30 C
Jakarta

Mahasiswa Kedokteran UMS Raih Dua Penghargaan Internasional Berkat Inovasi Deteksi Stunting

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Mahasiswa Program Studi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS), Aswa Arsa Kumala, menorehkan prestasi internasional melalui inovasi teknologi deteksi dini stunting. Ia meraih dua penghargaan dalam ajang Biomedical Engineering, Mechatronics, and Innovation International Fair (BMEIIF) 2026.

 

Aswa meraih Gold Medal with Jury Congratulations melalui inovasi GROWELL serta Special Award in Recognition of Outstanding Innovation in Biomedical Engineering and Healthcare Technology dari IEEE Engineering in Medicine and Biology Society (EMBS) Thailand Chapter.

 

Prestasi tersebut menjadi pencapaian tersendiri bagi Aswa yang kini menjalani pendidikan klinis sebagai dokter muda atau koas semester dua. Inovasi yang dikembangkannya menggabungkan teknologi Internet of Things (IoT) dengan perangkat pengukuran antropometri untuk mendukung pemantauan pertumbuhan anak dan mengidentifikasi risiko stunting sejak dini.

 

Berdasarkan informasi resmi penyelenggara BMEIIF 2026, kompetisi tersebut diikuti 50 tim dengan total 107 ketua dan anggota tim dari empat negara, yakni Thailand, Indonesia, Australia, dan Amerika Serikat. Sebanyak delapan tim memperoleh Gold Medal with Jury Congratulations, tingkat penghargaan di atas Gold Medal reguler berdasarkan ambang penilaian kompetisi.

 

Saat diwawancarai pada Rabu (14/10/2026), Aswa menjelaskan bahwa inovasi GROWELL dikembangkan untuk menjawab kebutuhan pemantauan pertumbuhan anak yang akurat, berkelanjutan, dan mudah diakses masyarakat.

 

“Inovasi itu saya kembangkan untuk menjawab kebutuhan pemantauan pertumbuhan anak yang akurat, berkelanjutan, dan mudah diakses,” kata Aswa.

 

GROWELL, Teknologi IoT untuk Deteksi Risiko Stunting

 

GROWELL merupakan singkatan dari A Low-Cost IoT-Integrated Smart Pediatric Anthropometry Platform for Real-Time Growth Surveillance and Early Stunting Detection. Inovasi ini dirancang sebagai platform pengukuran antropometri anak berbiaya terjangkau yang terintegrasi dengan teknologi IoT untuk memantau pertumbuhan secara berkala.

 

Menurut Aswa, stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak. Kondisi tersebut berkaitan dengan pemenuhan gizi, kesehatan, serta tumbuh kembang yang dapat memengaruhi kualitas hidup anak dalam jangka panjang.

 

Karena itu, pemantauan pertumbuhan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar indikasi gangguan pertumbuhan dapat dikenali lebih awal. Dengan demikian, tenaga kesehatan, kader posyandu, dan orang tua memiliki kesempatan lebih baik untuk melakukan tindak lanjut sesuai kebutuhan anak.

 

Melalui GROWELL, data berat badan dan tinggi badan anak dimanfaatkan untuk memantau pola pertumbuhan serta mengidentifikasi indikasi risiko berdasarkan kurva pertumbuhan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

 

Hasil pengukuran dapat dimanfaatkan melalui platform digital untuk mendukung pemantauan oleh orang tua dan tenaga kesehatan. Sistem tersebut juga dirancang untuk mengintegrasikan edukasi kesehatan bagi orang tua dan ibu hamil, dengan pendampingan kader posyandu serta bidan.

 

“Nilai utama GROWELL bukan sekadar mendeteksi risiko stunting, melainkan membantu menghubungkan proses pengukuran, identifikasi risiko, edukasi, dan tindak lanjut,” jelasnya.

 

Keunggulan yang ditawarkan GROWELL terletak pada penggabungan perangkat pengukuran, pemantauan digital, edukasi kesehatan, dan koordinasi tindak lanjut dalam satu ekosistem. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan akses masyarakat terhadap pemantauan pertumbuhan anak.

 

Meski demikian, hasil skrining melalui sistem ini tetap perlu ditindaklanjuti oleh tenaga kesehatan. Pengembangan teknologi tersebut diarahkan untuk mendukung pelayanan kesehatan, bukan menggantikan penilaian klinis maupun diagnosis oleh tenaga profesional.

 

Dikembangkan di Tengah Kesibukan Koas

 

Aswa berasal dari Sragen, Jawa Tengah. Ia memulai pendidikan sebagai mahasiswa baru Fakultas Kedokteran UMS pada 2022 dan menjalani masa koas sejak Maret 2026.

