24.8 C
Jakarta

Kolaborasi Kapitalisme Perdagangan dan Religius Hasilkan Kesejahteraan

Baca Juga:

YOGYAKARTA,MENARA62.COM — Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Dr H Kasiyarno MHum menandaskan kolaborasi kapitalisme perdagangan dan religius dapat menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat. Selama ini, kapitalisme perdagangan dan kapitalisme religius masih berjalan sendiri-sendiri.

Rektor UAD Yogyakarta mengatakan hal tersebut saat membuka Bedah Buku ‘Arab, Kuno, dan Islam : Dari Kapitalisme Perdagangan ke Kapitalisme Religius’ karya Dr Suwarsono Muhammad di Kampus IV UAD Jalan Ring Road Selatan Yogyakarta, Sabtu (3/1/2018). Pembedah buku Prof Dr Musa Asy’arie dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Dr Yoyo Bin H Ardi Tahir, dosen UAD Yogyakarta.

Dijelaskan Kasiyarno, kapitalisme identik dengan seseorang atau sejumlah menanamkan modal dan mendirikan perusahaan. Mereka mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya bagi pribadi tanpa mempedulikan lingkungan.

“Kapitalisme sudah merebak di mana-mana. Bahkan Indonesia juga sudah dikuasi kaum kapitalis yang membuat lingkungan menjadi rusak dan kesejahteraan masyarakat rendah,” katanya.

Sedang kapitalisme religius, kata Kasiyarno, seseorang atau sejumlah orang yang memiliki ilmu agama luas. Namun mereka hanya fokus pada kegiatan keagamaan seperti ibadah dan berdoa untuk kehidupan setelah mati. Mereka tidak mempedulikan lingkungan sehingga keberadaan ahli agama tidak membawa kesejahteraan masyarakat di dunia.

“Jika kapitalisme perdagangan dan kapitalisme religius ini dikolaborasikan, saya kira dapat menghasilkan kesejahteraan masyarakat,”tandas Kasiyarno.

Sedang Suwarsono Muhammad menjelaskan latar belakang penulisan buku tersebut adalah kemunduran perekonomian Amerika Serikat dan kemajuan ekonomi Cina. Hal ini ditandai dengan adanya krisis Amerika Serikat. “Presiden Donald Trump bisa terpilih karena mempunyai janji ‘Make America Great Again’ (membuat Amerika kembali besar,red),” kata Suwarsono.

Sedang Cina hanya membutuhkan waktu kurang dari 50 tahun, dapat menciptakan akselerasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dari perkembangan ekonomi politik ini muncul istilah Chimerica atau dunia akan berada dalam genggaman kekuasan Cina dan Amerika.

Sementara Musa Asy’arie mengatakan otentisitas buku ini terletak pada jalan tengah yang damai kapitalisme religius. Jalan tengah ekonomi politik adalah model kapitalisme plus keadilan ekonomi, etik, dan melibatkan negara sebagai bentuk kapitalisme religius.

“Apakah religi bisa membingkai kapitalisme? Sehingga dampak buruk kapitalisme, seperti mempertajam kesenjangan, ketidakadilan ekonomi, kurangnya pemerataan ekonomi, membela kaum yang lemah dan komitmen pada etika dapat diwujudka?” tanya Musa Asy’arie.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!