30.9 C
Jakarta

Masjid Jangan Cuma Ramai Saat Azan Berkumandang

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM — Masjid tidak semestinya hanya ramai ketika azan berkumandang. Lebih dari sekadar tempat ibadah mahdah, masjid perlu dihidupkan sebagai ruang tumbuhnya ilmu, akhlak, persaudaraan, kepedulian sosial, hingga pemberdayaan ekonomi umat.

 

Pesan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bandung, Cecep Taufikurrohman MA PhD, saat menjadi pembicara dalam Program GSM Aisyiyah Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).

 

Cecep yang akrab disapa Buya Cecep mengajak umat Islam memperluas pemaknaan terhadap konsep memakmurkan masjid. Menurutnya, kemakmuran masjid tidak cukup diukur dari kemegahan bangunan, tetapi dari sejauh mana fungsi dan aktivitasnya memberikan manfaat nyata bagi jamaah dan masyarakat.

 

“Memakmurkan masjid bukan hanya membangun fisiknya, tetapi bagaimana umat Islam bisa menghidupkan fungsi dan aktivitasnya,” ujar Buya Cecep.

 

Menurutnya, masjid idealnya menjadi titik temu antara iman, ilmu, akhlak, ukhuwah, dan amal sosial. Keteladanan tersebut dapat dilihat dari fungsi Masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW yang tidak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga pusat pendidikan, pertemuan umat, pelayanan sosial, serta pembinaan masyarakat.

 

Dari masjid, kata dia, dapat tumbuh masyarakat yang kuat secara spiritual, intelektual, sosial, sekaligus memiliki kapasitas kepemimpinan.

 

“Iman membentuk orientasi hidup, ilmu membentuk cara berpikir, akhlak membangun karakter, ukhuwah menumbuhkan solidaritas, sedangkan amal mengubah nilai menjadi solusi nyata,” jelasnya.

 

Masjid Jangan Berhenti pada Aktivitas Ritual

 

Buya Cecep mengakui masjid saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Aktivitas masjid sering kali lebih terkonsentrasi pada kegiatan ritual, sementara potensi pemberdayaan jamaah serta pengembangan aspek sosial dan ekonomi belum sepenuhnya digarap.

 

Karena itu, masjid perlu dikembangkan menjadi pusat pendidikan dan pembinaan umat. Berbagai aktivitas seperti majelis ilmu, tahsin, tahfiz Al-Qur’an, pembinaan imam, khatib, dai, guru, hingga kader umat dapat berjalan berdampingan dengan perpustakaan dan ruang diskusi.

 

Dengan konsep tersebut, masjid tidak hanya menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan spiritual, tetapi juga menjadi ekosistem pembelajaran dan pengembangan kapasitas masyarakat.

 

Anak Muda Harus Diberi Ruang di Masjid

 

Perhatian khusus, lanjut Buya Cecep, perlu diberikan kepada generasi muda. Masjid harus menjadi ruang yang aman, ramah, kreatif, dan mendidik sehingga anak muda merasa memiliki keterikatan dengan masjid.

 

Keterlibatan generasi muda dapat diwujudkan melalui pengelolaan media sosial, podcast, desain, komunitas olahraga, kajian, kegiatan sosial, hingga dakwah digital.

 

Anak muda, menurutnya, tidak cukup hanya ditempatkan sebagai peserta kegiatan. Mereka perlu diberi kesempatan menjadi pengelola sekaligus inovator dalam menghidupkan masjid.

 

Dengan cara itu, generasi muda dapat tumbuh menjadi bagian penting dari ekosistem masjid sekaligus belajar mengambil tanggung jawab sosial.

 

Masjid Bisa Jadi Pusat Pemberdayaan Ekonomi

 

Selain pendidikan dan pembinaan, masjid juga memiliki potensi besar sebagai pusat pemberdayaan ekonomi dan pelayanan sosial.

 

Zakat, infak, sedekah, dan wakaf dapat dikelola secara amanah dan produktif untuk mendukung berbagai program, mulai dari beasiswa, bantuan sosial, pelayanan kesehatan, pendampingan masyarakat, hingga pengembangan UMKM jamaah.

 

Buya Cecep juga menawarkan gagasan menjadikan masjid sebagai “third place”, yakni ruang publik alternatif yang memungkinkan masyarakat, terutama generasi muda, beribadah, belajar, berdiskusi, berkumpul, dan berkarya.

 

Konsep tersebut diharapkan mengubah paradigma masjid dari sekadar tempat “datang, salat, lalu pulang” menjadi ruang yang memadukan ibadah, ilmu, komunitas, kreativitas, dan kontribusi sosial.

 

Doktor lulusan Universitas Al-Azhar Mesir tersebut menegaskan, ukuran kemakmuran masjid bukan hanya kemegahan bangunan maupun banyaknya kegiatan yang digelar.

 

Ukuran terpenting adalah dampaknya terhadap kehidupan umat. Masjid yang makmur semestinya mampu melahirkan masyarakat yang beriman, berilmu, berakhlak, peduli, mandiri, serta mampu menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.

 

“Sejatinya masjid yang hidup akan melahirkan umat yang hidup. Sementara itu, umat yang hidup akan mampu membangun peradaban,” pungkas Buya Cecep. (FA)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!