LAMPUNG, MENARA62.COM – Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah menggelar Muhammadiyah Green Movement di Provinsi Lampung sebagai respons atas meningkatnya krisis lingkungan dan konflik antara manusia dengan satwa liar yang dilindungi. Gerakan ini juga menjadi upaya membangun kesadaran masyarakat setelah insiden tragis seekor tapir yang diburu dan dikonsumsi warga akibat minimnya pengetahuan tentang satwa dilindungi.
Kegiatan yang menjadi puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup tersebut berlangsung selama tiga hari, 3–5 Juli 2026, dengan rangkaian Bimbingan Teknis Sekolah Adiwiyata, penanaman pohon, Sekolah Konservasi, serta Pelatihan Kader Lingkungan (PKL).
Program ini merupakan kolaborasi MLH PP Muhammadiyah dengan Lazismu Pusat dan didukung Kementerian Lingkungan Hidup serta Kementerian Kehutanan sebagai bagian dari penguatan gerakan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat.
Bentuk Sekolah Peduli Lingkungan
Bimbingan Teknis Sekolah Adiwiyata yang digelar di Universitas Muhammadiyah Lampung diikuti 50 peserta perwakilan sekolah Muhammadiyah se-Lampung.
Kegiatan dibuka Sekretaris MLH PP Muhammadiyah Djihadul Mubarok dan dihadiri Rektor Universitas Muhammadiyah Lampung Dr. H. Dalman, M.Pd., jajaran PWM Lampung, Lazismu, Aisyiyah, organisasi otonom Muhammadiyah, serta para pegiat lingkungan.
Sejumlah narasumber dari Kementerian Lingkungan Hidup, Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, serta MLH PP Muhammadiyah memberikan materi mengenai pengelolaan sekolah berbudaya lingkungan.
Program Sekolah Adiwiyata bertujuan membangun budaya peduli lingkungan di sekolah melalui pembiasaan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Usai pelatihan, peserta bersama pimpinan Muhammadiyah melakukan penanaman pohon produktif di lingkungan kampus Universitas Muhammadiyah Lampung sebagai simbol komitmen terhadap penghijauan dan mitigasi perubahan iklim.
Edukasi Cegah Konflik Manusia dan Satwa
MLH PP Muhammadiyah menilai kasus tapir yang diburu warga menjadi peringatan penting bahwa edukasi konservasi harus diperkuat, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Hilangnya habitat akibat deforestasi membuat satwa liar seperti tapir, gajah, dan harimau Sumatra semakin sering memasuki kawasan permukiman sehingga meningkatkan potensi konflik.
Melalui Sekolah Konservasi dan Pelatihan Kader Lingkungan, peserta dibekali pemahaman mengenai pelestarian keanekaragaman hayati, mitigasi konflik satwa, hingga pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
“Masyarakat tidak bisa disalahkan sepenuhnya jika mereka belum paham. Di sinilah peran krusial edukasi. Menjaga alam dan keanekaragaman hayati bukan hanya tugas pemerintah atau Muhammadiyah, tetapi tanggung jawab bersama,” tegas penyelenggara.
MLH PP Muhammadiyah menekankan bahwa Lampung merupakan kawasan strategis bagi kelestarian satwa endemik Sumatra sehingga keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan konservasi.
Angkat Isu Pengelolaan Sampah
Selain konservasi satwa, pelatihan juga membahas persoalan pengelolaan sampah yang dinilai menjadi tantangan besar di berbagai daerah.
Materi tersebut disampaikan oleh narasumber dari Kementerian Lingkungan Hidup dengan harapan kader Muhammadiyah mampu menjadi motor edukasi pengelolaan sampah mulai dari tingkat rumah tangga hingga ranting, cabang, kabupaten, dan provinsi.
Peserta juga memperoleh pembekalan mengenai green leadership atau kepemimpinan berwawasan lingkungan serta pengelolaan hutan lestari yang berkemajuan.
Tiga Pilar Muhammadiyah Green Movement
Muhammadiyah Green Movement di Lampung mengusung tiga pilar utama sebagai strategi membangun gerakan lingkungan yang berkelanjutan, yakni Sekolah Adiwiyata untuk menanamkan karakter peduli lingkungan sejak usia dini, Pelatihan Kader Lingkungan guna mencetak agen perubahan di masyarakat, serta Sekolah Konservasi untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mitigasi konflik satwa dan pelestarian habitat.
Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, MLH PP Muhammadiyah berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga keanekaragaman hayati sehingga tidak lagi terjadi perburuan satwa dilindungi akibat kurangnya edukasi.
Gerakan ini juga diharapkan mampu melahirkan kader-kader lingkungan yang menjadi penggerak perubahan, mengubah cara pandang masyarakat dari pemburu menjadi penjaga alam demi menjaga kelestarian ekosistem dan masa depan keanekaragaman hayati Indonesia. (Djihadul Mubarok)


