SOLO, MENARA62.COM – Menempuh pendidikan pascasarjana bukan sekadar jalan untuk mendapatkan gelar akademik. Lebih dari itu, mahasiswa dituntut mampu melahirkan gagasan, menemukan pengetahuan baru, dan memberikan solusi atas persoalan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof. Dr. M. Farid Wajdi, M.M., Ph.D., saat memberikan motivasi dalam Orientasi Mahasiswa Baru Pascasarjana UMS, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Seminar Pascasarjana Lantai 5 Gedung L Kampus 2 UMS. Dalam sambutannya, Farid menekankan pentingnya mahasiswa memandang pendidikan pascasarjana sebagai proses membangun intelegensia sekaligus menyiapkan kontribusi bagi masyarakat dan peradaban.
Menurut dia, terjadi perubahan peran mahasiswa pada setiap jenjang pendidikan. Jika mahasiswa sarjana lebih banyak mempelajari pengetahuan yang telah tersedia, mahasiswa magister dituntut mampu memahami lebih dalam alasan dan cara kerja suatu ilmu.
Sementara itu, mahasiswa doktoral menghadapi tuntutan yang lebih tinggi, yakni menemukan sesuatu yang belum diketahui sebelumnya.
“Doktor itu harus menemukan sesuatu yang baru, ada novelty. Itu yang menjadi tantangan,” pesan Farid kepada mahasiswa baru.
Riset Bukan Sekadar Tugas Akademik
Farid menjelaskan, penelitian seharusnya tidak dipandang sebatas kewajiban untuk menyelesaikan tesis atau disertasi. Riset merupakan salah satu cara utama untuk memahami persoalan sekaligus menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan.
Karena itu, mahasiswa pascasarjana didorong membangun kultur akademik yang kuat sejak awal perkuliahan. Membaca sebelum berbicara, menggunakan data dan evidensi dalam menyusun argumentasi, serta membiasakan diri menguji informasi menjadi bagian penting dari tradisi akademik.
“Jangan sampai berbicara tanpa dasar. Biasakan membaca, kemudian berbicara berdasarkan data dan evidensi,” ujarnya.
Menurut Farid, budaya tersebut akan membentuk mahasiswa menjadi insan akademik yang mampu berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan secara sistematis.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti belajar setelah memperoleh gelar. Perubahan dunia yang berlangsung cepat, mulai digitalisasi, perkembangan kecerdasan buatan (AI), perubahan demografi hingga persoalan lingkungan, menuntut kemampuan untuk terus beradaptasi.
“Jangan berhenti belajar setelah mendapatkan gelar. Kita harus menjadi pembelajar sepanjang hayat,” katanya.
AI Harus Dikritisi, Bukan Ditelan Mentah
Salah satu tantangan yang turut disoroti Farid adalah perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan.
Menurut dia, AI dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat dalam proses akademik dan penelitian. Namun, mahasiswa tidak boleh menggunakannya secara pasif atau menerima setiap informasi yang dihasilkan AI tanpa pemeriksaan.
AI, kata dia, masih memiliki keterbatasan, termasuk kemungkinan menghasilkan informasi yang keliru atau tidak sesuai fakta.
Karena itu, mahasiswa pascasarjana justru harus memiliki kemampuan berpikir kritis yang semakin kuat di tengah kemajuan teknologi.
“Jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Kita harus mampu mengkritisi dan membangun solusi,” pesannya.
Bagi Farid, kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemampuan mengevaluasi informasi. Dengan demikian, teknologi tidak mengambil alih proses berpikir akademik mahasiswa.
Ilmu, Iman, dan Amal
Di sisi lain, pendidikan pascasarjana UMS juga diarahkan untuk membangun keseimbangan antara kecerdasan intelektual, nilai moral, dan kontribusi nyata.
Farid menekankan pentingnya integrasi antara ilmu, iman, dan amal. Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan personal, tetapi diterjemahkan menjadi tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Ilmu harus memiliki nilai dan diwujudkan dalam amal,” ujarnya.
Ia juga mengajak mahasiswa memanfaatkan masa studi untuk membangun jejaring. Lingkungan pascasarjana mempertemukan mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan, profesi, daerah, bahkan negara.
Menurutnya, relasi tersebut dapat menjadi modal penting, bukan hanya selama menempuh studi, tetapi juga dalam perjalanan profesional dan pengembangan kolaborasi riset pada masa mendatang.
Farid memastikan lingkungan akademik Pascasarjana UMS siap mendukung perjalanan intelektual mahasiswa melalui dosen, program studi, dan ekosistem akademik yang tersedia.
Ia berharap mahasiswa baru tidak menjadikan pascasarjana sekadar tempat memperoleh gelar, tetapi sebagai laboratorium untuk mengasah cara berpikir, menghasilkan gagasan, melakukan penelitian, dan menghadirkan kontribusi nyata.
Dengan bekal tersebut, lulusan Pascasarjana UMS diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kemampuan berinovasi, serta kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.
“Semoga Allah SWT memberikan keberkahan dan kemudahan dalam setiap langkah studi,” kata Farid. (*)

