29.2 C
Jakarta

Din Syamsuddin Ungkap Cara Rasulullah Bangun Peradaban Madinah

Baca Juga:

MADIUN, MENARA62.COM – Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, MA mengungkapkan konsep perubahan besar yang dilakukan Rasulullah SAW setelah hijrah ke Madinah. Menurutnya, hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan transformasi pola pikir, mentalitas, hingga pembangunan peradaban.

 

Hal tersebut disampaikan Din Syamsuddin saat menjadi penceramah dalam Kajian Ahad Pagi Islamic Centre Madiun (ICM), Ahad (21/6/2026). Kajian tersebut mengangkat tema “Dengan Semangat Hijrah, Membangun Hidup Berizzah”.

 

Dalam tausiyahnya, Din Syamsuddin menjelaskan bahwa hijrah merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam yang dilakukan Rasulullah SAW sebanyak tiga kali. Perjalanan hijrah tersebut penuh tantangan, mulai dari penolakan hingga ancaman, namun menyimpan nilai perubahan yang sangat besar.

 

“Maka saya bisa simpulkan hijrah bukan hanya pindah tempat secara fisik, tapi lebih kepada perubahan pikiran, perubahan mentalitas,” ujar Din Syamsuddin.

 

Menurutnya, peristiwa hijrah dari Makkah ke Yasrib (Madinah) menjadi momentum perubahan besar. Makkah pada masa itu merupakan kota yang maju dan memiliki karakter kosmopolitan karena menjadi tempat bertemunya berbagai suku, kabilah, serta jalur perdagangan.

 

“Makkah menjadi kota perdagangan, tempat pertemuan arus perdagangan, bahkan menjadi kota festival terutama dalam bidang kesusastraan. Makkah juga menjadi destinasi karena ada Ka’bah,” jelasnya.

 

Sementara Yasrib, lanjut Din Syamsuddin, lebih menggambarkan wilayah pedesaan yang dikenal sebagai daerah penghasil kurma. Namun dalam waktu sekitar 10 tahun, Rasulullah mampu mengubah Yasrib menjadi Madinah yang berarti kota dengan kehidupan masyarakat yang lebih maju dan majemuk.

 

“Yasrib berubah menjadi Madinah, sebuah kota yang majemuk. Ada berbagai kelompok, suku, dan komunitas. Madinah menjadi melting pot, bahkan dikenal sebagai Madinah Al Munawwarah atau kota yang mencerahkan,” paparnya.

 

Rasulullah Bangun Konsep Al Ummah

 

Din Syamsuddin menjelaskan bahwa salah satu fondasi utama yang dibangun Rasulullah di Madinah adalah konsep Al Ummah. Konsep tersebut menjadi pengganti ikatan solidaritas masyarakat Arab yang sebelumnya sangat kuat berdasarkan hubungan darah dan kabilah.

 

“Karena orang Arab yang masuk Islam terpisah dari kabilahnya, Rasulullah atas dasar wahyu mengganti ikatan solidaritas dengan Al Ummah. Bukan lagi berdasarkan darah atau kampung, tetapi berdasarkan iman,” ungkapnya.

 

Menurutnya, konsep Al Ummah memiliki beberapa dimensi penting. Pertama, persatuan yang tidak dibatasi oleh latar belakang suku maupun kelompok. Kedua, adanya prinsip keadilan yang harus ditegakkan kepada siapa pun.

 

“Islam sangat jelas kalau sudah menyangkut keadilan. Jangan kebencian terhadap suatu kelompok membuat kita tidak berlaku adil,” tuturnya.

 

Selain itu, Al Ummah juga mengajarkan pentingnya musyawarah dalam menyelesaikan perbedaan.

 

“Ada perbedaan pendapat, duduk bersama. Mari diskusikan. Kalau tidak bisa disepakati, bagimu pendapatmu, bagiku pendapatku,” katanya.

 

Muhammadiyah dan Cita-Cita Membangun Peradaban

 

Din Syamsuddin menegaskan bahwa Rasulullah tidak hanya membangun masyarakat Madinah secara sosial, tetapi juga membangun peradaban. Hijrah tidak berhenti pada perpindahan tempat, melainkan dilanjutkan dengan pembangunan sistem kehidupan.

 

“Nabi Muhammad tidak hanya membangun Ummah sebagai perangkat lunak, tapi juga membangun piranti keras yaitu peradaban. Bukan sekadar berhijrah lalu tinggal di suatu tempat, tetapi mengubah dan membangun peradaban,” ujarnya.

 

Ia menyebut cita-cita membangun peradaban juga menjadi bagian dari semangat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam.

 

“Dan Muhammadiyah bercita-cita membangun peradaban utama, Muhammadiyah sebagai gerakan peradaban,” tegasnya.

 

Din Syamsuddin juga mengingatkan agar umat Islam tidak menjadikan organisasi sebagai tujuan utama, melainkan sebagai sarana untuk mencapai cita-cita Islam.

 

“Organisasi ini alat, bukan ghayah (tujuan). Salah kalau umat Islam menjadikan organisasinya sebagai ghayah,” katanya.

 

Ia berharap seluruh organisasi Islam dapat terus memperkuat persaudaraan dan bekerja sama dalam mewujudkan kejayaan umat.

 

“Kalau ormas-ormas Islam bertujuan sama, yaitu izzul Islam wal muslimin, insya Allah umat Islam akan damai dan rukun,” pungkas Din Syamsuddin. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!