Oleh: Joko Intarto
JAKARTA, MENARA62.COM – Pekan lalu berlangsung Festival Kopi di Surabaya. Saya meminta tolong Mbak Ita Siti Nasyiah, sahabat saya di Jawa Pos, untuk membelikan salah satu yang direkomendasikan. Hari ini, Kopi Kemiren asli Banyuwangi dengan merek Jaran Goyang itu akhirnya tiba. Berikut ulasan saya.
KEMASAN
Kesan pertama saat melihat kemasan Kopi Kemiren Jaran Goyang adalah nuansa lokal Banyuwangi yang sangat kuat. Warna hitam yang dipadukan dengan aksen emas memberikan kesan elegan, sementara cerita tentang Desa Adat Kemiren dan budaya Osing menjadi nilai tambah yang membedakan produk ini dari kopi kemasan pada umumnya.
Saya juga mengapresiasi upaya produsen memperkenalkan asal-usul nama “Jaran Goyang” sekaligus menjelaskan bahwa kopi ini berasal dari biji Arabika pilihan dari kawasan Gunung Ijen dan Gunung Raung. Bagi penikmat kopi, cerita di balik secangkir kopi seperti ini membuat produk terasa lebih hidup dan memiliki karakter.
Dari sisi teknis, informasi pada kemasan sudah cukup memadai. Komposisinya ditulis dengan jelas, yakni 100 persen kopi Arabika. Cara penyeduhan juga dijelaskan cukup rinci, mulai dari suhu air sekitar 90 derajat Celsius, rasio kopi dan air 1:15, hingga teknik blooming selama 30 detik. Panduan ini sangat membantu, terutama bagi penikmat kopi yang baru mulai mencoba metode manual brew.
Namun, jika ingin bersaing di pasar kopi premium atau specialty coffee, masih ada beberapa informasi penting yang sebaiknya ditambahkan. Misalnya tingkat sangrai (roast level), profil cita rasa (flavor notes), proses pascapanen (misalnya natural, full wash, atau honey process), varietas kopi, ketinggian kebun, serta tanggal sangrai (roasting date). Informasi tersebut kini menjadi acuan banyak pencinta kopi dalam memilih produk yang sesuai dengan selera mereka.
Akan lebih baik lagi jika kemasan juga mencantumkan tingkat kehalusan gilingan (grind size), metode seduh yang paling direkomendasikan, serta petunjuk penyimpanan setelah kemasan dibuka agar kualitas kopi tetap terjaga.
Secara keseluruhan, kemasan Kopi Kemiren Jaran Goyang telah berhasil menampilkan identitas daerah asal sekaligus memberikan panduan penyeduhan yang baik.
Namun, masih ada ruang untuk penyempurnaan agar mampu memenuhi ekspektasi para pencinta kopi yang semakin kritis. Dengan melengkapi informasi tersebut, produk ini tidak hanya menjual kopi, tetapi juga pengalaman menikmati kopi Banyuwangi secara lebih utuh.
TES RASA
Dari sisi aroma, Jaran Goyang memiliki karakter yang cukup unik dan dominan. Saya menangkap aroma brown sugar, nutty, caramel, dan chocolate. Kemungkinan besar, inilah karakter alami kopi tersebut.
Soal rasa, Jaran Goyang menawarkan manis alami yang mengingatkan pada gula aren dan karamel. Penikmat kopi tanpa gula hampir pasti dapat merasakan sensasi manis alami ini tanpa perlu tambahan pemanis.
Acidity atau tingkat keasamannya juga cukup menonjol, sebagaimana lazimnya kopi Arabika. Karakter asamnya mengingatkan pada lemon dan nanas. Rasanya segar, cerah, namun tetap menyenangkan.
Bagaimana dengan body atau sensasi kekentalannya? Jaran Goyang memiliki body sedang dengan tekstur yang cenderung creamy, sehingga tetap terasa nyaman di lidah.
Untuk flavor, saya menemukan perpaduan karamel dan citrus yang saling melengkapi.
Dari sisi balance, karakter asamnya memang cukup dominan. Dampaknya terasa pada aftertaste yang panjang dengan kesan fruity yang segar.
Yang paling menarik adalah complexity-nya. Karakter rasa berubah secara perlahan dari seduhan pertama hingga tetes terakhir. Awalnya didominasi nuansa cokelat, kemudian bergeser ke karamel, dan akhirnya menyisakan rasa lemon yang segar di penghujung tegukan.
Overall, saya harus berterima kasih kepada Mbak Ita Siti Nasyiah yang telah memilihkan Kopi Jaran Goyang ini. Awalnya saya tertarik hanya karena ingin mengetahui seperti apa karakter kopi dari masyarakat Osing di Banyuwangi. Ternyata, setelah dicicipi… uenak tenan.
Kali ini saya merekomendasikan kopi Jarang Goyang untuk Anda.(jto)