 

Di tengah tuntutan pendidikan klinis, ia mengembangkan GROWELL secara individu dengan bimbingan Dr. dr. Yusuf Alam Romadhon, M.Kes., Sp.KKLP., FISQua., FISPH., FISCM., dan dr. Yuni Prasetyo, M.MKes., Sp.PA.

 

Persiapan kompetisi menjadi tantangan tersendiri. Seluruh kebutuhan lomba, mulai dari presentasi, poster, leaflet, hingga suvenir, harus dipersiapkan secara mandiri.

 

Aswa juga menghadapi pertanyaan juri mengenai rencana bisnis dan komersialisasi inovasi. Menurutnya, penilaian kompetisi tidak hanya memperhatikan kebaruan gagasan, tetapi juga mempertimbangkan potensi penerapan dan keberlanjutan inovasi tersebut.

 

Tantangan lain muncul ketika ia membawa perangkat GROWELL dari Indonesia ke Jepang untuk mengikuti kompetisi. Perangkat tersebut harus dikemas dalam kotak berukuran 176 sentimeter dengan berat sekitar 21 kilogram.

 

Kondisi itu membuat Aswa harus membayar biaya bagasi berlebih hingga Rp3 juta untuk sekali penerbangan atau sekitar Rp6 juta untuk perjalanan pulang-pergi.

 

Meski menghadapi berbagai kendala, ia tetap menyelesaikan seluruh rangkaian kompetisi secara mandiri. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses pengembangan inovasi sekaligus pembelajaran di luar kegiatan akademik.

 

Dukungan FK UMS dan Rencana Pengembangan GROWELL

 

Aswa menyampaikan apresiasi kepada FK UMS dan Universitas Muhammadiyah Surakarta atas dukungan selama proses pengembangan inovasi hingga keikutsertaannya dalam kompetisi internasional.

 

Dukungan tersebut mencakup bimbingan dosen yang menyesuaikan dengan jadwal koas serta perizinan selama ia menjalani stase saraf di RSDS Magetan.

 

Ia menilai dukungan dosen pembimbing, tenaga kependidikan, ketua program studi, wakil dekan, hingga dekan berperan penting dalam membantunya menyeimbangkan tanggung jawab akademik dan pengembangan inovasi.

 

Setelah kompetisi, pengembangan GROWELL akan difokuskan pada penyempurnaan perangkat dan platform digital, pengujian akurasi pengukuran serta keandalan sistem, dan evaluasi kesesuaian hasil skrining dengan standar pertumbuhan anak.

 

Implementasi secara bertahap bersama tenaga kesehatan dan posyandu juga diperlukan untuk menguji kemudahan penggunaan serta manfaatnya dalam pelayanan sehari-hari.

 

Ke depan, GROWELL diharapkan dapat dikembangkan menjadi platform pemantauan pertumbuhan anak yang terjangkau dan berpotensi direplikasi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.

 

Pesan Aswa untuk Mahasiswa: Jangan Takut Mencoba

 

Bagi Aswa, mengikuti kompetisi internasional bukan semata-mata tentang meraih penghargaan. Ajang tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan, membangun jejaring, dan belajar dari berbagai pengalaman.

 

Ia berpesan agar mahasiswa berani mencari peluang, aktif bertanya, dan tidak mudah menyerah sebelum mencoba.

 

“Kalau bisa, di setiap forum jadilah orang yang paling lapar dan paling rakus. Lapar ilmu, rakus kesempatan, dan haus relasi,” katanya.

 

Ia menjelaskan, lapar ilmu berarti tidak takut bertanya dan terus mencari pengetahuan baru. Rakus kesempatan berarti berani mengambil tantangan tanpa terburu-buru merasa tidak mampu. Sementara itu, haus relasi berarti membangun hubungan yang tulus dan berkelanjutan, bukan hanya menghubungi seseorang ketika membutuhkan bantuan.

 

Menurut Aswa, percakapan sederhana dapat berkembang menjadi diskusi, kolaborasi, bahkan membuka kesempatan baru apabila dijalani dengan ketertarikan dan keterlibatan yang tulus.

 

“Jangan cuma kenalan lalu menghubungi saat ada butuhnya. Keep in touch. Bangun koneksi dengan cara yang berkesan,” pesannya.

 

Ia meyakini kesempatan dapat muncul dari keberanian mengajukan pertanyaan, mencoba hal baru, dan membangun hubungan dengan orang lain.

 

Prestasi Aswa melalui GROWELL menunjukkan bahwa mahasiswa kedokteran dapat turut mengembangkan inovasi teknologi untuk menjawab persoalan kesehatan masyarakat. Dengan pengujian lebih lanjut, penyempurnaan sistem, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan, inovasi tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi upaya pemantauan pertumbuhan anak dan pencegahan stunting di Indonesia. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!