MADIUN, MENARA62.COM – Mahasiswa semester 6 Program Studi D3 Kebidanan Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT), sebelumnya dikenal sebagai Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD), mengikuti praktik kebidanan selama dua pekan di wilayah kerja Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Madiun. Kegiatan praktik berlangsung mulai 20 April hingga 3 Mei 2026 sebagai bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Salah satu peserta praktik, Lutfiah Indriani, mengungkapkan dirinya menjalani praktik di Bidan Praktik Mandiri (BPM) Tutik Yuliawati, SST, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun. Selama praktik, mahasiswa menjalankan berbagai tugas pelayanan kebidanan sesuai jadwal kerja pagi dan sore.
“Saya melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan ibu hamil atau ANC terpadu, membantu pelayanan persalinan, hingga memantau ibu nifas dan neonatus,” ujar Lutfiah, Sabtu (23/5).
Tak hanya itu, mahasiswa juga terlibat dalam pelayanan imunisasi anak, pelayanan keluarga berencana (KB), serta membantu pemeriksaan pasien umum yang datang berobat.
Menurut Lutfiah, praktik kebidanan tersebut sekaligus menjadi bagian dari penyusunan Laporan Tugas Akhir. Mahasiswa diwajibkan mencari pasien yang akan mendapat asuhan kebidanan mulai masa kehamilan, persalinan, nifas hingga pelayanan KB.
Ia mengaku praktik persalinan menjadi salah satu pengalaman paling menantang selama menjalani pendidikan kebidanan. Sebab, proses persalinan membutuhkan ketelitian tinggi karena menyangkut keselamatan ibu dan bayi.
“Proses persalinan merupakan materi yang cukup rumit dan sangat penting karena menyangkut dua nyawa yang harus diselamatkan,” katanya.
Selain membantu persalinan, mahasiswa juga harus mampu menghitung detak jantung janin (DJJ), melakukan palpasi abdomen, hingga memeriksa kondisi bayi baru lahir atau neonatus. Penilaian dilakukan mulai dari kondisi tangisan bayi, usia kehamilan cukup bulan atau tidak, hingga kondisi kulit bayi saat lahir.
Pada masa nifas, mahasiswa praktik juga dituntut memahami tanda-tanda bahaya seperti perdarahan maupun kondisi kontraksi uterus ibu setelah melahirkan. Sementara pada pelayanan KB, ketepatan prosedur dan jenis alat kontrasepsi menjadi perhatian penting.
“Kalau KB itu harus benar, baik posisi maupun jenis obat KB yang diberikan. Jangan sampai salah,” jelasnya.
Melalui praktik kebidanan ini, Lutfiah berharap pengalaman lapangan yang diperoleh dapat meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat. (PJ)

