Oleh : Pujiono
Ketua FGM Kabupaten Boyolali/ Mudir PonpesMU Manafiul Ulum Sambi
BOYOLALI, MENARA62.COM – Sekolah swasta hidup dan berkembang karena kepercayaan masyarakat. Kepercayaan itu diwujudkan dalam bentuk hadirnya peserta didik yang memilih sekolah kita sebagai tempat belajar dan bertumbuh. Karena itu, suksesnya Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) bukan hanya tugas kepala sekolah atau panitia, melainkan tanggung jawab seluruh warga sekolah.
Lahirnya gerakan SAGU SAMU (Satu Guru Satu Siswa) merupakan ikhtiar sederhana namun berdampak besar. Filosofinya mudah: apabila setiap guru mampu mengajak minimal satu siswa baru, maka sekolah akan memperoleh tambahan siswa yang signifikan.
Di sekolah negeri, tugas utama guru memang berfokus pada proses pembelajaran karena keberlangsungan lembaga tidak terlalu bergantung pada jumlah siswa. Namun di sekolah swasta, realitasnya berbeda. Jumlah siswa sangat menentukan keberlangsungan program, kesejahteraan guru, pengembangan sarana, hingga masa depan sekolah itu sendiri.
Karena itulah, guru di sekolah swasta tidak cukup hanya datang, mengajar, lalu pulang. Guru adalah duta sekolah. Setiap ucapan, perilaku, prestasi, dan interaksi guru dengan masyarakat menjadi media promosi yang paling efektif.
Bahkan dalam banyak sekolah yang baru dirintis, salah satu pertimbangan penting dalam merekrut guru bukan hanya kemampuan mengajar, tetapi juga kemampuan membangun jaringan dan menghadirkan kepercayaan masyarakat. Sebab sekolah yang belum memiliki siswa tidak akan pernah memiliki ruang kelas yang hidup, sebaik apa pun kurikulumnya.
Inspirasi dari Lapangan
Gerakan SAGU SAMU bukan sekadar teori. Banyak sekolah telah membuktikan bahwa keterlibatan guru dalam mencari siswa mampu memberikan hasil nyata.
Salah satu inspirasi datang dari Ustadz Pahri, penggerak pendidikan di SMK Gondanglegi, Malang. Beliau pernah menyampaikan target yang cukup menantang, yaitu setiap guru yang sudah bersertifikasi diharapkan mampu menghadirkan minimal tiga siswa baru. Logikanya sederhana, guru yang telah memperoleh tunjangan profesi memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar untuk ikut menjaga keberlangsungan dan kemajuan lembaga tempatnya mengabdi.
Karena itu, jika dalam gerakan SAGU SAMU setiap guru ditarget satu siswa, maka bagi guru yang telah bersertifikasi, target tersebut layak ditingkatkan menjadi dua atau bahkan tiga siswa. Semakin besar amanah yang diterima, semakin besar pula kontribusi yang diharapkan.
Inspirasi lain datang dari Ustadz Sahid, Kepala SMP Muhammadiyah Sambi. Beberapa bulan lalu beliau melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat dengan metode door to door, mendatangi calon wali murid, berdialog, memperkenalkan program sekolah, dan membangun kepercayaan secara personal.
Hasilnya cukup menggembirakan. Dari ikhtiar tersebut berhasil diperoleh tiga siswa baru. Jumlah yang mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi sangat berarti bagi sekolah swasta. Tiga siswa bisa menjadi awal terbukanya kepercayaan masyarakat yang lebih luas.
Kisah ini mengajarkan bahwa mencari siswa tidak selalu harus melalui baliho besar, iklan mahal, atau promosi digital yang rumit. Terkadang sentuhan personal, silaturahmi, dan komunikasi dari hati ke hati justru lebih efektif.
Mengapa SAGU SAMU Penting?
1. Siswa adalah Nafas Sekolah
Tanpa siswa, sekolah hanya menjadi bangunan dan administrasi. Dengan siswa, sekolah memiliki kehidupan, aktivitas, dan masa depan.
2. Guru adalah Marketing Terbaik
Masyarakat lebih percaya kepada rekomendasi seorang guru dibandingkan spanduk atau brosur.
3. Kerja Bersama Lebih Ringan
Mencari 100 siswa terasa berat bagi satu panitia. Namun jika ada 50 guru dan masing-masing membawa dua siswa, target akan lebih mudah tercapai.
4. Bentuk Loyalitas kepada Lembaga
Keaktifan guru dalam membantu SPMB menunjukkan rasa memiliki terhadap sekolah tempatnya mengabdi.
Menanamkan Rasa Memiliki
Gerakan SAGU SAMU bukan sekadar mencari murid. Ini adalah gerakan membangun budaya bahwa seluruh guru adalah bagian dari tim besar yang bertanggung jawab atas keberlangsungan sekolah.
Ada ungkapan yang layak direnungkan:
“Sekolah swasta tidak kekurangan gedung, tidak kekurangan guru, dan tidak kekurangan program. Yang sering menjadi persoalan adalah kurangnya orang yang mau bergerak menjemput siswa.”
Maka semangat SAGU SAMU (Satu Guru Satu Siswa) harus menjadi gerakan bersama. Bahkan bagi guru yang telah bersertifikasi, semangatnya bisa ditingkatkan menjadi “SAGU TIS” (Satu Guru Tiga Siswa).
Karena pada akhirnya, kemajuan sekolah bukan hanya ditentukan oleh hebatnya kepala sekolah atau panitia PPDB, tetapi oleh banyaknya guru yang bersedia berkata:
“Sekolah ini adalah rumah dakwah dan pengabdian saya. Maka saya siap ikut memperjuangkan hadirnya siswa-siswa baru.” (*)

