25.3 C
Jakarta

Doa Mustajab Penghilang Kemiskinan

Baca Juga:

Oleh: Suyoto (Pengajar Unmuh Gresik, Bupati Bojonegoro 2008-2018)

GRESIK, MENARA62.COM – “Yang miskin jadi cukup, Yang cukup jadi kaya, Yang kaya semakin kaya dan bermanfaat untuk sesama.”

Itulah doa yang selalu saya panjatkan saat menjabat sebagai Bupati Bojonegoro (2008–2018). Hasilnya, kemiskinan di Bojonegoro turun sekitar 50 persen dalam waktu 8 tahun. Dari peringkat ketiga termiskin di Jawa Timur, bergerak naik menjadi nomor 11.

Doa itu bukan hanya memberikan harapan, tetapi juga keyakinan tentang cara mencapainya. Kemiskinan hanya dapat diturunkan manakala ekonomi daerah tumbuh secara berkelanjutan. Untuk itu, diperlukan doa dalam tiga bentuk dimensi: doa qouliyyah (ucapan), haliyyah (keadaan/sikap), dan fi’liyyah (tindakan/perbuatan).

Modal Penting di Tengah Keterbatasan

Saya bersyukur mendapatkan kepercayaan memimpin Bojonegoro yang kala itu sarat masalah dan keterbatasan. Dari hampir 1,3 juta jiwa penduduknya, sebanyak 28,5% hidup dalam kemiskinan. Luas wilayahnya mencapai tiga kali lipat DKI Jakarta, namun dengan infrastruktur perhubungan dan pertanian yang rusak. Bojonegoro juga menjadi langganan banjir di musim hujan dan kekeringan ekstrem di musim kemarau. Tidak hanya itu, konflik sosial yang mengatasnamakan agama dan aliran pun kerap terjadi.

Saya sendiri datang dari kelompok minoritas: minoritas dukungan partai politik, latar belakang aliran keagamaan, modal uang, hingga cap mata sipit. Namun, latar belakang inilah yang kelak saya sadari sebagai modal penting dalam perjalanan kepemimpinan selama 10 tahun. Kepedihan pernah didiskriminasi membawa tekad kuat untuk mewujudkan kondisi sosial yang saling percaya dan mendukung.

Di tengah keterbatasan anggaran—APBD tahun 2008 hanya sebesar 850 miliar rupiah dengan tanggungan utang 350 miliar rupiah—serta kebutuhan yang sangat besar, keterbukaan publik menjadi pilihan paling rasional. Publik diberikan mekanisme untuk mengecek, bertanya, dan beraspirasi dalam pengelolaan aset serta anggaran daerah, mulai dari tahap perencanaan, eksekusi, hingga pelaporan.

Nomor handphone pribadi sengaja saya berikan kepada publik. Setiap Jumat siang, Dialog Jumat digelar terbuka untuk umum, dan pintu Pemkab selalu terbuka setiap saat. Keterbukaan ini menumbuhkan kepercayaan, dan kepercayaan melahirkan partisipasi aktif dari publik.

Inilah wujud nyata dari doa haliyyah; doa dengan menciptakan situasi sosial yang kondusif sebagai wadah proses pembangunan berkelanjutan. Pembangunan yang tujuan utamanya bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan, melainkan memastikan semua modal pembangunan ikut bertumbuh, meliputi: modal sosial, SDM, infrastruktur ekonomi, lingkungan hidup, dan spiritualitas sosial.

Mengelola Aktor Pembangunan dengan Politik Kekeluargaan

Bayangkan sebuah daerah atau negeri sebagai sebuah keluarga. Agar dapat bertumbuh bersama, diperlukan arah yang sama, kekompakan, dan partisipasi aktif dari semua anggota agar aset yang ada produktif secara berkelanjutan dan membahagiakan semua. Namun, harus diakui adanya anggota keluarga yang menjadi beban, baik karena faktor usia maupun keterbatasan lainnya. Sangat tidak bijak bila sang kepala keluarga, demi melindungi yang lemah, justru mengeksploitasi mereka yang kuat, atau bahkan memangkasnya agar turun kelas.

