34.3 C
Jakarta

Pemulihan Pendidikan NTT, 187 Sekolah Dapat Bantuan

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Pemulihan layanan pendidikan pascabencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menunjukkan perkembangan positif. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai mempercepat penyaluran bantuan revitalisasi serta pembangunan Ruang Kelas Sementara (RKS) bagi satuan pendidikan terdampak.

 

Per 14 September 2026, bantuan revitalisasi tahap pertama mulai disalurkan kepada 187 satuan pendidikan dengan total anggaran mencapai Rp50 miliar.

 

Bantuan tersebut mencakup 140 satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan nilai masing-masing Rp500 juta, lima Sekolah Luar Biasa (SLB) senilai total Rp6,45 miliar, dua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan satu Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dengan total Rp1 miliar.

 

Selain itu, bantuan juga diberikan kepada 39 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan nilai mencapai Rp42,2 miliar. Sementara itu, untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, proses verifikasi dan validasi telah dilakukan dan masih dalam tahap penghitungan kebutuhan.

 

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan perkembangan tersebut menjadi kabar baik dalam proses pemulihan pendidikan di wilayah terdampak gempa.

 

“Kabar baik tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh pihak yang bergotong royong membantu agar layanan pendidikan di NTT dapat bangkit dan pulih seperti sediakala,” kata Abdul Mu’ti, Senin (14/9/2026).

 

Menurut dia, Kemendikdasmen berkomitmen memastikan layanan pendidikan di NTT kembali berjalan optimal. Dengan demikian, murid tetap memiliki ruang untuk belajar, tumbuh, dan meraih cita-cita meskipun berada dalam situasi pascabencana.

 

672 Ruang Kelas Sementara Dibangun

 

Selain bantuan revitalisasi, Kemendikdasmen mempercepat pemulihan melalui bantuan 672 unit Ruang Kelas Sementara (RKS) dengan anggaran yang disebut mencapai Rp3,5 miliar.

 

Bantuan tersebut terdiri atas 194 RKS PAUD, 12 RKS SLB, dan 372 RKS SMK dengan nilai Rp4 juta per RKS. Kemudian terdapat 65 RKS SMP dan 29 RKS SMA dengan nilai Rp15 juta per RKS.

 

Langkah ini dilakukan untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung sembari proses pemulihan dan revitalisasi fasilitas pendidikan berjalan.

 

Data Kemendikdasmen juga mencatat 2.447 satuan pendidikan di NTT telah kembali menyelenggarakan pembelajaran.

 

Dari jumlah tersebut, sebanyak 487 satuan pendidikan telah kembali belajar secara normal di ruang kelas. Sementara 1.960 satuan pendidikan lainnya masih menjalankan pembelajaran dalam berbagai moda darurat, seperti di tenda, ruang terbuka, maupun ruang kelas darurat.

 

75 Sekolah Dapat Pendampingan Psikososial

 

Pemulihan pendidikan tidak hanya menyasar sarana dan prasarana. Kemendikdasmen juga memberikan pendampingan psikososial bagi warga sekolah yang terdampak bencana.

 

Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen Saryadi mengatakan pendampingan psikososial telah diberikan kepada 75 sekolah melalui kolaborasi dengan berbagai mitra.

 

Kemendikdasmen juga menyiapkan pelatihan bagi 120 fasilitator nasional dan 1.700 fasilitator daerah. Para fasilitator tersebut nantinya akan mendukung pendampingan bagi sekitar 51 ribu pendidik dan tenaga kependidikan di tujuh kabupaten terdampak.

 

“Langkah ini dilakukan untuk kembali membangun mental dan semangat para warga sekolah agar proses pembelajaran kembali pada situasi normal,” ujar Saryadi.

 

Selain pendampingan psikososial, pemerintah telah mendistribusikan tenda kelas darurat senilai total Rp5,5 miliar. Bantuan tersebut telah disalurkan ke tujuh kabupaten terdampak, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Manggarai Barat, Sikka, Ngada, dan Ende.

 

Bantuan Logistik dan Santunan Disalurkan

 

Kemendikdasmen juga telah menyalurkan bantuan awal senilai Rp6 miliar ke tujuh kabupaten terdampak gempa.

 

Bantuan tersebut meliputi 10.000 paket makanan anak, 1.000 paket sembako, 5.500 school kit, 1.500 family kit, serta 10.000 buku bacaan.

 

Saryadi mengapresiasi pemerintah provinsi dan pemerintah daerah di NTT yang telah menerbitkan surat edaran maupun keputusan terkait penyelenggaraan pendidikan pascabencana.

 

Kebijakan tersebut sejalan dengan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran pada Satuan Pendidikan Terdampak Bencana.

 

Untuk keluarga warga sekolah yang kehilangan anggota keluarga atau mengalami luka akibat gempa, Kemendikdasmen juga menyalurkan santunan dengan total Rp330 juta.

 

Santunan tersebut diberikan sebesar Rp5 juta bagi peserta didik yang meninggal dunia, Rp10 juta bagi guru yang meninggal dunia, Rp2 juta bagi guru yang mengalami luka, serta Rp1 juta bagi peserta didik yang mengalami luka.

 

“Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, untuk terus bergotong royong memastikan hak pendidikan anak-anak NTT tetap terpenuhi, sekalipun dalam kondisi darurat,” kata Saryadi. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!