30.1 C
Jakarta

Mahasiswa Ilmu Gizi UMS Edukasi Anak Perantauan di Malaysia Lewat Gerakan ‘Isi Piringku

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Suasana kelas yang biasanya tenang berubah menjadi riuh penuh semangat ketika Dhini Hilyati, mahasiswi KKN Internasional Batch 3 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id dari Program Studi Ilmu Gizi, mulai membuka sesi “10 Pedoman Gizi Seimbang” di Sanggar Bimbingan (SB) Kelana Jaya, Malaysia, pada Sabtu, 13 Juni 2026.

Dhini menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan hari itu, dari materi pedoman gizi, membaca label kemasan, hingga permainan Isi Piringku, dirancang saling melengkapi agar pesan tentang gizi seimbang bisa diserap secara menyeluruh oleh anak-anak. Ia berharap pengetahuan yang didapat tidak berhenti di ruang belajar, melainkan terbawa pulang dan menjadi kebiasaan baru dalam keseharian mereka dan keluarga.

Kegiatan “10 Pedoman Gizi Seimbang” ini menjadi bukti nyata bahwa edukasi gizi tidak harus berlangsung di ruang kelas formal dengan alat-alat canggih. Cukup dengan poster dari Kemenkes, snack kemasan, dan potongan gambar makanan, seorang mahasiswi dari prodi Ilmu Gizi berhasil menanamkan pesan besar kepada tujuh anak di perantauan, bahwa makan sehat dimulai dari hal paling sederhana, tahu apa yang ada di dalam piring, dan tahu apa yang tertulis di balik kemasan.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja edukatif bidang kesehatan yang dirancang selama bertugas di Malaysia. Saya menggunakan poster resmi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai media utama, lengkap dengan panduan visual ‘Isi Piringku’ yang memuat porsi ideal makanan dalam satu piring sehat,” jelas Dhini, Selasa (23/6/2026).

Dhini mengenang kembali kegiatan yang ia lakukan di Malaysia. Dari cerita Dhini, tujuh murid sanggar duduk lesehan di lantai, melingkar menghadap papan tulis yang telah dipenuhi tulisan poin-poin pedoman gizi. Saat memperkenalkan 10 pedoman gizi seimbang secara interaktif, ada murid yang menanyakan kepada Dhini dan memancing tawanya. “Kak, kalau minum es teh manis itu sama tidak hitungannya?” tirunya.

Pertanyaan itu dilontarkan saat Dhini menjelaskan tentang pedoman minum air putih. Selain air minum, Dhini juga mengajak para murid untuk mensyukuri dan menikmati aneka ragam makanan, perbanyak sayur dan buah, konsumsi lauk pauk berprotein tinggi, hingga rutin berolahraga.

Dhini juga teringat momen saat memperkenalkan pedoman kedelapan tentang membaca label pada kemasan makanan. Di sanggar, alih-alih sekadar menjelaskan teori, ia membagikan snack kemasan kepada masing-masing anak sebagai media belajar langsung. Anak-anak yang semula duduk tenang seketika bersemangat menerima snack tersebut, namun dengan syarat, para murid harus menemukan letak informasi gizi dan tanggal kedaluwarsa di kemasan sebelum boleh membukanya.

Menurutnya, suasana kala itu berubah jadi layaknya sesi detektif cilik. Anak-anak membolak-balik kemasan dengan serius, mencari tulisan kecil yang selama ini mungkin tidak pernah mereka perhatikan. “Ini tanggal kedaluwarsanya di sini, Kak!” kata Dhini mengingat seruan salah satu murid.

“Saya sengaja pakai snack yang mereka pegang sendiri supaya belajarnya terasa nyata. Kalau cuma dijelaskan di papan tulis, mungkin besok lupa. Tapi kalau mereka pernah baca label dengan tangan mereka sendiri, itu lebih mudah diingat. Tujuannya supaya ke depannya mereka terbiasa cek kemasan sebelum beli atau makan,” jelas Dhini.

Kegiatan dilanjutkan dengan permainan menempel “Isi Piringku.” Dhini menyiapkan potongan gambar makanan yang mewakili empat kelompok pangan, lauk pauk, makanan pokok, buah-buahan, dan sayur mayur, beserta kartu keterangan masing-masing. Setiap anak mendapat giliran menempelkan gambar ke posisi yang tepat pada lingkaran piring besar di dinding, lalu menjelaskan alasannya. Anak-anak yang menunggu giliran tak henti memberi semangat, bahkan beberapa berbisik memberi petunjuk arah kepada temannya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!