin peka pula terhadap persoalan dan penderitaan orang lain.
Al-Qur’an sebagai Pedoman dan Perisai
Di bagian akhir kajian, Prof. Suranto mengajak jamaah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman sekaligus perisai kehidupan.
Jamaah tidak cukup hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga perlu memahami maknanya, mentadaburi pesan-pesannya, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan berhenti pada tahu. Naikkan menjadi paham. Jangan berhenti pada paham. Naikkan menjadi amal. Dan jangan berhenti pada amal pribadi. Dorong agar amal itu menjadi manfaat bagi sesama,” ujarnya.
Ia kemudian mengajak jamaah melakukan evaluasi diri. Apakah Al-Qur’an telah mengubah pribadi masing-masing? Apakah seseorang yang dahulu mudah marah kini menjadi lebih sabar? Apakah yang dahulu egois kini lebih peduli? Apakah yang dahulu mudah mengeluh kini lebih banyak bersyukur?
Jika perubahan itu belum terasa, perjalanan memperbaiki diri masih panjang.
Kajian Ahad Pagi tersebut ditutup dengan ajakan untuk terus berjalan bersama Al-Qur’an dengan menguatkan iman, menjalankan ibadah secara ikhlas, melakukan amal nyata, dan menebarkan manfaat kepada sesama.
Pesan utamanya, keberkahan hidup tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang dimiliki seseorang, tetapi juga dari seberapa besar kebaikan yang dapat diberikan kepada orang lain. (*)
