SOLO, MENARA62.COM – Dosen Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Dr. Masduki, M.Si., mendampingi 32 guru matematika Kabupaten Karanganyar mengembangkan soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) berbantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Pendampingan yang melibatkan guru-guru Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika Pokja V Kabupaten Karanganyar tersebut bertujuan memperkuat kualitas asesmen melalui penyusunan soal yang mengukur pemahaman konsep, kemampuan aplikasi, dan penalaran matematika siswa.
Kegiatan bertema “Menyiapkan Siswa Sukses TKA: Mengembangkan Pemahaman, Aplikasi, dan Penalaran” itu dilaksanakan di SMP Negeri 2 Karanganyar pada Rabu (14/10/2026). Dalam workshop tersebut, Masduki memaparkan strategi penguatan pembelajaran matematika sekaligus pemanfaatan AI untuk membantu guru menyusun soal sesuai dengan tuntutan kemampuan berpikir siswa.
“Pemanfaatan AI ditempatkan sebagai sarana pendukung pekerjaan guru, dengan tetap mengutamakan pemeriksaan dan pertimbangan profesional dalam menentukan kualitas soal,” ujar Masduki, Selasa (20/10/2026).
Skor TKA Matematika Jadi Bahan Evaluasi
Masduki menjelaskan, hasil TKA Matematika SMP tahun pelajaran 2025/2026 secara nasional menunjukkan skor rata-rata 39,75. Sementara itu, konten bilangan mencatat skor paling rendah, yakni 36,03.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi bahan refleksi bagi guru untuk memperkuat kemampuan dasar matematika siswa, terutama dalam operasi bilangan, penentuan modus, dan bilangan berpangkat.
Guru perlu mengidentifikasi sumber kesulitan belajar siswa, kemudian merancang kegiatan pembelajaran yang lebih terarah. Dengan demikian, persiapan menghadapi TKA tidak hanya berorientasi pada banyaknya latihan soal, tetapi juga pada penguasaan konsep dan kemampuan menerapkannya dalam berbagai situasi.
Latihan soal tetap diperlukan untuk membantu siswa mengenali pola pertanyaan, memilih strategi penyelesaian, dan meningkatkan ketelitian. Namun, kegiatan tersebut harus diimbangi dengan penguatan pemahaman agar siswa mampu menyelesaikan persoalan dalam konteks yang berbeda.
Dalam workshop tersebut, Masduki memperkenalkan strategi memeriksa langkah penyelesaian dan alasan yang dikemukakan siswa untuk menemukan sumber kesalahan. Guru juga didorong menghubungkan berbagai representasi matematika, mulai dari cerita, gambar, tabel, dan grafik hingga simbol.
Pembahasan kesalahan, pemberian bantuan secara bertahap, serta asesmen singkat turut menjadi bagian dari strategi untuk membangun pemahaman dan mendorong kemandirian belajar siswa.
Guru Dilatih Menyusun Soal Sesuai Level Kognitif
Materi workshop juga menekankan tiga level kognitif dalam TKA, yakni pengetahuan dan pemahaman, aplikasi, serta penalaran.
Level pengetahuan dan pemahaman mengukur penguasaan konsep, fakta, dan prosedur matematika. Level aplikasi menuntut siswa menggunakan konsep untuk menyelesaikan masalah, sedangkan level penalaran mencakup kemampuan menguji pernyataan, membandingkan strategi, menarik kesimpulan, dan menghubungkan beberapa konsep.
Masduki menegaskan bahwa penentuan level kognitif soal harus didasarkan pada proses berpikir yang diperlukan siswa, bukan sekadar panjangnya perhitungan atau penggunaan soal cerita.
Karena itu, guru perlu memastikan indikator, rumusan pertanyaan, dan langkah penyelesaian memiliki kesesuaian. Langkah ini penting agar soal benar-benar mengukur kemampuan yang ditargetkan dalam pembelajaran dan asesmen.
AI Bantu Susun Soal, Guru Tetap Jadi Penentu
Pada sesi pengembangan soal berbantuan AI, peserta diperkenalkan dengan alur kerja mulai dari menelaah kerangka asesmen TKA, menyusun kisi-kisi, membuat draf soal, melakukan verifikasi, hingga merevisi dan mengembangkan bank soal.
Masduki juga memberikan contoh penyusunan prompt atau instruksi terarah agar AI menghasilkan draf soal sesuai kebutuhan. Instruksi tersebut mencakup konten, submateri, level kognitif, dan indikator yang hendak diukur.
Melalui contoh materi perbandingan bilangan bulat, peserta mempelajari cara meminta AI menghasilkan soal pilihan ganda dan pilihan ganda kompleks, lengkap dengan kunci jawaban serta pembahasan untuk ditelaah lebih lanjut.
“AI dapat membantu menghasilkan alternatif, sementara guru memeriksa ketepatan matematika, kesesuaian level kognitif, kejelasan bahasa, dan kelayakan setiap butir soal,” tegas Masduki.
Pendekatan tersebut menempatkan AI sebagai alat bantu untuk mempercepat proses penyusunan soal, bukan sebagai pengganti kompetensi profesional guru. Setiap butir yang dihasilkan tetap harus diperiksa agar terhindar dari kesalahan konsep, ketidaktepatan jawaban, maupun ketidaksesuaian dengan indikator asesmen.
Peserta Susun Soal dalam Empat Kelompok Konten
Untuk mendukung praktik langsung, peserta dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan cakupan konten TKA, yaitu bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, serta data dan peluang. Setiap kelompok kemudian mengembangkan soal berdasarkan level kognitif yang ditargetkan.
Masing-masing peserta mendapat tugas menyusun lima soal dalam format pilihan ganda dan pilihan ganda kompleks, disertai kunci jawaban serta pembahasan. Penyusunan mengacu pada Kerangka Asesmen TKA SD/MI dan SMP/MTs dalam Peraturan Kepala Badan (Perkaban) Nomor 47 Tahun 2025.
Sebelum draf dikumpulkan, guru diarahkan melakukan penelaahan bersama sejawat untuk memeriksa kesesuaian konten, tuntutan berpikir, dan kejelasan bahasa.
Draf soal yang dihasilkan selanjutnya tetap memerlukan penelaahan dan uji coba sebelum digunakan secara lebih luas. Respons siswa dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas soal secara berkelanjutan.
Melalui pendampingan ini, dosen Pendidikan Matematika UMS berharap kolaborasi MGMP dapat memperkuat kompetensi guru dalam merancang asesmen yang sesuai dengan kebutuhan belajar siswa.
Pemanfaatan AI yang disertai pemeriksaan profesional diharapkan membantu guru mengembangkan soal TKA secara lebih terarah, sekaligus mendorong pembelajaran matematika yang tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga kemampuan menerapkan konsep dan bernalar dalam menyelesaikan masalah. (*)