Komunikasi yang efektif diperlukan dengan ketulusan niat, kejujuran, dan keterbukaan agar empati dari semua pihak dapat bertumbuh. Dengan begitu, yang kuat akan semakin kuat dan mampu membantu yang lemah.

Doa untuk yang lemah

Bagaimana wujud doa fi’liyyah (program nyata) untuk warga miskin? Polanya adalah bantu agar tidak ada yang kelaparan, sekolahkan anaknya, dan obati bila mereka sakit. Pekerjaan ini dilakukan oleh Pemkab, namun berbasis pada partisipasi sosial.

Ada fakta menarik yang kami temukan di Bojonegoro: beberapa keluarga mampu justru jatuh miskin karena pengeluaran mendadak yang menggerus modal ekonomi mereka, terutama untuk biaya kesehatan, pendidikan, dan beban budaya saat ada kematian atau pesta pernikahan.

Untuk mengatasi hal ini, seiring dengan meningkatnya kapasitas fiskal daerah, kami membuat program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang mencakup mereka yang rentan, serta Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan untuk semua murid SLTA anak Bojonegoro, di mana pun mereka bersekolah.

Doa untuk yang Mampu dan Kaya

Lantas, bagaimana dengan doa untuk yang kaya? Apa yang membuat mereka kaya, dan bagaimana agar usaha mereka semakin bertumbuh serta bermanfaat melalui pajak maupun pembukaan lapangan kerja?

Secara umum, ada tiga jenis pengusaha kaya: karena kreativitas, jasa kontraktor proyek pemerintah, atau eksploitasi sumber daya alam (SDA). Untuk pengusaha jenis kedua dan ketiga, pemerintah harus mengatur dan mengawasinya dengan ketat. Sementara untuk jenis pertama (karena kreativitas), pemerintah wajib menggelar karpet merah, mendukung, dan memfasilitasi agar mereka terus tumbuh. Keberhasilan mereka akan membuka peluang tenaga kerja baru, meningkatkan pendapatan pajak, dan bahkan mendatangkan devisa bagi negara.

Ada ironi di masyarakat saat ini, di mana posisi orang kaya terkadang dipandang lebih rendah secara moral dibanding orang miskin. Orang kaya sering kali menjadi sasaran rasa iri dan gangguan, meskipun pada saat yang sama mereka selalu dimintai bantuan. Pembelaan politik dan perlakuan istimewa terhadap orang miskin selalu dianggap sebagai kemuliaan, baik karena alasan budaya maupun keagamaan.

Padahal, sebagai sebuah keluarga, orang yang kuat dan kaya sangat diperlukan agar keluarga tersebut memiliki kemampuan untuk mengangkat anggota yang lemah. Daerah yang sehat adalah daerah yang mampu tumbuh secara berkelanjutan, di mana kesejahteraan dicapai melalui pertumbuhan modal pembangunan.

Perbedaan antara kaya dan miskin adalah sebuah realitas. Eksploitasi perbedaan ini demi kepentingan politik dengan jargon “mengapa yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. Jangan sampai perbedaan tersebut didendangkan dengan nada kebencian dan tudingan.

Sebagai bagian dari kekuatan, doa dapat menjadi motor spiritual pembangunan. Itulah sebabnya, pilihan kita harus jatuh pada doa yang menghubungkan dan menghidupkan semua elemen masyarakat, bukan yang memisahkannya, apalagi saling melemahkan. Semoga yang miskin jadi cukup, yang cukup jadi kaya dan yang kaya semakin kaya dan bermanfaat untuk semua. Doa qouliyyah (ucapan) ini tentu saja, tidak cukup dipanjatkan sebagai ritual, namun harus dibarengi dengan doa haliyyah (keadaan/sikap), dan fi’liyyah (tindakan/perbuatan/kebijakan/program). Jangan pernah berpikir mengurangi kemiskinan dengan memotong mereka yang lebih dulu kaya. Tugas penguasa memastikan yang kaya tumbuh, tidak merusak namun bermanfaat.

Gresik, 18 Mei 2026

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!