YOGYAKARTA, MENARA62.COM
Anggota DPD RI Dapil D.I. Yogyakarta sekaligus Wakil Ketua Komite III DPD RI, Dr. Ir. Ahmad Syauqi Soeratno, M.M., hadir sebagai narasumber dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kegiatan berlangsung di BBPPMPV Seni dan Budaya, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (13/09/2026).
Rakernas yang dihadiri oleh jajaran pimpinan MDMC dan relawan Muhammadiyah dari seluruh Indonesia ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi gerakan resiliensi kebencanaan Muhammadiyah di tingkat nasional. Dalam kesempatan tersebut, Syauqi memaparkan materi bertajuk Membangun Kolaborasi Berbasis Nilai Pancasila dalam Resiliensi Bencana di hadapan ratusan peserta yang mewakili seluruh penjuru nusantara.
Dalam pemaparannya, Syauqi menegaskan bahwa penguatan resiliensi bencana di Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan teknis dan teknologi. Ketangguhan sejati harus berakar pada nilai-nilai luhur bangsa yang termaktub dalam Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Syauqi menguraikan tiga sila Pancasila yang paling relevan sebagai fondasi resiliensi masyarakat dalam penanggulangan bencana. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi landasan spiritual yang menumbuhkan ketabahan, keikhlasan, dan kepasrahan kepada Tuhan dalam menghadapi musibah. Ia menekankan bahwa dimensi spiritual inilah yang menjadi kekuatan paling mendasar bagi setiap relawan dan masyarakat yang terlibat dalam penanggulangan bencana.
“Keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah sumber energi terbesar yang menggerakkan para relawan dan masyarakat untuk bangkit dan bersatu. Ketika seseorang bergerak atas dasar keikhlasan karena Allah SWT, maka tidak ada kepentingan pribadi yang mendorong langkahnya, hanya ada niat untuk memberi manfaat,” ujar Syauqi.
Selanjutnya, Syauqi mengaitkan sila kedua dan ketiga sebagai dua nilai yang saling menopang dalam membangun kolaborasi resiliensi yang solid. Menurutnya, kepedulian terhadap sesama yang bersumber dari nilai kemanusiaan akan secara alamiah melahirkan persatuan yang kokoh. Persatuan dibangun tanpa melihat latar belakang suku, agama, maupun ras.
“Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengajarkan kita bahwa musibah yang dihadapi saudara kita adalah tanggung jawab kita bersama. Kita tidak memedulikan dari mana ia berasal, apa agamanya, atau apa latar belakang budayanya. Dari kepedulian itulah lahir persatuan yang sesungguhnya. Bangsa yang kuat ialah bangsa yang warganya saling menopang satu sama lain dalam semangat gotong royong ketika badai datang,” tegasnya.
Syauqi juga menegaskan bahwa kesiapsiagaan masyarakat di tiap daerah kerapkali memadukan kearifan lokal (local wisdom) dan kesukarelawanan. Menurutnya, hal itu merupakan wujud nyata pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Gotong royong dan kepedulian sosial yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila adalah fondasi utama resiliensi bangsa kita dalam menghadapi berbagai ancaman bencana. Kolaborasi lintas sektor baik pemerintah, organisasi masyarakat sipil, hingga dunia usaha, harus dilandasi oleh semangat kebersamaan dan rasa kemanusiaan,” ujarnya.
Menurutnya, Muhammadiyah melalui MDMC telah menjadi contoh konkret bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat diterjemahkan menjadi gerakan kemanusiaan yang terorganisir, profesional, dan berdampak luas bagi masyarakat Indonesia.
Melalui Rakernas MDMC, diharapkan seluruh pimpinan dan relawan Muhammadiyah dapat semakin mengukuhkan sinergi dan kolaborasi dalam membangun ketangguhan masyarakat Indonesia terhadap bencana dengan Pancasila sebagai kompas nilai yang memandu setiap langkah pengabdian.
