30 C
Jakarta

Hasil PISA 2025 Dirilis, Kemendikdasmen Minta Publik Tak Terjebak Angka dan Peringkat

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM — Hasil asesmen kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, matematika, dan sains akhirnya dirilis. Namun, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meminta publik tidak buru-buru menjadikan angka dan peringkat sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan nasional.

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan hasil  Programme for International Student (PISA) 2025 harus dibaca secara utuh. Menurutnya, asesmen tersebut bukan hanya mengukur seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai siswa, tetapi juga kemampuan mereka memahami, menggunakan, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

“PISA juga tidak hanya mengukur penguasaan pengetahuan, tetapi juga kemampuan murid-murid kita dalam memahami, menggunakan, dan juga menerapkan pengetahuan tersebut di dalam konteks kehidupan,” ujar Toni dalam pemaparan hasil PISA 2025.

Toni menegaskan capaian PISA tidak semestinya hanya digunakan untuk melihat posisi Indonesia dibandingkan negara lain. Hal yang sama berlaku ketika hasil asesmen digunakan untuk membandingkan daerah maupun sekolah.

Menurutnya, setiap capaian memiliki konteks masing-masing. Faktor seperti perluasan akses pendidikan, keberagaman latar belakang siswa, hingga kondisi pembelajaran turut memengaruhi hasil yang diperoleh.

“Kami mengajak media ataupun publik untuk tidak menjadikan hasil PISA ini sebagai perbandingan yang bisa menimbulkan sesuatu yang negatif,” kata Toni.

Alih-alih terjebak pada peringkat, pemerintah mendorong publik melihat apa yang sudah membaik, apa yang masih menjadi tantangan, serta langkah konkret yang harus dilakukan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.

Toni menyebut hasil PISA 2025 juga menjadi salah satu gambaran bahwa arah kebijakan Kemendikdasmen dalam meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah berada di jalur yang tepat. Sejumlah kebijakan yang tengah dijalankan antara lain penguatan kompetensi guru, implementasi pembelajaran mendalam, penguatan literasi, numerasi, dan sains, serta penerapan pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial.

Selain itu, pemerintah melakukan penyempurnaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Asesmen Nasional serta menerapkan penjaminan mutu berbasis data.

Namun, tantangan berikutnya bukan sekadar meluncurkan kebijakan. Pemerintah harus memastikan seluruh program tersebut berjalan konsisten, terintegrasi, dan benar-benar memberikan dampak terhadap pengalaman belajar siswa di ruang kelas.

“Ukuran keberhasilan kita bukan sekadar naiknya posisi Indonesia di dalam peringkat PISA, melainkan semakin kuatnya kemampuan murid kita dalam bernalar, memecahkan masalah, dan juga belajar sepanjang hayat,” ujar Toni.

Hasil PISA 2025 selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut bagi pemerintah, termasuk Kemendikdasmen dan Kementerian Agama, untuk memperkuat mutu pendidikan di Indonesia. Dengan demikian, pemerintah berharap hasil asesmen tidak berhenti sebagai angka dalam laporan, tetapi menjadi pijakan untuk memperbaiki proses pembelajaran dan memastikan setiap anak mendapatkan pendidikan yang semakin berkualitas.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!