MANOKWARI, MENARA62.COM – Senyum anak-anak di ufuk timur Indonesia adalah nyala harapan bagi masa depan bangsa. Menyadari hak setiap anak untuk mendapatkan keadilan dan akses pendidikan yang layak, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjadikan wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) sebagai jantung dari upaya pemerataan. Komitmen ini diwujudkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, melalui peresmian Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) di Manokwari, Papua Barat, bertepatan dengan momen perayaan Iduladha, Kamis (28/5).
Dalam kunjungannya, Menteri Mu’ti menegaskan bahwa wilayah Indonesia Timur menempati posisi prioritas dalam agenda pembangunan manusia. “Kami berkomitmen untuk bagaimana kesenjangan pendidikan itu dapat kami atasi secara bertahap dengan prioritas pada daerah-daerah 3T. Sehingga karena itu, kalau ada usulan-usulan unit sekolah baru di Indonesia Timur atau daerah 3T yang lainnya, kami akan berikan prioritas untuk tahun 2026 ini,” ungkapnya di hadapan jajaran pemerintah daerah dan masyarakat. Ruang afirmasi ini juga diberikan untuk memuluskan Wajib Belajar 13 Tahun yang akan dimulai sejak jenjang taman kanak-kanak.
Langkah afirmatif di wilayah 3T ini merupakan bagian tak terpisahkan dari visi besar pemerintahan saat ini. Menteri Mu’ti menjabarkan bahwa upaya tersebut adalah implementasi langsung dari Asta Cita keempat Presiden Prabowo Subianto yang bertekad memperbaiki seluruh sekolah di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun pertama. “Pak Presiden memberikan arahan untuk ditambah 60.000. Kalau tambah 60.000 ini dapat kita realisasi, maka 2026 kami akan melakukan revitalisasi termasuk pendirian unit sekolah baru untuk 71.744 satuan pendidikan di seluruh Indonesia,” jelasnya. Ia menambahkan, jika diakumulasikan dengan capaian tahun sebelumnya, maka dalam dua tahun pemerintah menargetkan perbaikan bagi hampir 100.000 sekolah.
Pemenuhan infrastruktur tersebut juga mematahkan anggapan bahwa perhatian pemerintah pada sektor pendidikan akan terbagi. Menteri Mu’ti dengan lugas memastikan program-program prioritas berjalan beriringan tanpa mengorbankan satu sama lain. “Jadi kalau ada yang bilang komitmen pendidikan itu dikurangi dengan MBG, itu bukan kenyataan yang kita lihat di lapangan. Justru komitmen Bapak Presiden tetap kuat untuk bagaimana pendidikan ini maju, MBG jalan terus, revitalisasi jalan terus, dan digitalisasi juga jalan terus,” tegasnya. Ke depan, kementerian merencanakan penambahan fasilitas Interactive Flat Panel (IFP) secara masif guna menunjang digitalisasi di setiap satuan pendidikan.
Kehadiran pemerintah pusat ini disambut baik oleh pemerintah daerah setempat. Mewakili Gubernur Papua Barat, Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat, Ali Baham Temongmere, menyampaikan penghargaan mendalam atas kesediaan Menteri Mu’ti, yang berkunjung di tengah suasana perayaan Hari Raya Iduladha. Hal tersebut dinilai mencerminkan keseriusan dan pengorbanan nyata pemerintah pusat dalam memajukan pendidikan di wilayah timur Indonesia. “Pemerintah Provinsi Papua Barat memiliki komitmen yang kuat untuk terus meningkatkan akses dan kualitas pendidikan di seluruh pelosok wilayah,” jelas Ali, seraya meyakini bahwa pendidikan adalah fondasi utama untuk mencetak sumber daya manusia yang cerdas dan berkarakter.
Di balik fasilitasnya, berdirinya SMAMCO menyimpan kisah gotong royong yang sangat menginspirasi. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Papua Barat, Mulyadi Djaya, menceritakan bahwa kompleks berisi 13 bangunan di atas perbukitan karang keras itu sukses diselesaikan hanya dalam waktu tiga bulan dari target 10 bulan. Keberhasilan ini semakin bermakna dengan inklusivitas murid, di mana 60 hingga 70 persennya merupakan anak-anak asli Papua dan non-muslim. “Muhammadiyah di Papua tidak sedang menanam sekat perbedaan, melainkan sedang menenun sajadah kemanusiaan yang universal melalui jalur pendidikan,” tutur Mulyadi.
Lebih dari sekadar ruang belajar, SMAMCO hadir sebagai garda terdepan pembentukan karakter peduli lingkungan. Kurikulumnya secara khusus menggunakan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), dengan falsafah pelestarian alam Igya Ser Hanjop milik masyarakat Pegunungan Arfak, sebuah komitmen adat untuk menjaga hutan beserta seluruh isinya sebagai satu-satunya sumber kehidupan. Melalui sinergi utuh antara pusat, daerah, dan kearifan masyarakat lokal, Kemendikdasmen terus merajut harapan agar setiap murid di ujung nusantara dapat meraih cita-citanya sembari menjaga kelestarian bumi tempat mereka berpijak.

