SOLO, MENARA62.COM – Gigi berlubang bukan sekadar masalah kesehatan mulut. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh, bahkan berdampak pada tumbuh kembang dan prestasi belajar anak.
Pesan itu disampaikan Amelia Kartika Sari, AMKG, dalam sesi Upaya Kesehatan dalam Intervensi Penggunaan Fluorida Sesuai Indikasi Kasus pada kegiatan Sosialisasi dan Koordinasi Pelayanan Program Anak Usia Sekolah dan Remaja yang digelar Puskesmas Gajahan, Kamis (23/7/2026), di Aula Puskesmas Gajahan, Surakarta.
Kegiatan tersebut diikuti guru jenjang SD, SMP, hingga SMA yang berada di wilayah binaan Puskesmas Gajahan sebagai bagian dari penguatan program kesehatan sekolah.
Amelia menjelaskan, karies atau gigi berlubang berkembang secara bertahap. Kerusakan bermula dari lapisan enamel, kemudian menjalar ke dentin hingga mencapai kamar pulpa yang berisi saraf gigi. Pada tahap awal biasanya muncul titik hitam, kemudian rasa ngilu, dan apabila sudah mengenai saraf akan menimbulkan nyeri berdenyut yang memerlukan perawatan lebih kompleks.
“Semakin cepat ditemukan, semakin mudah penanganannya. Penambalan gigi sejak dini jauh lebih baik daripada harus menjalani perawatan saraf yang membutuhkan beberapa kali kunjungan,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa infeksi gigi tidak boleh dianggap sepele. Bakteri penyebab infeksi dapat memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan dan meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti gangguan jantung, diabetes, hingga penyakit degeneratif.
Bagi anak-anak, gigi berlubang juga berdampak langsung pada kualitas hidup. Rasa sakit membuat anak sulit mengunyah makanan sehingga asupan nutrisi tidak optimal. Kondisi tersebut dapat mengganggu konsentrasi belajar dan berpengaruh terhadap prestasi di sekolah.
Selain itu, Amelia menyoroti pentingnya menjaga kesehatan gigi bagi perempuan yang merencanakan kehamilan. Menurutnya, infeksi gigi yang tidak ditangani berpotensi meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, seperti kelahiran prematur maupun bayi dengan berat badan lahir rendah.
“Karena itu, pemeriksaan dan perawatan gigi sebaiknya diselesaikan sebelum memasuki masa kehamilan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Amelia juga memaparkan pentingnya program pencegahan karies melalui aplikasi topical fluoride (TF) sesuai indikasi pada anak-anak yang memenuhi syarat. Program tersebut dilakukan melalui kerja sama antara sekolah dan Puskesmas sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif kesehatan gigi.
Menurutnya, keterlibatan guru menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan program. Guru dapat membantu memantau kondisi kesehatan gigi peserta didik, mengingatkan kebiasaan menyikat gigi yang benar, serta mendorong siswa mengikuti pemeriksaan kesehatan gigi secara berkala.
Ia juga mengingatkan penggunaan obat kumur tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Penggunaan yang tidak tepat dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di dalam rongga mulut sehingga memicu mulut kering dan masalah kesehatan lainnya.
Melalui sosialisasi tersebut, Puskesmas Gajahan berharap para guru mampu menjadi mitra edukasi kesehatan di sekolah. Sinergi antara tenaga kesehatan, sekolah, dan orang tua dinilai menjadi kunci dalam membangun kebiasaan hidup sehat sekaligus menekan angka karies gigi pada anak usia sekolah.
Program kesehatan gigi berbasis sekolah ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa menjaga kesehatan gigi sejak dini merupakan investasi penting untuk mendukung tumbuh kembang anak, kualitas belajar, serta kesehatan jangka panjang. (*)
