SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan inovasi GURU ID DIGITAL (Inovator Desain-pembelajaran Digital) sebagai solusi meningkatkan kompetensi pedagogi digital guru agar lebih adaptif terhadap karakteristik belajar Generasi Z. Program pengabdian masyarakat ini membekali guru dengan pendekatan Design Thinking untuk menciptakan pembelajaran yang interaktif, kreatif, dan berpusat pada kebutuhan siswa.
Program tersebut didanai oleh Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui skema Hibah Riset Nasional Muhammadiyah Batch IX Tahun 2025.
Tim pengabdian dipimpin oleh Ir. Raden Danang Aryo Putro Satriyono, S.T., M.T., bersama Ekan Faozi, S.Kep., Ns., M.Kep., dan Arga Seta Asmara Sakti, S.T., M.Sc. Kegiatan menggandeng Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jajar, Laweyan, Surakarta, dengan melibatkan 24 guru dari SMP Muhammadiyah 10 Surakarta dan SD Muhammadiyah Alam Surya Mentari.
Menjawab Tantangan Pembelajaran Era Digital
Ketua tim pengabdian menjelaskan, transformasi digital di dunia pendidikan pascapandemi masih menyisakan berbagai tantangan. Banyak guru telah menggunakan platform digital, namun proses pembelajaran masih sebatas memindahkan materi dari buku atau presentasi ke format digital tanpa mengubah pendekatan mengajar.
Fenomena yang dikenal sebagai lift-and-shift tersebut dinilai kurang sesuai dengan karakter Generasi Z yang tumbuh di lingkungan digital, visual, cepat, dan interaktif.
Akibatnya, siswa lebih mudah mengalami kejenuhan belajar, menurunnya partisipasi, hingga kesulitan memahami materi karena tingginya beban kognitif.
Di sisi lain, guru juga menghadapi beban administratif yang tinggi sehingga memiliki keterbatasan waktu untuk merancang pengalaman belajar yang menarik.
Melalui program GURU ID DIGITAL, UMS mendorong guru bertransformasi dari sekadar penyampai materi menjadi perancang pengalaman belajar (learning experience designer) yang mampu menghadirkan pembelajaran lebih bermakna.
Terapkan Design Thinking di Ruang Kelas
Program ini menggunakan pendekatan Design Thinking yang berfokus pada kebutuhan siswa melalui lima tahapan.
Pada tahap Empathize, guru diajak menggali aspirasi dan pengalaman belajar siswa melalui survei digital dan jajak pendapat interaktif.
Selanjutnya pada tahap Define, berbagai masukan siswa dipetakan untuk menemukan persoalan utama dalam proses pembelajaran.
Tahap Ideate dimanfaatkan untuk menyusun berbagai ide media pembelajaran kreatif secara kolaboratif menggunakan platform digital.
Kemudian guru membuat purwarupa media berupa infografis, video pembelajaran singkat, hingga kuis interaktif menggunakan Canva, CapCut, dan Quizizz.
Seluruh hasil karya selanjutnya diuji melalui simulasi mengajar (peer teaching) dengan dukungan Smart TV 4K dan perangkat multimedia yang dihibahkan kepada mitra.
Kompetensi Guru Meningkat Signifikan
Evaluasi program menunjukkan hasil yang menggembirakan. Nilai rata-rata pemahaman guru mengenai Design Thinking dan pedagogi digital meningkat dari 52,1 sebelum pelatihan menjadi 86,3 setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Selama pelatihan, peserta berhasil menghasilkan 14 media pembelajaran digital, terdiri atas lima video pembelajaran, lima kuis interaktif, serta empat infografis edukatif yang siap digunakan di kelas.
Selain itu, pengujian menggunakan System Usability Scale (SUS) memperoleh skor rata-rata 78,5, yang masuk kategori Good (Acceptable). Hasil tersebut menunjukkan bahwa aplikasi yang digunakan mudah dioperasikan dan tidak menimbulkan kelelahan kognitif bagi guru dari berbagai kelompok usia.
Program ini juga mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, terutama melalui keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat serta pemanfaatan hasil penelitian untuk kebutuhan pendidikan.
Dorong Integrasi AI dalam Pembelajaran
Ke depan, tim pengabdian merekomendasikan agar media pembelajaran digital yang telah dihasilkan diintegrasikan ke dalam Learning Management System (LMS) sekolah sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Tim juga mendorong pemanfaatan teknologi Generative Artificial Intelligence (AI), seperti ChatGPT dan Canva AI, untuk membantu guru menyusun materi ajar dan mengurangi beban administratif tanpa mengurangi kualitas pedagogi.
Melalui sinergi antara akademisi UMS, PRM Jajar, dan Diktilitbang PP Muhammadiyah, program GURU ID DIGITAL diharapkan menjadi model pengembangan pendidikan digital yang humanis, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan Generasi Z, sekaligus memperkuat kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah Muhammadiyah maupun pendidikan nasional. (*)
