BOGOR, MENARA62.COM — Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) Bogor Raya mendorong pelaku UMKM memperkuat fondasi bisnis sekaligus mempersiapkan diri memasuki pasar global.
Dorongan tersebut mengemuka dalam Kopi Darat (Kopdar) bertema “Membangun Fundamental Bisnis yang Berorientasi Pasar Global” di PT Mudalaya Energy Indonesia, Jalan Raya Pemda, Karadenan, Sukaraja, Kabupaten Bogor, Ahad (27/9/2026).
Kegiatan yang dipandu Sekretaris Jenderal SUMU Bogor Raya, Roby Kurniawan, itu menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas, memperluas wawasan tentang ekspor, serta membangun jejaring kolaborasi di lingkungan Muhammadiyah.
Kopdar diikuti anggota SUMU Bogor Raya serta perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Cibinong.
Keterlibatan unsur persyarikatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antarorganisasi Muhammadiyah dalam mengembangkan potensi ekonomi masyarakat di Kota dan Kabupaten Bogor.
Silaturahmi Jadi Fondasi Gerakan Ekonomi
Koordinator Daerah SUMU Bogor Raya, Anang Yudi Riswanto, ST, MM, dalam materi pembuka menekankan pentingnya silaturahmi sebagai fondasi membangun gerakan ekonomi yang kuat.
Menurut Anang, hubungan antarpelaku usaha tidak cukup berhenti pada perkenalan. Jejaring tersebut perlu dikembangkan menjadi ruang berbagi pengalaman, menemukan peluang, sekaligus membangun kolaborasi.
“Silaturahmi menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya gerakan usaha. Dari pertemuan seperti ini, kita bisa saling menguatkan, berbagi peluang, dan menghubungkan kapasitas usaha masing-masing agar memberikan manfaat yang lebih luas,” ujar Anang.
Ia berharap Kopdar SUMU Bogor Raya tidak hanya menjadi forum promosi produk atau pertukaran kontak bisnis. Forum tersebut juga diarahkan untuk membangun kepercayaan serta mempertemukan kebutuhan pasar dengan kapasitas usaha para anggota.
UMKM Diminta Siapkan Produk untuk Pasar Global
Materi utama mengenai strategi memasuki pasar global disampaikan M. Luqmanul Hakim, pengusaha, dosen, sekaligus eksportir yang memiliki pengalaman bisnis di 15 negara.
Luqman mengatakan pasar global merupakan peluang pertumbuhan yang membutuhkan persiapan matang. Menurut dia, pelaku UMKM tidak cukup hanya memiliki produk untuk dapat bersaing di pasar internasional.
“Pasar global adalah peluang, tetapi untuk masuk ke sana kita tidak cukup hanya memiliki produk. Kita harus memastikan kualitas, harga, kemasan, kapasitas produksi, hingga kemampuan memenuhi kebutuhan buyer secara konsisten,” kata Luqman.
Ia menjelaskan, ekspor dapat membuka akses ke pasar yang lebih luas dan menciptakan peluang permintaan berulang. Karena itu, pelaku usaha perlu membangun sumber calon pembeli yang beragam dan tidak bergantung pada satu platform.
Sejumlah kanal dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan prospek, mulai dari Google, media sosial, marketplace ekspor seperti Alibaba dan Etsy, pameran perdagangan, hingga forum business matching.
Luqman juga menekankan pentingnya kemandirian data pelanggan. Pelaku usaha perlu membangun kanal komunikasi langsung dengan calon pembeli agar hubungan bisnis tidak sepenuhnya bergantung pada algoritma maupun kebijakan satu platform.
“Jangan hanya berpikir bagaimana menjual barang. Pikirkan masalah apa yang ingin diselesaikan oleh buyer. Ketika kita bisa membantu buyer dari sisi produk, dokumen, pengiriman, sampai proses negosiasi, kita tidak sekadar menjadi penjual, tetapi menjadi partner bisnis,” jelasnya.
Winning Product dan Kesiapan Ekspor
Dalam sesi tersebut, peserta juga diajak memahami pentingnya menemukan winning product sebelum memperluas pasar.
Produk unggulan tersebut harus didukung kualitas konsisten, harga kompetitif, kemasan sesuai pasar, kapasitas produksi terukur, serta rantai pasok yang dapat diandalkan.
Kesiapan perizinan, modal kerja, dokumen ekspor, hingga komunikasi dengan pihak forwarder juga menjadi aspek yang perlu dipahami calon eksportir.
Bagi pelaku usaha yang baru memulai, Luqman menyarankan proses memasuki pasar global dilakukan secara bertahap. UMKM dapat memulai transaksi dengan risiko terukur, belajar dari eksportir berpengalaman, serta membangun tim dengan budaya kerja disiplin.
“Pertumbuhan bisnis tidak bisa hanya mengandalkan semangat sesaat. Kita perlu membangun sistem, memperbesar nilai transaksi secara bertahap, memperkuat margin, dan terus memperluas sumber leads,” ujarnya.
Luqman juga mengingatkan pengusaha untuk memahami perkembangan ekonomi dan geopolitik global. Perubahan kondisi global dapat memengaruhi permintaan, rantai pasok, biaya logistik, hingga peluang pasar.
“Pengusaha harus lincah menguji pasar, melihat respons pelanggan, kemudian memperbaiki strategi. Yang penting adalah menjaga disiplin dan terus bergerak meskipun hasilnya belum langsung terlihat,” tambahnya.
Melalui Kopdar tersebut, SUMU Bogor Raya menegaskan komitmennya membangun ekosistem pengusaha Muhammadiyah yang profesional, saling terhubung, dan berorientasi pada pertumbuhan.
Sinergi dengan PCM dan PRM Cibinong diharapkan berkembang menjadi berbagai program kolaboratif untuk memperkuat ekonomi warga Muhammadiyah di Kota dan Kabupaten Bogor.
SUMU Bogor Raya juga membuka ruang bagi pelaku usaha, profesional, dan calon pengusaha untuk belajar, memperluas jejaring, serta berkolaborasi dalam penguatan ekonomi umat. (*)
