26.1 C
Jakarta

MDMC Gandeng NGO Asal Swiss Dampingi Penyintas Gempa Sulawesi Tengah

Baca Juga:

Pertahankan Rating dari Fitch, Hutama Karya Pertegas Posisi Perusahaan dengan Kinerja Stabil Ditengah Pandemi

JAKARTA, MENARA62.COM - Meski berada di tengah situasi pandemi Covid-19 yang mempengaruhi kinerja perusahaan sebagaimana industri lain pada umumnnya, namun PT Hutama Karya (Persero) ...

Menhub: Sinergi Regulator, Operator, dan Pengguna Jasa Tentukan Keselamatan Angkutan Jalan

JAKARTA, MENARA62.COM -- Sinergi yang baik antara pemerintah, operator, dan pengguna jasa sangat menentukan keselamatan angkutan jalan. Hal ini disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya...

Kemendikbud Serahkan Soal Kompetensi Dasar Calon ASN 2021 kepada Panselnas

JAKARTA, MENARA62.COM - Sebagai komponen dari penyelenggaraan Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) dan Calon Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (CPPPK) formasi tahun 2021,...

Hilmar Pastikan Draf Buku Kamus Sejarah Jilid I Belum Final

JAKARTA, MENARA62.COM - Isu terkait draf naskah buku Kamus Sejarah Jilid I yang disusun sebelum kepemimpinan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim...

 

Donggala Sulawesi Tengah, MENARA62.COM– Bertempat di Balai Desa Lende, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah Selasa (02/03/2021) sore Waktu Indonesia Tengah (WITA) dilaksanakan acara Workshop Survey Ketangguhan Desa sebagai kegiatan lanjutan bagian dari program Disaster Risk Resiliance in Central Sulawesi (DiRiReCS) yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bekerja sama NGO asal Swiss, Solidar Suisse.

Workshop tersebut diisi dengan agenda pemaparan hasil survey ketangguhan desa, sosialisasi pengajuan keluhan kepada warga dan pembentukan kelompok kerja (pokja) dengan nara sumber Sam Lukas selaku fasilitator Monitoring Evaluation Accountability and Learning (MEAL) program DiRiReCS dari Solidar Suisse.

Wakil Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Arif Jamali, mengatakan dalam program DiRiReCS ini, MDMC bersama Solidar Suisse menyasar 21 desa di 3 kecamatan yaitu Sirenja, Balaesang dan Balaesang Tanjung yang masuk kawasan terdampak parah dalam bencana gempa bumi, tsunami dan likufaksi yang melanda Sulawesi Tengah tahun 2018 silam.

Ke-21 desa tersebut adalah Tondo, Dampal, Jonooge, Tanjung Padang, Sipi, Balentuma, Lompio, Tompe, Lende, Lende Tovea, di Kecamatan Sirenja. Kemudian Meli, Lombonga, Labean di Kecamatan Balaesang dan Walandano, Malei, Kamonji, Rano, Pomolulu, Palau, Ketong, Manimbaya di Kecamatan Balaesang Tanjung

Kata Arif Jamali, Program DiRiReCS akan berlangsung selama 24 bulan dengan tujuan utamanya adalah memberi edukasi dan pendampingan kepada masyarakat desa sasaran terkait sistem pengurangan resiko bencana di desa.

“Pasca dua tahun lebih sejak terjadinya bencana gempa, tsunami dan likuifaksi pada September 2018 silam, MDMC hingga kini masih terus hadir di Sulawesi Tengah mendampingi warga penyintas bekerja sama dengan Solidar Suisse,” jelas Arif Jamali.

Sementara National Program Coordinator (NPC) DiRiReCS dan MEP MDMC PP Muhammadiyah, Yocki Asmoro mengatakan, selain program DiRiReCS yang sudah berlangsung sejak 1 Desember 2020, MDMC dan Solidar Suisse juga melaksanakan program Micro Enterprise Program (MEP) yang sudah berlangsung sejak 1 Juli 2019 untuk tahap pertama di 10 Desa yg ada di Kecamatan Sirenja dan 1 Juli 2020 untuk tahap kedua di 21 Desa tersebut.

“Tahap pertama MEP, MDMC dan Solidar hanya intervensi di 10 desa yg ada di Sirenja. Pada tahap kedua ini, MEP dan DiRiReCS intervensi 21 Desa,” kata Yocki.

Yocki menambahkan, berbeda dengan program DiRiReCS yang merupakan program pengurangan resiko bencana, MEP adalah program penguatan ekonomi masyarakat dengan pemberian bantuan modal usaha dan pendampingan. Baik bantuan individu maupun bantuan kelompok.

Dokumentasi kegiatan pendampingan warga di Sulawesi Tengah sebagai bagian dari Micro Enterprise Program (MEP) yang dilaksanakan MDMC bersama NGO asal Swiss, Solidar Suisse.

Untuk bantuan individu diberikan bantuan modal sebesar antara Rp3,5 juta sampai Rp4 juta perorang dan bantuan kelompok antara Rp40 juta sampai Rp80 juta perkelompok.

“Salah satu contoh aktifitas dari program MEP ini pada Senin (01/03/2021) lalu di lima Desa yakni Lende, Tondo, Meli, dan Lompio, dilaksanakan pencairan dana masing-masing 50% dari bantuan modal sebesar Rp80 juta kepada setiap kelompok usaha kopra putih, yakni kelompok Sintuvu Jaya Lende di Lende, kelompok Sintuvu Singgani di Tondo, kelompok Nyiur Sintuvu dan kelompok Meli Sejahtera di Meli, serta kelompok Mevoli Pasanggani di Lompio,” pungkasnya.(*)

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!

Pertahankan Rating dari Fitch, Hutama Karya Pertegas Posisi Perusahaan dengan Kinerja Stabil Ditengah Pandemi

JAKARTA, MENARA62.COM - Meski berada di tengah situasi pandemi Covid-19 yang mempengaruhi kinerja perusahaan sebagaimana industri lain pada umumnnya, namun PT Hutama Karya (Persero) ...

Menhub: Sinergi Regulator, Operator, dan Pengguna Jasa Tentukan Keselamatan Angkutan Jalan

JAKARTA, MENARA62.COM -- Sinergi yang baik antara pemerintah, operator, dan pengguna jasa sangat menentukan keselamatan angkutan jalan. Hal ini disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya...

Kemendikbud Serahkan Soal Kompetensi Dasar Calon ASN 2021 kepada Panselnas

JAKARTA, MENARA62.COM - Sebagai komponen dari penyelenggaraan Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) dan Calon Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (CPPPK) formasi tahun 2021,...

Hilmar Pastikan Draf Buku Kamus Sejarah Jilid I Belum Final

JAKARTA, MENARA62.COM - Isu terkait draf naskah buku Kamus Sejarah Jilid I yang disusun sebelum kepemimpinan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim...

Kurangi Emisi, Penggunaan Sumber Energi Terbarukan Mendesak

JAKARTA, MENARA62.COM - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, yang juga Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) menerangkan urgensi dan rencana...