29.2 C
Jakarta

Tafsir Surat At-Taghabun Ayat 15: Anak Bukan Sekadar Rezeki, Tapi Juga Ujian bagi Orang Tua

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Paradigma anak sebagai ladang rezeki telah melekat kental di masyarakat diiringi munculnya pepatah “banyak anak, banyak rezeki”. Namun, ada sisi yang dilupakan oleh masyarakat bahwa anak juga menjadi tempat ujian bagi orang tua.

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A., menjelaskan tafsir QS. At-Taghabun ayat 15 untuk mengupas keberadaan anak sebagai ujian bagi orang tuanya sendiri.

اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.”

Hakimuddin menjelaskan kata Innama pada permulaan ayat ini, jika ditinjau dalam ilmu balaghah termasuk dalam al-qashr wal ikhtishash merupakan gaya bahasa yang menunjukan kekhususan makna sesuatu. Menurutnya, pada ayat ini terdapat kekhususan peran anak dan harta sebagai ujian hamba Allah.

Ia mengatakan bahwa pada dasarnya anak adalah karunia dan anugerah yang diberikan oleh Allah sehingga menjadi sebuah keistimewaan dan kebahagiaan bagi orang tua ketika dikarunia seorang anak.

Dalam kehidupan, Hakimuddin menegaskan bahwa Islam memandang kehidupan sebagai tempat ujian bukan untuk bersenang-senang. Keberadaan anak bagian daripada kehidupan yang secara tidak langsung termasuk dalam bagian dari ujian bagi manusia, khususnya bagi manusia yang telah berkeluarga.

“Orientasi dari adanya ujian pada kehidupan kita ini, sebagai penentu siapakah hamba yang paling baik amalannya di sisi Allah,” jelasnya, Selasa (23/6/2026).

Menurut Hakimuddin, para ulama membagi dua jenis kenikmatan. Pertama, kenikmatan mutlaqah atau kenikmatan absolut yang akan melekat pada diri manusia secara abadi. Seperti nikmat iman dan Islam yang merupakan bagian dari nikmat yang mutlaq.

Kedua, nikmat muqayyadah atau nikmat yang relatif, bergantung pada bagaimana manusia itu memahami dan memanfaatkan nikmat-nikmat berupa kesehatan, kekayaan, dan kedudukan yang sifatnya duniawi. Namun, terdapat pandangan bahwa nikmat-nikmat tersebut dapat menjelma menjadi sebuah ujian.

“Anak merupakan rezeki yang mendatangkan kebahagiaan dan juga mendatangkan sebuah ujian bagi orang tua yang tergila dengan permasalahan duniawi,” tambahnya.

Kemudian, Hakimuddin mengutip perkataan Ibnu Katsir tentang letak anak sebagai ujian. Ibnu Katsir mengatakan bahwa mereka (anak) adalah ujian yang harus dihadapi oleh orang tua, untuk mengetahui siapa yang taat kepada Allah dan siapa yang melawan Allah dalam mendidik.

“Bagaimana kita sebagai orang tua bisa bertahan untuk mendidik anak-anak tanpa menabrak syariat Allah,” kata Hakimuddin menjelaskan.

Manifestasi hikmah dari ujian yang diberikan Allah lewat seorang anak berupa anak yang qurrota a’yun (penyejuk mata di dunia). Menurut Hakimuddin indikator anak qurrota a’yun adalah jika seorang anak memiliki karakter istiqomah dalam beribadah kepada Allah SWT, sehingga dapat menyenangkan hati orang tuanya. Wujud lain hikmah dari kesabaran dalam mendidik anak berupa investasi amal jariyah kelak bagi orang tua yang meninggal.

“Jika anak-anak kita didik menjadi anak yang shaleh, maka kelak kita di tanah kubur akan terus menerus mendapat pahala-pahala yang tak pernah terputus,” tuturnya.

Sebaliknya, Hakimuddin menuturkan jika orang tua enggan bersabar menghadapi ujian berupa mendidik anak, maka anak-anak akan menjelma menjadi musibah di dunia berupa uququl walidain yaitu durhaka kepada orang tua.

Menurutnya, di era saat ini banyak ditemukan fenomena-fenomena seorang anak durhaka kepada orang tua, yang tidak mempedulikan posisi orang tua sebagai orang yang paling dihormati di keluarga.

Ia menegaskan bahwa banyak orang tua yang luput untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anaknya sebagai pondasi dalam menjalani kehidupan di dunia, seringkali orang tua juga terhasut dengan capaian orang lain, yang berakibat menuntut seorang anak untuk mengikuti keinginan duniawi orang tua.

“Anak-anak akan kehilangan sisi spiritualitas pada dirinya, berupa lalai dengan orang tuanya, dari dzikir, dan beribadah kepada Allah. Anak-anak akan mengejar capaian-capaian duniawi yang sifatnya sementara hanya untuk mendapat validasi publik,” pungkasnya.

Pada akhirnya, QS. At-Taghabun ayat 15 bukan dijadikan sebagai ketakutan untuk memperbanyak keturunan. Namun, sebagai motivasi untuk mendidik anak yang sesuai dengan koridor agama Islam, agar menjadi hamba yang paling baik amalnya di sisi Allah. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!