28.3 C
Jakarta

Negeri yang Surplus Kebisingan, Defisit Perenungan

Must read

PTMA Siap Terapkan ‘Merdeka Belajar, Kampus Merdeka’

YOGYAKARTA, MENARA62.COM -- Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) siap menerapkan konsep belajar ‘Merdeka Belajar, Kampus Merdeka (MBKM).’ Saat ini PTM telah selesai menyusun...

Notaris Isa Meilia, Mengapresiasi Diri Sendiri dengan Cara Traveling

HARI-hari Isa Meilia sebagai seorang notaris amat sibuk. Ibarat pergi pagi hari masih gelap, pulang kantor hari juga sudah gelap. Itu pun belum berakhir....

Opo tumon ? Miras Kok Dilegalkan

Opo tumon ?  Mungkin bagi kita yang waras, akan langsung geleng-geleng kepala. Entah apa yang melatar belakangi keluarnya Perpres No 10 tahun 2021 tentang Bidang...

Gun Stapler, Metode Sunat Ini Jadi Pilihan Public Figure

JAKARTA, MENARA62.COM – Sunat atau khitan umumnya dilakukan pada saat seorang pria berusia bayi hingga anak-anak. Tetapi pada beberapa orang, sunat dilakukan saat usia...

Sebagai anak bangsa, aku sungguh prihatin dengan kondisi negeri ini ‎yang kian hari kian tak menentu. Dunia politik di negeri ini dirundung ‎kegaduhan, nir kearifan. Ekspresi keagamaan di negeri ini surplus kebisingan ‎dalam kerumunan, defisit perenungan dan penghayatan.‎

Sebuah pertanyaan sederhana patut diajukan. Apakah dalam ‎kegaduhan dan kebisingan, kearifan dan nilai-nilai ketuhanan dapat dihayati?‎

Aku tidak yakin mereka yang membuat kegaduhan atas nama rakyat, ‎dan kebisingan atas nama agama benar-benar berjuang untuk rakyat dan ‎agama.‎

Bukankah penghayatan hanya dapat dilakukan dalam kesunyian dan ‎perenungan? Bukankah kearifan dan nilai-nilai ketuhanan hanya bisa ‎dipahami dan diwujudkan dengan melakukan perenungan (tafakkur) yang ‎mendalam.‎

Melihat ke dalam diri (muhasabah, inward looking) jauh lebih efektif ‎untuk menghadirkan kearifan dan memahami nilai-nilai ketuhanan. ‎Sedangkan kegaduhan, kebisingan dalam kerumunan hanya akan ‎menjauhkan kita dari pemahaman substantif tentang makna kearifan dan ‎nilai-nilai ketuhanan.‎

Yudi Latif dalam karya reflektifnya “Makrifat Pagi” ‎menandaskan, surplus kegaduhan dan kebisingan, serta defisit ‎kesunyian dan perenungan, adalah dua hal utama yang menyebabkan ‎penumpulan otak dan etik sebagian masyarakat negeri ini.‎

Mari kita lihat bagaimana para arif dan bijak bestari mendapatkan ‎pencerahan (enlightenment), bahkan memperoleh makna hidup (the meaning ‎of life) setelah melakukan perenungan mendalam.‎

Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu setelah cukup lama ‎menyendiri, melakukan perenungan mendalam di Gua Hira. ‎Tuhan mendaulatnya untuk menjadi salah satu utusan-Nya, yang kemudian ‎mampu menghadirkan pencerahan kepada umat manusia.‎

Jauh sebelum Nabi Muhammad SAW melakukan perenungan, nun jauh ‎di India sana, berabad-abad sebelumnya, Siddharta Gautama yang hidup di ‎masa kerajaan Mahajanapada, sekitar 2500 tahun lalu, berhari-hari melakukan ‎perenungan di bawah Bodhi Tree. Ia melakukan tapa brata, meninggalkan ‎seluruh kesenangan duniawi. Akhirnya, ia pun kemudian mendapatkan ‎pencerahan.‎

Dalam khazanah Islam, sejumlah salik (para penempuh jalan Tuhan), ‎yang belakangan dikenal dengan istilah sufi, pun setali tiga uang. Mereka ‎melakukan perenungan mendalam di tengah kesunyian diri, jauh dari ingar ‎bingar dan hiruk pikuk duniawi. Mereka mendekatkan diri kepada Tuhan ‎sedekat-dekatnya, hingga akhirnya tirai (hijab) kegaiban berliput kebenaran ‎sejati pun tersingkap benderang di hadapan mereka.‎

Dari sejumlah keterangan dan kenyataan ini, dapat kita simpulkan ‎bahwa kearifan dan nilai-nilai ketuhanan hanya akan didapat melalui jalan ‎sunyi, perenungan (tafakkur) mendalam, bukan dengan jalan kegaduhan ‎yang diliputi kebisingan.‎

Dalam politik yang gaduh, kearifan akan hengkang dan lintang ‎pukang. Dalam semarak keagamaan yang penuh kebisingan, nilai-nilai ‎ketuhanan terkubur formalisme keagamaan. ‎

Hanya melalui jalan kesunyian diri, tafakkur mendalam, jauh dari ingar ‎bingar dan hiruk pikuk retorika politik yang memuakkan, serta formalisme ‎keagamaan yang gaduh dalam kerumunan penuh kebisingan, kearifan dan ‎nilai-nilai ketuhanan akan mewujud dan menjelma dalam diri setiap insan ‎negeri ini. Wahasil, harapan untuk hidup damai, sentosa, sejahtera yang ‎bertabur rahmat Tuhan akan terwujud. Semoga.‎

Ruang Inspirasi, Kamis (2/7/2020)

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

PTMA Siap Terapkan ‘Merdeka Belajar, Kampus Merdeka’

YOGYAKARTA, MENARA62.COM -- Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) siap menerapkan konsep belajar ‘Merdeka Belajar, Kampus Merdeka (MBKM).’ Saat ini PTM telah selesai menyusun...

Notaris Isa Meilia, Mengapresiasi Diri Sendiri dengan Cara Traveling

HARI-hari Isa Meilia sebagai seorang notaris amat sibuk. Ibarat pergi pagi hari masih gelap, pulang kantor hari juga sudah gelap. Itu pun belum berakhir....

Opo tumon ? Miras Kok Dilegalkan

Opo tumon ?  Mungkin bagi kita yang waras, akan langsung geleng-geleng kepala. Entah apa yang melatar belakangi keluarnya Perpres No 10 tahun 2021 tentang Bidang...

Gun Stapler, Metode Sunat Ini Jadi Pilihan Public Figure

JAKARTA, MENARA62.COM – Sunat atau khitan umumnya dilakukan pada saat seorang pria berusia bayi hingga anak-anak. Tetapi pada beberapa orang, sunat dilakukan saat usia...

Relawan Tim Batavia LPB MUI: Respon Banjir Di Desa Pantai Harapanjaya

BEKASI, MENARA62.COM -- Sabtu dan Ahad (27-28 Februari 2021) lalu, menjadi hari yang cukup sibuk bagi relawan Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) Majelis Ulama Indonesia  (MUI)....