34.6 C
Jakarta

UM Bandung Bekali 684 Calon Wisudawan Jadi Sarjana Berkemajuan

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM — Menjadi sarjana bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. Gelar akademik justru menjadi awal tanggung jawab baru untuk mengamalkan ilmu, beradaptasi dengan perubahan zaman, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

 

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung yang diikuti 684 calon wisudawan dan wisudawati di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Kamis (10/9/2026).

 

Salah satu materi pembekalan yang diberikan kepada calon lulusan mengangkat tema “Sarjana Berkemajuan”. Materi tersebut disampaikan Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPAIK) UM Bandung, Dr Dikdik Dahlan Lukman, M.Hum.

 

Dalam pemaparannya, Dikdik mengajak calon sarjana memahami kembali makna gelar akademik di tengah perubahan dunia kerja dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).

 

Menurutnya, keberhasilan seorang sarjana tidak semata-mata ditentukan oleh kepemilikan ijazah ataupun seberapa cepat mendapatkan pekerjaan. Lebih dari itu, seorang sarjana harus memiliki karakter yang mampu menjadi bekal dalam menghadapi berbagai perubahan.

 

Dikdik menyebut lima karakter penting yang perlu melekat pada lulusan UM Bandung, yakni beriman, berilmu, berintegritas, berkemajuan, dan berkemanfaatan.

 

Kelima karakter tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa kompetensi akademik dan profesional harus berjalan beriringan dengan iman, integritas, serta kepedulian terhadap masyarakat.

 

“Sarjana berkemajuan bukan hanya sarjana yang berilmu. Namun, sarjana yang ilmunya berorientasi kepada Allah, memiliki integritas, terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, dan memberikan manfaat bagi kehidupan,” ujar Dikdik.

 

Hadapi Era AI

 

Dikdik menilai pesan tentang kebermanfaatan semakin penting ketika para lulusan memasuki dunia yang bergerak cepat. Perkembangan teknologi dan AI membuat pengetahuan serta keterampilan terus mengalami perubahan.

 

Karena itu, calon sarjana tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi yang diperoleh selama menempuh pendidikan tinggi. Mereka dituntut memiliki kemauan untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan diri sepanjang hayat.

 

Dalam perspektif Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, ilmu juga tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ilmu memiliki dimensi pengabdian kepada Allah dan kemanfaatan bagi kehidupan.

 

Semakin luas ilmu dan kemampuan seseorang, semakin besar pula peluang untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat.

 

Pesan itu menjadi pengingat bagi calon wisudawan UM Bandung bahwa kecerdasan dan keahlian semestinya tidak hanya digunakan untuk mengejar kesuksesan personal, tetapi juga menjadi sarana menghadirkan kebaikan bagi sesama.

 

Pendidikan Buka Peluang Kesejahteraan

 

Perspektif lain disampaikan Wakil Dekan Fakultas Agama Islam UM Bandung, Dr Yudi Daryadi, M.Ag. Ia membahas hubungan antara pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan kualitas hidup.

 

Menurut Yudi, semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh seseorang, semakin besar peluang untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik, pendapatan lebih tinggi, dan kualitas hidup yang lebih layak.

 

“Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, semakin besar peluangnya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih tinggi, dan kualitas hidup yang lebih layak,” ujar Yudi.

 

Meski demikian, Yudi mengingatkan bahwa pendidikan bukan satu-satunya faktor yang menentukan tingkat kesejahteraan seseorang.

 

Hubungan antara pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan kualitas hidup juga dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti kondisi sosial ekonomi, keluarga, gender, lokasi tempat tinggal, kesempatan kerja, hingga akses terhadap layanan publik.

 

Untuk menjelaskan hal tersebut, Yudi mengutip sejumlah perspektif, di antaranya Human Capital Theory dari Gary S. Becker, Signaling Theory dari Michael Spence, perspektif Pierre Bourdieu, serta Capability Approach yang dikembangkan Amartya Sen.

 

Berbagai perspektif tersebut menunjukkan bahwa pendidikan memang dapat memperbesar peluang seseorang meningkatkan kesejahteraan, tetapi dampaknya tidak berlangsung secara otomatis.

 

Setelah lulus, para sarjana tetap perlu mengembangkan kompetensi, membangun jejaring, membaca peluang, dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan.

 

Jangan Berhenti Belajar

 

Yudi juga mendorong calon sarjana UM Bandung untuk tidak menjadikan wisuda sebagai titik akhir proses belajar. Menurutnya, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi masih terbuka luas.

 

Salah satunya melalui berbagai program beasiswa yang disediakan pemerintah.

 

“Jangan berhenti belajar setelah mendapatkan gelar sarjana. Kalau ada kesempatan, lanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dan manfaatkan berbagai beasiswa yang tersedia,” ungkap Yudi.

 

Pesan tersebut menegaskan bahwa kelulusan dari perguruan tinggi merupakan awal dari fase baru. Para lulusan dituntut memperdalam keahlian, memperluas wawasan, membangun jejaring, serta menemukan ruang kontribusi yang lebih besar.

 

Bagi UM Bandung, pembekalan melalui BAPS diharapkan tidak sekadar mempersiapkan calon wisudawan memasuki dunia kerja, tetapi juga membentuk lulusan yang mampu mengintegrasikan ilmu, iman, integritas, kemajuan, dan kebermanfaatan dalam kehidupan. (FA/FK)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!