PULANG PISAU, MENARA62.COM – Di sela rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang sarat akan dialektika ilmiah, sebuah momen hangat dan reflektif hadir. Muhammad Irvan Yazid Azhar Pasaribu, seorang dosen Administrasi Publik, secara resmi melakukan soft launching novel debutnya yang berjudul Saat Namaku Dilupakan.
Novel ini menjadi karya unik yang menjembatani dunia logika seorang akademisi dengan kedalaman rasa seorang seniman. Lewat buku ini, Irvan menghadirkan kisah tentang Raka, seorang dosen, dan mahasiswinya yang bernama Alya. Keduanya terjebak dalam situasi tidak terduga di sebuah minimarket. Namun, di balik pertemuan sederhana itu, tersimpan perjalanan emosional yang kelam mengenai seseorang yang perlahan lenyap dari ingatan orang-orang terdekatnya—bukan hilang secara fisik, melainkan memudar dari memori dunia yang terus berputar.
“Novel ini adalah cara saya menyampaikan tentang pertemuan, kehilangan, dan hal-hal kecil yang diam-diam membekas,” tutur Irvan.
Dengan sinopsis yang menggugah, karya ini menantang pembaca untuk merenungkan pertanyaan eksistensial yang menghantui: “Apa yang tersisa ketika tidak ada lagi yang mengingat kita?”serta, “Apakah kita benar-benar ada jika tidak ada lagi yang mengingat kita?”
Acara peluncuran tersebut berlangsung emosional sekaligus inspiratif. Sebagai bentuk apresiasi, Irvan membagikan novelnya kepada para mahasiswa yang hadir, menjadikan buku ini sebagai jembatan dialog yang hangat antara pengajar dan anak didiknya. Melalui karya yang mengeksplorasi memori retak dan kesepian tanpa suara ini, Irvan membuktikan bahwa menjadi seorang pendidik bukan berarti harus terkungkung dalam sekat birokrasi, melainkan juga mampu menjadi penutur cerita yang memanusiakan setiap kenangan.


