29.9 C
Jakarta

Hari Anak Nasional, Guru Besar UMS: Jadikan Rumah Ruang Aman

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi momentum untuk mengingatkan kembali pentingnya pemenuhan hak-hak anak, termasuk hak untuk tumbuh di lingkungan yang aman, sehat, dan penuh kasih sayang. Guru Besar Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si., Psikolog, menegaskan bahwa rumah harus menjadi ruang aman pertama bagi setiap anak.

 

Menurut Sri Lestari, kualitas tumbuh kembang anak akan menentukan masa depan bangsa. Karena itu, Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli tidak seharusnya hanya menjadi seremoni, tetapi juga momentum refleksi bagi orang tua, keluarga, sekolah, dan masyarakat.

 

“Dalam Hari Anak, yang perlu ditanyakan adalah apakah hak-hak anak sudah terpenuhi dan apakah mereka hidup dengan cara yang membuat mereka bahagia. Saat ini masih banyak kasus kekerasan di keluarga maupun lingkungan pergaulan. Pertanyaannya, di mana ruang aman bagi anak?” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (23/7/2026).

 

Ia menilai berbagai kasus kekerasan, perundungan, hingga penindasan terhadap anak menunjukkan masih besarnya tantangan dalam mewujudkan lingkungan yang benar-benar ramah anak.

 

Orang Tua Perlu Memahami Hak Anak

 

Dari perspektif psikologi keluarga, Sri Lestari mengatakan masih banyak orang tua yang belum sepenuhnya memahami hak-hak dasar anak. Salah satunya adalah hak untuk menyampaikan pendapat dan menentukan pilihan sesuai tahap perkembangan usianya.

 

Ia mencontohkan, tidak sedikit remaja yang memilih jurusan kuliah bukan berdasarkan minat pribadi, melainkan karena tekanan atau keinginan orang tua.

 

“Anak perlu diberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan belajar mengambil keputusan. Pendampingan orang tua tetap penting, tetapi bukan berarti seluruh pilihan harus ditentukan oleh orang tua,” katanya.

 

Waspadai Dampak Gawai pada Anak

 

Sri Lestari juga menyoroti tantangan pengasuhan di era digital. Menurutnya, penggunaan gawai secara berlebihan dapat mengurangi interaksi langsung antara anak dan keluarga.

 

Ia mengingatkan, memberikan gawai kepada anak usia dini hanya agar mereka tenang berisiko menghambat perkembangan bahasa, kemampuan mengenali emosi, hingga keterampilan sosial.

 

“Anak usia prasekolah membutuhkan sentuhan, komunikasi, dan interaksi langsung. Itu yang membantu mereka belajar berbicara, mengenali emosi, dan mengendalikan diri,” jelasnya.

 

Ia menambahkan, meningkatnya kasus speech delay pada anak menjadi salah satu persoalan yang patut diwaspadai apabila penggunaan gawai tidak disertai pendampingan yang tepat.

 

Bullying Tinggalkan Luka Jangka Panjang

 

Dalam kesempatan tersebut, Sri Lestari turut menyoroti maraknya kasus perundungan di lingkungan pendidikan. Menurutnya, korban bullying berpotensi mengalami trauma, kecemasan, kehilangan rasa percaya diri, hingga kesulitan mengembangkan potensi diri.

 

Karena itu, pengenalan emosi sejak usia dini menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya perilaku agresif maupun perundungan.

 

“Anak yang terbiasa mengenali dan mengelola emosinya akan lebih mampu mengendalikan diri dibandingkan anak yang tidak mendapatkan pendampingan sejak kecil,” ujarnya.

 

Ia juga mengingatkan para guru agar tidak membanding-bandingkan kemampuan anak dengan teman atau saudara kandungnya karena pengalaman tersebut dapat membekas hingga dewasa.

 

Bangun Rumah yang Nyaman untuk Anak

 

Sri Lestari menegaskan bahwa membangun anak yang percaya diri dan mandiri dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua perlu menerima anak apa adanya, menyediakan waktu untuk berdialog, serta mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi.

 

Menurutnya, komunikasi yang hangat akan membuat anak merasa diterima sehingga lebih terbuka ketika menghadapi persoalan.

 

Menutup pesannya pada Hari Anak Nasional 2026, Sri Lestari mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat kolaborasi dalam menciptakan lingkungan yang ramah anak, mulai dari keluarga, sekolah, perguruan tinggi, hingga masyarakat.

 

Ia juga mengimbau orang tua memenuhi hak anak melalui langkah sederhana setiap hari, seperti menyediakan makanan bergizi, membatasi konsumsi makanan ultra-proses, mengurangi ketergantungan pada gawai, serta meluangkan waktu untuk berkomunikasi.

 

“Bila rumah menjadi ruang aman bagi anak, maka kita sedang menyiapkan generasi Indonesia yang sehat secara fisik, tangguh secara mental, dan siap menghadapi masa depan,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!