28.3 C
Jakarta

Peringati Sumpah Pemuda, Ketum Kowani Ingatkan Peran Perempuan Sebagai Ibu Bangsa

Must read

SMK Muhammadiyah 1 Tegal Adakan Tes TOIEC

MENARA62.COM-Tegal, SMK Muhammadiyah 1 Kota Tegal merupakan sekolah unggulan di Jawa Tengah. Untuk melayani para murid di bidang kemampuan bahasa Internasional. SMK Muhammadiyah 1...

AMM Lembata Salurkan Bantuan bagi Korban Letusan Gunung Ile Lewotok

LEMBATA, MENARA62.COM - Gunung Ile Lewolotok yang terletak di Pulau Lembata, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) meletus pada hari Minggu, 29 November 2020...

Digelar di Tengah Pandemi, Jumlah Peserta Anugerah Kihajar 2020 Alami Peningkatan

JAKARTA, MENARA62.COM - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbud kembali menggelar Anugerah Kihajar. Kegiatan yang rutin dilakukan...

Prof Dadang: Muhammadiyah Harus Perkuat Dakwah Melalui Platform Digital

JAKARTA, MENARA62.COM – Pandemi Covid-19 telah membuat penggunaan internet meningkat tajam. Pada awal Januari 2020, tercatat 175 juta penduduk Indonesia secara aktif menjadi pengguna...

JAKARTA, MENARA62.COM – Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr. Ir Giwo Rubianto, M.Pd mengingatkan bahwa peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 memiliki keterikatan sejarah dengan lahirnya Kowani. Sebab dua bulan setelah peristiwa Sumpah Pemuda, para perempuan Indonesia menginisiasi pembentukan Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia yang kemudian disingkat PPPI.

“Peristiwa besar yang terjadi pada tanggal 22 Desember 1928 atau dua bulan setelah Sumpah Pemuda tersebut kemudian dijadikan tonggak sejarah bagi kesatuan pergerakan wanita Indonesia,” kata Giwo Rubianto pada Webinar Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-92 dan Hari Ibu ke-92 tahun 2020, Rabu (28/10/2020).

Menurut Giwo, semangat yang terkandung dalam peristiwa Sumpah Pemuda yakni bertumpah darah satu yakni Indonesia, berbangsa satu yakni bangsa Indonesia dan menjunjung tinggi bahasa persatuan yakni Bahasa Indonesia juga menjadi semangat dari perjuangan para perempuan yang tergabung dalam PPPI. Organisasi PPPI inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Kowani pada 1946 dan ditetapkan sebagai Hari Ibu pada tahun 1959.

Bagi Giwo, cita-cita para pejuang perempuan tentang Ibu Bangsa yang dicetuskan sejak 1935 atau 10 tahun sebelum Indonesia merdeka tetap relevan sepanjang zaman. Konsep Ibu Bangsa yang menjadi cita-cita besar Kowani, memberikan tugas bagi perempuan Indonesia untuk melahirkan generasi milenial yang kreatif, inovatif dan berdaya saing. Dan ini bukanlah hal yang mudah, sehingga perlu upaya bersama untuk menjalankan mandat tersebut.

Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto Wiyogo

Sementara itu, Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemendikbud RI Restu Gunawan saat memberikan keynote speaker mewakili Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid menyampaikan apresiasinya terhadap Kowani yang secara konsisten memberikan inspirasi kepada perempuan, bagaimana peran ibu-ibu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kowani sudah bergerak bertahun-tahun, memiliki daya dan kekuatan untuk ikut membangun bangsa dan negara dalam situasi seperti apapun termasuk seperti sekarang ini,” kata Restu.

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia bukanlah sekedar nama kebudayaan. Indonesia adalah sebuah cita-cita besar yang dibangun secara bersama-sama oleh seluruh rakyat Indonesia. Dan cita-cita tersebut harus terus dinyalakan apinya dengan menumbuhkan semangat nasionalisme terutama bagi generasi muda.

“Kita punya kekayaan budaya yang sangat banyak, dunia mengakuinya. Sebut saja Borobudur, berbagai tarian dan lainnya. Termasuk memory of the world, cerita-cerita dengan karakter Indonesia, ada dongeng Panji, ada wayang. Itu semua harus kembali dikenalkan kepada generasi muda kita dan saya berharap peran ibu-ibu untuk memulai gerakan tersebut,” tambah Restu.

Dengan mengenal kebudayaan Indonesia, Restu berharap kecintaan generasi muda terhadap tanah air Indonesia semakin kuat.

Dr Bondan Kanumoyoso, M.Hum, Dosen Sejarah Universitas Indonesia dalam materinya menyampaikan bahwa Sumpah Pemuda merupakan sebuah prakarsa hebat dari para pemuda zaman sebelum kemerdekaan. Semangat para pemuda tersebut tentu harus diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara terus menerus.

“Aktualisasi Sumpah Pemuda menjadi penting karena Indonesia memerlukan inisiatif yang besar dalam menghadapi globalisasi. Di mana persaingan ideology dan politik di masa pergerakan nasional kini telah berubah menjadi persaingan inovasi antar bangsa. Tetapi Sumpah Pemuda tetap relevan untuk dijadikan sebagai sumber inspirasi,” tutup Bondan.

Selain Bondan, tampil juga sebagai narasumber,  Addie MS, seorang musisi.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

SMK Muhammadiyah 1 Tegal Adakan Tes TOIEC

MENARA62.COM-Tegal, SMK Muhammadiyah 1 Kota Tegal merupakan sekolah unggulan di Jawa Tengah. Untuk melayani para murid di bidang kemampuan bahasa Internasional. SMK Muhammadiyah 1...

AMM Lembata Salurkan Bantuan bagi Korban Letusan Gunung Ile Lewotok

LEMBATA, MENARA62.COM - Gunung Ile Lewolotok yang terletak di Pulau Lembata, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) meletus pada hari Minggu, 29 November 2020...

Digelar di Tengah Pandemi, Jumlah Peserta Anugerah Kihajar 2020 Alami Peningkatan

JAKARTA, MENARA62.COM - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbud kembali menggelar Anugerah Kihajar. Kegiatan yang rutin dilakukan...

Prof Dadang: Muhammadiyah Harus Perkuat Dakwah Melalui Platform Digital

JAKARTA, MENARA62.COM – Pandemi Covid-19 telah membuat penggunaan internet meningkat tajam. Pada awal Januari 2020, tercatat 175 juta penduduk Indonesia secara aktif menjadi pengguna...

Program TEMAN BUS Telah Layani 1,5 Juta Lebih Perjalanan

JAKARTA, MENARA62.COM -- Sejak diluncurkan pada awal tahun 2020, Program TEMAN BUS (Transportasi Ekonomis, Mudah, Andal dan Nyaman) telah melayani 1,5 juta lebih perjalanan....