SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menjaring 50 tim inovator dari delapan provinsi di Indonesia melalui program UMS Health Innovation Hackathon 2026. Ajang inovasi teknologi kesehatan ini diikuti 233 talenta dari kalangan dosen, mahasiswa, praktisi industri, hingga tenaga kesehatan yang siap menghadirkan solusi atas persoalan nyata di sektor kesehatan.
Program yang diselenggarakan Taskforce Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual (DRPPS) UMS ini mendapat dukungan Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan Ditjen Risbang Kemendiktisaintek serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Pendaftaran ditutup pada 20 Oktober 2026. Sebanyak 50 tim peserta berasal dari 30 perguruan tinggi dan institusi profesional yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah.
Ketua Pelaksana Program sekaligus Ketua Taskforce UMS Health Innovation Hackathon 2026, Prof. Dr. Ir. Suranto, S.T., M.M., M.Si., IPU., mengapresiasi tingginya partisipasi sivitas akademika dan praktisi dari berbagai daerah.
Menurutnya, program ini dirancang untuk mendorong inovasi yang tidak berhenti pada gagasan, tetapi berkembang menjadi solusi yang dapat diterapkan dan menjawab kebutuhan pengguna.
“Hackathon ini dirancang bukan sekadar kompetisi ide di atas kertas, melainkan implementasi nyata dari pendekatan inovasi berbasis kebutuhan pengguna (demand-driven innovation). Seluruh proposal yang masuk merespons langsung tantangan operasional riil yang diajukan oleh mitra strategis rumah sakit dan industri manufaktur kesehatan,” ungkap Suranto, Kamis (22/10/2026).
Ia menegaskan, kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci agar hasil riset dan inovasi perguruan tinggi dapat dihilirisasi serta memberikan dampak sosial dan ekonomi.
31 Tim Sudah Miliki Purwarupa Inovasi
Dari 50 tim yang berpartisipasi, sebanyak 31 tim telah memiliki purwarupa awal (prototype). Tujuh tim lainnya sudah memasuki tahap uji coba lapangan (pilot), sedangkan 12 tim masih berada pada tahap pengembangan gagasan desain inovasi (idea).
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar peserta telah mengembangkan inovasi ke tahap yang lebih konkret. Program ini diharapkan dapat mempercepat proses pengembangan, pengujian, hingga pemanfaatan inovasi teknologi kesehatan.
Dalam pelaksanaannya, peserta ditantang mengembangkan solusi berdasarkan enam tantangan prioritas yang dirumuskan bersama mitra program. Fokusnya meliputi transformasi digital layanan rumah sakit, pengembangan produk dan peralatan produksi medis, efisiensi industri herbal, serta penguatan ekosistem hilirisasi produk kesehatan hasil riset perguruan tinggi.
Tantangan Rumah Sakit hingga Industri Herbal
Salah satu tantangan diajukan RS AR Fachrudin UMS, yakni pengembangan transformasi digital layanan rumah sakit. Kebutuhan tersebut mencakup sistem cerdas untuk informasi jadwal dokter, otomatisasi notifikasi preventif bagi pasien, serta kesiapan integrasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dengan platform SATUSEHAT Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan.
Di sektor industri manufaktur kesehatan, PT Likuid Pharmalab Indonesia (PT LKPI) mengajukan persoalan formulasi dan stabilisasi aroma disinfektan ruangan rumah sakit berbasis oksidator.
Tantangan lainnya berkaitan dengan rekayasa peralatan otomatisasi produksi dan pengembangan sistem penakaran presisi (precision dosing pump) untuk produk sediaan medis cair.
Sementara itu, CV Arba’in Jaya Mandiri membutuhkan solusi untuk meningkatkan efisiensi operasional industri herbal. Peserta ditantang mengembangkan agen kecerdasan artifisial (AI Agent) untuk pemasaran digital antarbisnis atau business-to-business (B2B), serta sistem manajemen hubungan pelanggan (Customer Relationship Management/CRM) yang terintegrasi dengan pencatatan inventaris stok.
Adapun DPM DRPPS UMS mendorong pengembangan platform cerdas untuk pemetaan pasar, kesiapan pemenuhan regulasi izin edar, dan percepatan pertemuan bisnis (business matchmaking) bagi portofolio produk kesehatan hasil riset perguruan tinggi.
Beragam tantangan tersebut membuka ruang bagi inovator dari berbagai bidang keilmuan untuk mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan rumah sakit, industri, dan ekosistem bisnis kesehatan.
Siapkan Pendanaan dan Apresiasi Rp125 Juta
Untuk mendukung pengembangan inovasi, UMS Health Innovation Hackathon 2026 menyediakan total alokasi pendanaan dan apresiasi sebesar Rp125 juta.
Sebanyak 15 tim yang lolos seleksi awal akan memperoleh bantuan pembuatan purwarupa sebesar Rp5 juta per tim. Dana tersebut ditujukan untuk mendukung pengembangan dan persiapan uji fungsi alat.
Selain bantuan pengembangan purwarupa, lima tim terbaik akan mendapatkan hadiah pembinaan pada puncak kompetisi.
Melalui program ini, UMS mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, rumah sakit, dan industri agar hasil riset tidak berhenti sebagai publikasi atau prototipe, tetapi memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk dan layanan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Informasi mengenai pengumuman hasil seleksi dan agenda kegiatan UMS Health Innovation Hackathon 2026 dapat diakses melalui laman resmi https://ihub.ums.ac.id/hackathon. (*)
