YOGYAKARTA,MENARA62.COM
Kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta dipenuhi para pelajar Muhammadiyah pada Sabtu (5/9). Sebanyak 1.000 siswa SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA Muhammadiyah se-DIY berkumpul bersama guru dan tokoh persyarikatan untuk melantunkan tembang macapat secara massal. Aksi ini menjadi pembuka Pekan Kebudayaan Muhammadiyah sekaligus penanda awal perjalanan menuju Milad ke-114 Persyarikatan Muhammadiyah yang puncaknya pada November 2026.
Diinisiasi oleh Lembaga Seni Budaya (LSB) PWM DIY, agenda ini berkolaborasi dengan Majelis Dikdasmen & Pendidikan Nonformal (PNF) PWM DIY, PW Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) DIY, serta didukung Dinas Kebudayaan DIY melalui Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) dan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta lewat gerakan Setu Sinau Malioboro. Acara ini juga beriringan dengan perayaan Mangayubagya 14 Tahun UU Keistimewaan.
Dalam agenda ini, para siswa dengan khidmat menembangkan empat jenis macapat: Kinanthi Mangu, Gambuh Jiwa Jawi, Mijil Raramanglung, dan Pocung. Ada dua tembang macapat yang ditulis langsung oleh kader IPM DIY, yaitu Kinanthi Mangu dan Gambuh Jiwa Jawi.
Ketua LSB PWM DIY, Dian Korprianing Nugraha, S.S., S.Pd., M.Pd. menyampaikan bahwa agenda ini digarap secara paralel untuk memperkuat ekosistem kebudayaan di kawasan Malioboro dan sekitarnya.
“Ini adalah event yang dilaksanakan secara paralel dengan FKY yang digelar Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Setu Sinau Malioboro Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Agenda ini sejalan dengan Mangayubagya 14 tahun UU Keistimewaan dan berlangsungnya FKY tahun 2026 dengan tema AKSARA,” papar Dian.
Sementara itu, Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PWM DIY, Achmad Muhamad, M.Ag. menekankan bahwa acara ini menjadi langkah nyata Muhammadiyah mendukung Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) yang dicanangkan Sri Sultan Hamengkubuwono X.
“Agenda Macapat 1000 Pelajar Muhammadiyah bagian dari kampanye Muhammadiyah mendukung total program dari Dinas Kebudayaan atau program dari Pemprov DIY terkait dengan pembelajaran khusus budaya Jogja, salah satunya dengan mengenalkan pelajar Muhammadiyah kepada macapat,” ucapnya.
Wakil Ketua PWM DIY, Dr. Iwan Setiawan, M.S.I., menegaskan bahwa kehadiran 1.000 pelajar Muhammadiyah pada momen ini membawa pesan simbolis yang kuat ke publik.
“Ini bukti bahwasanya Muhammadiyah itu tidak anti-seni dan tidak anti-budaya. Lewat macapat, kita kenalkan bahwa di dalam macapat ada nilai-nilai kebaikan, nasihat untuk giat belajar, menghormati orang tua, dan mengenal sejarah,” jelas Iwan.
Ia menambahkan, Muhammadiyah adalah bagian dari pilar Keistimewaan DIY bersama Keraton, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Tamansiswa. Oleh karena itu, keistimewaan Yogyakarta harus dibalas dengan kontribusi dan aktivitas yang positif, salah satunya melalui macapat yang dilantunkan 1000 Pelajar Muhammadiyah pada kesempatan ini.
Melihat antusiasme pelajar dan masyarakat, Iwan berharap kegiatan ini tak berhenti di sini. Ia menargetkan gelaran serupa bisa melibatkan 5.000 hingga 10.000 pelajar pada tahun depan sebagai menjelang Muktamar ke-49 Muhammadiyah tahun 2027.
Dukungan penuh juga datang dari LSB PP Muhammadiyah. Dr. Sarjilah, M.Pd., selaku Wakil Ketua 3, menilai seni tradisi sangat efektif dalam membina karakter generasi muda sekaligus menggerakkan massa secara positif. Pihaknya membuka ruang seluas-luasnya bagi LSB di seluruh Indonesia untuk menggali potensi budaya daerah masing-masing.
Lalu, Ketua Umum PW IPM DIY, Syauqi Marsa Taqiyuddin, menyambut baik kolaborasi lintas lembaga dan komunitas ini. Menurutnya, pendekatan budaya sangat krusial untuk membentengi pelajar di tengah kompleksitas era digital.
“Melalui macapat bersama ini, kita mengenalkan kembali akar budaya Yogyakarta kepada generasi muda. Apalagi ada karya tembang dari kader sendiri, ini membuktikan bahwa potensi kesenian di kalangan pelajar terus kita beri ruang untuk tumbuh,” pungkas Syauqi.
