MAGELANG, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengurangan risiko bencana melalui kolaborasi dengan Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui sosialisasi kesiapsiagaan bencana Gunung Merapi kepada masyarakat Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Rabu (15/7).
Kegiatan yang diinisiasi Program Studi Ilmu Komunikasi (Ilkom) Fakultas Psikologi dan Humaniora (FPH) UNIMMA itu menjadi bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori komunikasi di ruang kelas, tetapi juga terjun langsung memberikan edukasi mengenai mitigasi bencana kepada warga yang tinggal di kawasan rawan erupsi Merapi.
Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi UNIMMA, Lintang Muliawanti, MA, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata pembelajaran yang menghubungkan teori komunikasi dengan kebutuhan masyarakat.
“Melalui mata kuliah Komunikasi Bencana, mahasiswa tidak hanya belajar konsep di kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam edukasi kepada masyarakat. Kami berharap kolaborasi dengan BPPTKG dapat terus berkembang, khususnya dalam program mitigasi bencana di bidang komunikasi maupun bidang lain yang relevan di wilayah Magelang dan sekitarnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga pemerintah diharapkan mampu mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.
Dalam sosialisasi tersebut, BPPTKG memaparkan kondisi terkini aktivitas Gunung Merapi yang hingga pertengahan 2026 masih berada pada tingkat aktivitas tinggi. Warga memperoleh informasi mengenai berbagai potensi bahaya, mulai dari guguran lava, awan panas, lahar hujan hingga kemungkinan terjadinya letusan eksplosif.
Selain menyampaikan perkembangan aktivitas vulkanik, BPPTKG juga mengulas pembelajaran dari peristiwa lahar yang terjadi pada 3 Maret 2026. Pemerintah desa bersama masyarakat didorong untuk memperbarui standar operasional prosedur (SOP) kebencanaan serta memperkuat tim siaga desa agar lebih siap menghadapi kondisi darurat.
Perwakilan BPPTKG dari bagian Penyebaran Informasi Kebencanaan Geologi, Noer Cholik, mengapresiasi inisiatif UNIMMA dalam membangun kesadaran mitigasi bencana melalui pendekatan akademik.
Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dan mahasiswa menjadi elemen penting dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.
“Kami mengapresiasi inisiatif dari UNIMMA, khususnya adik-adik mahasiswa melalui kegiatan ini. Kami dari pemerintah membutuhkan kehadiran akademisi dan mahasiswa, serta kolaborasi dengan masyarakat dan komunitas. Semakin banyak pihak yang terlibat dalam penanggulangan bencana, akan semakin baik hasilnya,” katanya.
Ia menegaskan, BPPTKG terbuka terhadap berbagai bentuk kerja sama pengurangan risiko bencana, terlebih UNIMMA berada di kawasan yang berdekatan dengan Gunung Merapi sehingga memiliki peran strategis dalam edukasi kebencanaan.
Sementara itu, Kepala Desa Sengi, Waji, menyampaikan bahwa masyarakat telah lama menjalin komunikasi dengan BPPTKG terkait informasi aktivitas Merapi. Menurutnya, kegiatan yang melibatkan mahasiswa UNIMMA tersebut semakin memperkuat kesiapsiagaan warga.
“Kami menyadari wilayah kami memang menjadi kawasan yang rawan terdampak bencana Gunung Merapi. Atas kehadiran mahasiswa dan BPPTKG yang memberikan informasi hari ini, kami mengucapkan terima kasih. Harapannya, ketika terjadi erupsi, pemerintah desa dapat turut menyampaikan informasi secara cepat dan tepat kepada masyarakat,” ungkapnya.
Melalui kolaborasi ini, UNIMMA menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat budaya mitigasi bencana sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan warga di kawasan lereng Gunung Merapi. (*)
