SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan kampus yang inklusif dan ramah disabilitas. Melalui Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta Inovasi (DKPTI), UMS menggelar In House Training Pendidikan Inklusif bagi Organisasi Mahasiswa (Ormawa) bertajuk “Membangun Kepedulian dan Komitmen: Bersama ORMAWA Mewujudkan Kampus Ramah Disabilitas”, Kamis (23/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS ini menjadi bagian dari Program Penguatan Ormawa untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya lingkungan kampus yang inklusif, aksesibel, dan bebas dari diskriminasi terhadap penyandang disabilitas.
Kepala Subdirektorat Soft Skill dan Layanan Kemahasiswaan DKPTI UMS, Siti Azizah Susilawati, S.Si., M.P., Ph.D., mengatakan pelatihan tersebut menjadi ruang belajar bersama bagi organisasi mahasiswa agar mampu menjadi agen perubahan dalam membangun budaya kampus yang ramah bagi seluruh mahasiswa.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang mendorong terwujudnya budaya kampus yang ramah terhadap seluruh mahasiswa, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas,” ujarnya.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I UMS, Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama sehingga tidak boleh ada perlakuan diskriminatif.
“Manusia adalah sebaik-baik ciptaan Allah, maka tidak boleh seorang pun merendahkannya. Merendahkan manusia sama dengan merendahkan Sang Pencipta,” tegasnya.
Menurut Ihwan, UMS tidak hanya berfokus pada pencapaian prestasi akademik maupun nonakademik, tetapi juga memastikan seluruh mahasiswa memperoleh hak belajar yang setara, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas.
“Kampus tidak hanya melahirkan juara dan prestasi, tetapi juga tidak akan meninggalkan siapa pun, terutama mahasiswa penyandang disabilitas. Karena itu, kampus ramah difabel harus kita wujudkan bersama,” tambahnya.
Dalam sesi materi, Dr. Joko Yuwono, M.Pd., memaparkan pentingnya perguruan tinggi memahami ragam disabilitas, mulai dari disabilitas fisik, sensorik, mental, hingga intelektual. Ia menekankan bahwa setiap mahasiswa berhak mendapatkan akomodasi yang layak agar dapat mengikuti proses pembelajaran secara optimal.
“Pastikan semua orang di sekitar kita tidak ditinggal dan tidak tertinggal hanya karena adanya perbedaan atau kondisi disabilitas,” pesannya.
Sementara itu, Arsy Anggrellangi, S.Pd., M.Pd., mengajak organisasi mahasiswa menerapkan prinsip inklusivitas dalam setiap kegiatan kemahasiswaan. Mulai dari memilih lokasi yang mudah diakses, menyediakan materi yang ramah disabilitas, menggunakan komunikasi yang inklusif, hingga melibatkan mahasiswa penyandang disabilitas dalam kepanitiaan.
Pelatihan semakin menarik ketika peserta mengikuti simulasi yang menggambarkan tantangan yang dihadapi penyandang tunanetra dan tunawicara. Simulasi tersebut memberikan pengalaman langsung untuk membangun empati sekaligus meningkatkan kesadaran pentingnya menciptakan lingkungan yang lebih aksesibel.
Pada sesi penutup, Safira Nur Fitriana, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa inklusivitas bukan hanya soal penyediaan fasilitas fisik, melainkan juga membangun budaya saling memahami dan menghargai.
“Inklusivitas adalah tentang menciptakan ruang di mana setiap orang diterima dan dihargai. Sebagai anggota organisasi mahasiswa, kita harus peka terhadap lingkungan sekitar, terutama kepada penyandang disabilitas. Keterbukaan dan kepedulian antar sesama menjadi kunci terwujudnya kampus yang benar-benar inklusif,” ungkapnya.
Salah seorang peserta, Rifat, mengaku mendapatkan pengalaman berharga selama mengikuti pelatihan.
“Kesan dari kegiatan ini sangat seru juga menyenangkan, karena dengan acara pelatihan ini inklusivitas di perguruan tinggi akan terwujud,” katanya.
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan deklarasi bersama untuk mendukung terwujudnya kampus inklusif bagi penyandang disabilitas. Melalui pelatihan ini, DKPTI UMS berharap organisasi mahasiswa dapat menjadi motor penggerak dalam menumbuhkan budaya inklusif sehingga seluruh mahasiswa memperoleh kesempatan belajar yang setara tanpa diskriminasi. (*)

