JAKARTA, MENARA62.COM — Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Dr. H. Amirsyah Tambunan, M.A., mengapresiasi pelaksanaan Grand Launching Shiratha dan Charity Fun Run yang digelar di kawasan Parkir Selatan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Ahad (13/9/2026).
Melati kuntum tumbuh melata,
Sayang merbah di pohon cemara.
Assalamualaikum mulainya kata,
Salam takzim pembuka bicara.
Memetik apel merah ranum,
Matang benar merah buahnya.
Kuucapkan Assalamualaikum,
Salam sejahtera buat semuanya.
Dalam sambutannya, Buya Amirsyah menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan momentum positif untuk membangun optimisme dan menggerakkan kembali perekonomian masyarakat, khususnya di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurutnya, UMKM memiliki posisi strategis dalam menggerakkan ekonomi masyarakat sehingga membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat, mulai dari pembiayaan, pemberdayaan, pemasaran, produk halal, hingga pengembangan sektor pariwisata.
“Di tengah kelesuan UMKM, kita harus terus berusaha agar ekonomi masyarakat dapat tumbuh. Karena itu, diperlukan ekosistem yang kuat dan kolaborasi dari berbagai pihak,” ujar Buya Amirsyah.
Ia kemudian mengutip pengalaman Lee Kuan Yew, Perdana Menteri pertama Singapura yang menjabat pada 1959–1990. Menurut Buya Amirsyah, Singapura merupakan salah satu contoh negara yang mampu bangkit dari keterbatasan dan membangun kekuatan ekonominya melalui kepemimpinan, perencanaan, serta pembangunan ekosistem yang konsisten.
“Pengalaman Lee Kuan Yew menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk tidak bangkit. Yang diperlukan adalah visi, kerja keras, konsistensi, dan kemampuan membangun ekosistem yang produktif,” katanya.
Dorong Penguatan Ekosistem Wakaf, Buya Amirsyah menekankan sedikitnya dua hal yang perlu diperkuat dalam membangun ekosistem ekonomi umat.
Pertama, penguatan ekosistem wakaf melalui Lembaga Wakaf MUI (LW MUI). Wakaf, kata dia, harus terus dikembangkan agar tidak hanya menjadi aset sosial-keagamaan, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
“Wakaf harus kita dorong menjadi wakaf produktif. Dengan pengelolaan yang profesional dan amanah, wakaf dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi umat, termasuk mendukung UMKM dan program-program sosial masyarakat,” jelasnya.
Kedua, pengembangan wisata yang ramah lingkungan dan halal. Buya Amirsyah menyebut konsep tersebut sebagai bagian dari gagasan 2W+1H, yakni penguatan wakaf produktif, wisata ramah lingkungan, dan halal.
Menurutnya, ketiga unsur tersebut dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang saling terhubung dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Konsep 2W+1H ini dapat menjadi ekosistem yang memperkuat ekonomi umat. Ada wakaf produktif, wisata yang ramah lingkungan, dan wisata serta produk yang memenuhi prinsip halal,” ujarnya.
Momentum Wajib Halal Oktober 2026, Buya Amirsyah juga menyinggung pentingnya penguatan jaminan produk halal, terutama menjelang momentum Oktober 2026 yang berkaitan dengan kewajiban sertifikasi halal bagi produk dan pelaku usaha sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia mengajak para pelaku UMKM untuk menjadikan kewajiban halal bukan semata-mata sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai peluang meningkatkan kepercayaan konsumen dan daya saing produk.
“Halal harus menjadi bagian dari kekuatan ekonomi Indonesia. Karena itu, kita perlu menyambut momentum Wajib Halal Oktober 2026 dengan kesiapan, edukasi, pendampingan, dan kolaborasi,” tegasnya.
Ia berharap sinergi antara MUI, pemerintah, lembaga filantropi, dunia usaha, pelaku UMKM, dan masyarakat dapat semakin diperkuat untuk membangun ekosistem produk halal yang kokoh.
Shiratha Launching Sekaligus Charity
Sementara itu, Grand Launching Shiratha merupakan momentum peluncuran identitas baru Shiratha yang sebelumnya dikenal dengan nama Treetan. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan Shiratha Launching & Charity Fun Run di area Parkir Selatan GBK, Jakarta.
Selain menjadi kegiatan olahraga dan peluncuran brand, kegiatan tersebut juga membawa misi sosial. Sebanyak 100 persen biaya pendaftaran peserta Charity Fun Run didonasikan untuk program restorasi Kampung Buya Hamka di Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut juga cukup tinggi. Target awal peserta sebanyak 500 orang berkembang menjadi sekitar 600 peserta.
Buya Amirsyah mengapresiasi konsep tersebut karena mampu memadukan olahraga, kepedulian sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
“Ini adalah contoh kolaborasi yang baik. Masyarakat diajak hidup sehat melalui olahraga, tetapi sekaligus ikut berkontribusi untuk kegiatan sosial dan pelestarian lingkungan,” ungkapnya.
Didukung Berbagai Lembaga dan Dunia Usaha, Pelaksanaan Shiratha Launching & Charity Fun Run mendapat dukungan dari berbagai lembaga, komunitas, dan dunia usaha.
Dukungan tersebut antara lain berasal dari Lembaga Wakaf MUI, IsdF MUI, Shiratha, Minala Tour & Travel, Entrepreneur Indonesia, Akobah, YRSI, HPN, Pocari Sweat, BAZNAS, dan Bank Mega Syariah.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bahwa pengembangan ekonomi umat dapat dilakukan melalui sinergi antara wakaf, UMKM, pariwisata halal, filantropi, olahraga, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Buya Amirsyah menegaskan bahwa pembangunan ekonomi umat membutuhkan keterlibatan semua pihak.
“Ekonomi umat tidak bisa dibangun sendiri-sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi. Wakaf produktif, UMKM, wisata halal, filantropi, dan industri halal harus menjadi satu ekosistem yang saling memperkuat,” pungkasnya.
