30 C
Jakarta

Alumni FK UMS Ini Hafal 30 Juz, Kini Jadi Dokter

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Keterbatasan ekonomi keluarga tak selalu menjadi penghalang untuk meraih cita-cita. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/, dr. Supandi Hasan, Sp.PD-Fel (Onk), membuktikannya.

 

Berangkat dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, Supandi kini menjadi dokter sekaligus hafiz Al-Qur’an 30 juz. Kisah tersebut ia bagikan saat memotivasi mahasiswa baru dalam Ekspo UKM UMS, Kamis (10/9/2026).

 

Di hadapan mahasiswa, Hasan, sapaan akrabnya, mengawali motivasi dengan sebuah pertanyaan sederhana.

 

“Sepuluh tahun yang akan datang akan jadi apa?” tanyanya.

 

Pertanyaan itu menjadi pintu masuk bagi Hasan untuk mengajak mahasiswa UMS mulai menentukan arah masa depan sejak bangku kuliah. Menurut dia, mahasiswa tidak boleh membiarkan latar belakang keluarga menentukan sejauh mana mereka boleh bermimpi.

 

Hasan menceritakan, ibunya hanya menempuh pendidikan hingga sekolah dasar, sedangkan ayahnya tidak mengenyam pendidikan formal. Kondisi tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya.

 

“Tidak peduli anak siapa, jadilah diri sendiri. Karena syubbanul yaum rijalul ghod, pemuda masa kini adalah pemimpin masa depan,” ujarnya.

 

Ia meminta mahasiswa memiliki keyakinan terhadap kemampuan diri, berani berjuang, dan menjadikan kehidupan mereka kelak sebagai sarana memberi manfaat kepada masyarakat.

 

“Katakanlah, inilah saya, saya yang berjuang dan saya akan bermanfaat untuk masyarakat,” kata Hasan.

 

Hafal 30 Juz dalam Dua Tahun

 

Selain perjalanan menjadi dokter, Hasan membagikan kisahnya ketika menghafal Al-Qur’an. Ia mulai menghafal saat menempuh pendidikan di Pesantren Tahfidzul Qur’an Isy Karima.

 

Program pendidikan tersebut ditempuh selama empat tahun. Namun, Hasan mampu menuntaskan hafalan 30 juz dalam waktu dua tahun.

 

Bagi Hasan, pengalaman menghafal Al-Qur’an bukan sekadar pencapaian personal. Ia meyakini keberkahan Al-Qur’an turut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya dalam mengejar cita-cita.

 

Pengalaman itu pula yang ingin ia tularkan kepada mahasiswa baru UMS agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi keterbatasan.

 

“Saya dulu sempat tidak ada harapan karena orang tua dari background orang tua yang tidak mampu. Tapi saya memiliki Al-Qur’an. Dengan Al-Qur’an saya berharap mendapatkan keberkahan dari Al-Qur’an. Makanya Allah membukakan jalan cita-cita saya,” tuturnya.

 

Menariknya, cita-cita tersebut ternyata sudah ia tuliskan sejak duduk di kelas tiga SMP. Saat itu, Hasan menuliskan keinginannya untuk menjadi hafiz Al-Qur’an sekaligus dokter.

 

“Ternyata saya dulu di kelas tiga SMP itu saya menulis bahwa cita-cita saya sebagai seorang hafiz Quran dan dokter. Dan Alhamdulillah Allah membukakan itu,” ungkapnya.

 

Jangan Hanya Kejar IPK

 

Kepada mahasiswa baru UMS, Hasan berpesan agar masa kuliah tidak hanya digunakan untuk mengejar prestasi akademik. Menurut dia, mahasiswa juga perlu membangun keterampilan yang akan menjadi bekal ketika memasuki dunia profesional.

 

“Selama di UMS jangan cuma mengejar IPK atau akademik saja. Memang ilmu itu penting karena dengan ilmu kita bisa kompeten. Tapi yang kedua adalah skill,” jelasnya.

 

Ia menyebut kemampuan membangun jejaring atau networking dan public speaking sebagai sejumlah keterampilan yang penting dikembangkan mahasiswa.

 

Menurut Hasan, kombinasi antara ilmu dan keterampilan akan membuat mahasiswa tidak hanya kompeten di bidangnya, tetapi juga mampu memberikan dampak lebih luas.

 

“Dengan dua hal tersebut, ilmu kemudian skill, kita bisa memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat secara luas,” katanya.

 

Hasan juga mengingatkan mahasiswa bahwa makna kepemimpinan tidak terbatas pada jabatan politik atau pemerintahan. Kepemimpinan, kata dia, dapat diwujudkan melalui berbagai profesi dan bidang pengabdian.

 

Ia berharap mahasiswa UMS dapat tumbuh menjadi dokter, engineer, insinyur, dosen, peneliti, maupun profesional di berbagai bidang.

 

“Jangan pernah berhenti bermimpi. Dari delapan ribu mahasiswa itu saya berharap mereka jadi pemimpin masa depan. Jadi dokter, engineer, insinyur, kemudian jadi dosen, kemudian peneliti. Atau profesi yang hebat lainnya,” ujarnya.

 

Berharap Lahir Pemimpin dari UMS

 

Melihat antusiasme mahasiswa baru dalam kegiatan tersebut, Hasan menyimpan harapan besar. Ia ingin kampus tempatnya menempuh pendidikan dahulu menjadi tempat lahirnya generasi pemimpin masa depan.

 

“Saya senang melihat tadi ada calon pemimpin masa depan. Saya berharap mereka menjadi pemimpin yang lahir dari rahim UMS,” ungkapnya.

 

Ia juga menyinggung peluang pendidikan bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Menurut Hasan, keterbatasan ekonomi bukan lagi alasan untuk berhenti melanjutkan pendidikan karena tersedia berbagai peluang beasiswa.

 

Karena itu, ia mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan kesempatan selama berada di UMS dengan belajar sungguh-sungguh, mengembangkan keterampilan, memperluas jaringan, dan tetap menjaga kedekatan dengan Allah.

 

“Yang paling penting adalah belajar, berjuang, kemudian jangan melupakan Allah,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!