YOGYAKARTA_MENARA62.COM– Media lokal memiliki peluang untuk berkompetisi di tengah persaingan industri media yang ketat dan penuh disrupsi digital saat ini. Dengan kekuatannya untuk dekat juga mengenali problem dan menjaga identitas masyarakat, media lokal dapat terus bertumbuh dan berkembang menjaga kepercayaan publik.
Hal itu mengemuka dalam lokakarya “Membangun Media Lokal yang Berkelanjutan” yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (8/7/2026).

Direktur Ekosistem Media Komdigi Farida Dewi Maharani menjelaskan, saat ini merupakan era perubahan dan disrupsi di mana teknologi informasi berdampak pada sektor media dan sendi kehidupan yang lain. Dalam memperoleh informasi, publik tak hanya mengandalkan media konvensional, seperti TV, radio, dan media cetak tapi mencakup kanal yang lebih beragam dengan hadirnya media sosial.
“Di satu sisi, akses informasi semakin banyak, tapi di sisi lain kondisi ini memberi tantangan pada industri media. Cara mengonsumsi media pun berbeda. Tiap orang juga bisa menjadi kreator konten dan mendistribusikan informasi. Namun dengan banyaknya informasi ini masyarakat juga menjadi gamang atas informasi yang dia terima,” paparnya.
Menurutnya, informasi di dunia maya juga telah ditentukan oleh teknologi algoritma. Informasi yang sensasional, emosional, dan kurang edukatif menyebar luas. Apalagi persaingan industri media juga semakin ketat.
“Situasi ini menjadi PR atau pekerjaan rumah bagi media. Apakah mengikuti situasi itu atau tetap bertahan sebagai entitas yang tetap menjaga akurasi verifikasi dan integritas jurnalisme,” tutur Farida.
Yang jelas, menurut dia, media pers harus berpegang pada komitmen untuk menghadirkan informasi terpercaya di ruang publik dan digital.
Media juga harus beradaptasi, bertransformasi, dan menjaga kredibilitasnya dengan membangun hubungan kuat dengan audiens, sehingga terus dipercaya.

“Kepercayaan publik menjadi aset berharga bagi media. Kepercayaan ini menjadi loyalitas yang berdampak pada keberlanjutan ekosistem industri media. Tanpa keberlanjutan, media akan sulit jadi watchdog. Jangan hanya karena algoritma, media kehilangan kepercayaan publik,” tandasnya.
Dalam konteks itulah, kapasitas media lokal mesti diperkuat. Sebab media lokal lebih dekat dengan masyarakat dan mengenal isu dan budaya lokal. Harapannya, media lokal menyediakan informasi yang relate dan dekat dengan masyarakat.
Adapun Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers Muhammad Jazuli menyatakan, semua platform media saat ini mengalami turbulensi. Sumber informasi bergeser ke media sosial. Celakanya, produksi konten informasi dapat dilakukan oleh siapapun tanpa dasar pengetahuan jurnalistik.
Dalam situasi itu, pers dihadapkan pada dia tantangan. Pertama, tantangan eksternal di mana pers dan media arus utama bekerja dalam koridor regulasi yang diatur undang-undang hingga kode etik.
Sementara media sosial memproduksi konten secara bebas tanpa aturan. Menurut Jazuli, dia entitas tersebut tak semestinya bertarung bebas di arena yang sama.
Adapun tantangan kedua menyangkut kondisi internal di mana media harus menjaga aset utamanya yakni kepercayaan publik. Sayangnya, dari catatan Dewan Pers kepercayaan publik pada media pers juga tergerus.

“Angka aduan ke Dewan Pers terus meningkat dari 600 kasus pada 2024, 1280 kasus pada 2025, dan tahun ini sudah tercatat 700 kasus. Rata-rata yang dilaporkan media yang telah terverifikasi Dewan Pers dengan aduan seputar keberimbangan, uji informasi, suap, dan pemerasan,” paparnya.
Dalam sesi lokakarya, Pemimpin Redaksi Tribun Jogja Ibnu Taufik Juwariyanto dan Content Marketing Manager Kompas.com Luthfi Kurniawan berbagi pengalaman pada puluhan pengelola media lokal di Yogyakarta tentang strategi menjadi media pers berkelanjutan di era disrupsi, termasuk dengan mengangkat berbagai potensi lokal. (rilis/AKH)
