PALOPO, MENARA62.COM — Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyerahkan bantuan alat penanak sagu otomatis modern, Sagu Cooker,
kepada kelompok masyarakat di Sulawesi Selatan di Palopo, Jumat (24/6/2026).
Bantuan ini untuk memperkuat program ketahanan pangan lokal sekaligus menyelaraskan program daerah dengan visi nasional, Asta Cita Presiden yang menekankan ketahanan pangan berbasis inovasi dan teknologi,
Penyerahan bantuan ini, menurut Andi Sudirman, menjadi langkah nyata Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam mengoptimalkan pengelolaan sagu sebagai salah satu komoditas pangan unggulan daerah.
Melalui inovasi teknologi Sagu Cooker, masyarakat diharapkan dapat mengolah bahan sagu menjadi konsumsi yang bernilai gizi tinggi, higienis, serta lebih efisien secara waktu dan proses penanakan.
Sinergi strategis ini didukung oleh Prof. Dr. Ir. Agnes Dorothea Rampisela, M.Sc. selaku Ketua Peneliti Sagu dari Universitas Hasanuddin. Menurutnya, kolaborasi erat antara pelaku usaha dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan ini diharapkan dapat membawa aspirasi, riset, dan inovasi pangan lokal berbasis sagu hingga terdengar ketingkat Presiden.
Dalam sambutannya, Andi Sudirman Sulaiman memperkenalkan Aurora Bellatrix Dakka, B.A (Hons) sebagai penemu Sagu Cooker, dan selaku Direktur Utama PT Sagu Cooker Indonesia.
Aurora, putri Indonesia asli Palopo Sulawesi Selatan yang menyelesaikan studinya di Inggris. Ia kembali ke Indonesia
untuk mengabdi dan memberikan hasil inovasinya untuk kawasan Indonesia bagian Timur.
Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan, bahwa potensi sagu di Sulawesi Selatan sangat besar, namun memerlukan sentuhan teknologi agar proses pembuatan sajian sagu lebih optimal dan memiliki daya saing.
“Sagu adalah warisan pangan lokal kita yang sangat kaya manfaat,” ujar Andi S Sulaiman.
Langkah ini, sejalan dengan Asta Cita Presiden untuk memperkuat ketahanan pangan melalui sentuhan inovasi dan
teknologi.
“Pemprov Sulsel menyerahkan bantuan Sagu Cooker ini agar masyarakat dapat
lebih mudah mengolah pangan lokal secara modern,” ujarnya.
Lebih lanjut gubernur mengungkapkan, bantuan ini bukNÂ sekedar alat, tetapi bagian dari strategi besar untuk menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga di Sulawesi Selatan.
Penggunaan
Penggunaan Sagu Cooker dirancang praktis dan mudah digunakan (user-friendly), sehingga dapat dimanfaatkan langsung oleh rumah tangga maupun kelompok usaha mikro, kecil, dan
menengah (UMKM) pengolahan pangan berbasis sagu.
Selain menyerahkan bantuan fisik, pemerintah provinsi Sulawesi Selatan juga menargetkan berbagai kawasan sentra komoditas sagu di Sulawesi Selatan dan diharapkan dapat menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi berbasis kearifan lokal.
Komitmen keberlanjutan juga ditunjukkan oleh pihak produsen. Setelah target produksi awal tercapai, atas izin dan dukungan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan khususnya
Gubernur Sulsel, juga akan membuka fasilitas pabrikasi di Makassar. Kehadiran pabrik ini diproyeksikan akan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat.
Selain itu, menurut Aurora, guna menjamin kenyamanan pengguna, makan akan dibukaayanan purna jual dan pusat perawatan unit Sagu Cooker. Layanan ini akan dihadirkan di Kota Makassar serta berbagai kota lainnya di Sulawesi Selatan.
Sementara itu, dari sisi manufaktur, pihak produsen menegaskan fokusnya pada efisiensi produksi berbasis pesanan (built-to-order) dengan kapasitas produksi yang dapat menyesuaikan skala kebutuhan (unlimited capacity). Produsen tidak melakukan penjualan secara langsung kepada konsumen. Seluruh tata kelola distribusi dan komersialisasi ditangani sepenuhnya oleh Prinsipal Tunggal Kawasan Timur Indonesia yang berpusat di Kota Makassar.
Informasi terkait kerja sama dan mekanisme kemitraan dapat dikoordinasikan langsung melalui mitra resmi PT Sagu Cooker Indonesia.
Sagu Cooker ini tidak hanya ditargetkan menyasar berbagai kawasan sentra komoditas sagu di Sulawesi Selatan, tetapi juga diproyeksikan untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia Timur. Meliputi:Â Papua, Maluku, Maluku Utara, dan seluruh wilayah Sulawesi. Selain itu, juga akan menyapa masyarakat diaspora Indonesia di mancanegara.
Langkah ini, diharapkan mampu menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi inklusif berbasis kearifan lokal yang berdampak secara nasional hingga global.
