OXFORDSHIRE, MENARA62.COM — Menjadi Muslim yang taat tidak harus membuat seseorang kaku dalam berinteraksi. Sebaliknya, hidup moderat bukan berarti mengurangi prinsip agama. Pesan itulah yang disampaikan Direktur Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Sarjito, S.T., M.T., PhD., IPM., saat mengisi kajian di Oxfordshire, Inggris.
Prof. Sarjito menjadi narasumber Pengajian At-Taqwa Oxfordshire yang digelar di kediaman Siti dan Brian Gillet, Kennington, Oxfordshire, Ahad (27/9). Kajian dan silaturahmi bulanan tersebut mengangkat tema “Tetap Taat dan Mampu Moderat Hidup di Negara Barat.”
Guru Besar Teknik Mesin UMS itu mengajak jamaah memahami kembali makna moderasi dalam kehidupan seorang Muslim yang tinggal di tengah masyarakat dengan latar belakang agama dan budaya yang beragam.
Menurut Prof. Sarjito, seorang Muslim tidak perlu mempertentangkan ketaatan beragama dengan kehidupan sosial yang baik.
“Muslim tidak perlu memilih antara menjadi Muslim yang taat atau anggota masyarakat yang baik. Keduanya bisa dan semestinya dijalani sekaligus,” ujarnya.
Moderat Bukan Berarti Mengurangi Prinsip
Prof. Sarjito merujuk QS Al-Baqarah ayat 143 tentang konsep ummatan wasathan. Ia menjelaskan, moderasi tidak berarti mengambil posisi setengah antara halal dan haram.
Moderasi, kata dia, justru berarti tetap teguh memegang prinsip agama tanpa berlebihan dalam bersikap.
“Moderasi bukan melemahkan keyakinan. Moderasi adalah kematangan dalam menjalankan keyakinan,” katanya.
Ia kemudian mengaitkan prinsip tersebut dengan QS Al-Mumtahanah ayat 8 yang mengajarkan umat Islam untuk berbuat baik (al-birr) dan berlaku adil (al-qisth) kepada masyarakat berbeda agama yang hidup berdampingan secara damai.
Prinsip keadilan juga ditegaskan melalui QS Al-Ma’idah ayat 8. Menurut Prof. Sarjito, keadilan tidak boleh berubah hanya karena seseorang menyukai atau tidak menyukai pihak lain.
Dalam konteks kehidupan di Inggris, ia mengajak jamaah melihat budaya Barat secara jernih. Hal-hal positif, seperti kedisiplinan, budaya antre, dan profesionalitas, dapat dipelajari dan diterapkan tanpa harus kehilangan identitas keislaman.
Sementara terhadap hal-hal yang berbeda dengan prinsip Islam, ia mendorong umat untuk tetap mengedepankan sikap beradab.
“Soft Approach, Strong Principle”
Prof. Sarjito juga mengangkat sejumlah hadis tentang kemudahan dalam beragama, pentingnya kelembutan, serta anjuran untuk memudahkan dan tidak membuat orang menjauh.
Ia merangkumnya dalam prinsip “soft approach, strong principle”—pendekatan yang lembut dengan prinsip yang tetap kuat.
Menurutnya, prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan masjid.
Ia mencontohkan bagaimana menyambut jamaah yang sudah lama tidak hadir.
Daripada bertanya, “Kok baru datang?”, menurutnya akan lebih baik menyambut dengan kalimat, “Alhamdulillah, senang bertemu.”
Pendekatan semacam itu dinilai dapat membuat lingkungan keislaman terasa lebih ramah tanpa mengurangi nilai-nilai yang diyakini.
Orang Tua Diminta Ajak Anak Berpikir
Pesan serupa juga disampaikan Prof. Sarjito kepada para orang tua. Ia mendorong pendidikan anak tidak berhenti pada larangan dan perintah.
Anak perlu dilatih untuk berpikir dan menimbang setiap persoalan berdasarkan nilai-nilai yang diajarkan Islam.
“Apakah ini baik, adil, halal, bermanfaat, dan sesuai prinsip?” menjadi pertanyaan yang perlu dibiasakan kepada anak ketika menghadapi berbagai pilihan.
Ia juga mendorong komunitas Muslim memiliki dua pintu.
Pintu pertama mengarah ke dalam untuk memperkuat iman, keluarga, dan pendidikan Al-Qur’an. Sementara pintu kedua mengarah ke luar untuk menghadirkan akhlak, pelayanan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar.
Kajian ditutup dengan perumpamaan pohon. Prof. Sarjito menggambarkan tauhid sebagai akar, takwa sebagai batang, akhlak sebagai cabang, dan manfaat bagi manusia sebagai buah.
“Teguh dalam prinsip, lembut dalam sikap,” pesannya.
Reuni dengan Komunitas Muhammadiyah Inggris
Kehadiran Prof. Sarjito dalam pengajian tersebut juga menjadi momentum silaturahmi dengan komunitas Muhammadiyah dan masyarakat Indonesia di Inggris.
Prof. Sarjito pernah dipercaya menjadi Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) United Kingdom ke-2 pada periode 2009–2011.
Kajian dimoderatori Thareq Barasabha, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Oxford sekaligus Sekretaris Majelis Pendidikan, Penelitian, dan Kebudayaan PCIM Britania Raya dan Irlandia.
Ketua PCIM Britania Raya dan Irlandia, Ince Dian Aprilyani Azir, yang turut hadir, mengaku senang dapat kembali belajar dari Prof. Sarjito.
“Beliau pernah memimpin PCIM di Inggris pada masa-masa awalnya. Pesan tentang taat dalam prinsip dan lembut dalam sikap ini penting untuk kita jaga, apalagi sebagai Muslim Indonesia yang hidup di tengah masyarakat yang beragam,” ujarnya.
Sementara itu, Siti selaku tuan rumah menyampaikan rasa syukurnya karena kediamannya dapat menjadi tempat berkumpul dan belajar bersama.
“Alhamdulillah, rumah kami bisa menjadi tempat silaturahmi dan belajar bersama,” tuturnya.
Pengajian tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi jamaah untuk mendoakan almarhumah tante Siti yang belum lama berpulang.
“Semoga Allah mengampuni dan merahmatinya,” katanya. (*)

