28.3 C
Jakarta

Kemendikbud Berhasil Restorasi Film Lawas ‘Kereta Api Terakhir’

Must read

Opo tumon ? Miras Kok Dilegalkan

Opo tumon ?  Mungkin bagi kita yang waras, akan langsung geleng-geleng kepala. Entah apa yang melatar belakangi keluarnya Perpres No 10 tahun 2021 tentang Bidang...

Gun Stapler, Metode Sunat Ini Jadi Pilihan Public Figure

JAKARTA, MENARA62.COM – Sunat atau khitan umumnya dilakukan pada saat seorang pria berusia bayi hingga anak-anak. Tetapi pada beberapa orang, sunat dilakukan saat usia...

Relawan Tim Batavia LPB MUI: Respon Banjir Di Desa Pantai Harapanjaya

BEKASI, MENARA62.COM -- Sabtu dan Ahad (27-28 Februari 2021) lalu, menjadi hari yang cukup sibuk bagi relawan Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) Majelis Ulama Indonesia  (MUI)....

Mahasiswa 24 PTMA Mengikuti LKMM Tingkat Lanjut

YOGYAKARTA, MENARA62.COM -- Sebanyak 173 mahasiswa dari 24 Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) mengikuti Latihan Ketrampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Tingkat Lanjut atau Pelatihan Kader...

JAKARTA, MENARA62.COM – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) kembali berhasil merestorasi film lawas nasional berjudul “Kereta Api Terakhir”. Film produksi Perusahaan Produksi Film Negara (PPFN) tahun 1981 ini menjadi film keempat yang berhasil direstorasi oleh Kemendikbud.

“Ketika sudah direstorasi, keinginan Kemendikbud adalah agar bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat,” disampaikan Kepala Pusbangfilm Maman Wijaya yang mewakili Direktur Jenderal Kebudayaan pada peluncuran dan pemutaran film hasil restorasi “Kereta Api Terakhir” di bioskop CGV, FX Mal, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (18/12).

Dalam siaran persnya, Maman Wijaya mengatakan Pusbangfilm sudah memetakan film-film yang akan direstorasi oleh Pemerintah, dengan memprioritaskan film-film yang masuk kategori sudah mengalami kerusakan parah, dan film tersebut dipandang memiliki nilai budaya tinggi.

Film “Kereta Api Terakhir” terpilih untuk direstorasi karena mengisahkan mengenai perjuangan revolusi kemerdekaan Indonesia tahun 1945–1947 dan merupakan salah satu film kolosal produksi dalam negeri yang melibatkan 15.000 pemain. Selain itu, kondisi copy film ini juga tergolong mendesak untuk segera diselamatkan.

“Film Kereta Api Terakhir merupakan salah satu film epik yang dianggap masih netral dan layak untuk dijadikan referensi tentang sejarah perjuangan bangsa,” kata Elprisdat, Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis Perusahaan Film Negara (PFN). “Proses restorasi ini memakan waktu sekitar enam bulan dari Juni 2019,” imbuh Elprisdat.

Rizka Fitri Akbar, Direktur PT. Render Digital Indonesia, perusahaan yang melakukan restorasi film “Kereta Api Terakhir”, menjelaskan bahwa materi film ini diperoleh dari dua _copy_ positif milik pegiat film komunitas layar tancap. Film nasional berusia 38 tahun ini berhasil direstorasi dengan durasi 120 menit dari durasi asli 170 menit.

Kapusbangfilm menjelaskan bahwa film “Kereta Api Terakhir” hasil restorasi ini juga telah lulus sensor Lembaga Sensor Film (LSF) dengan kualifikasi 13 tahun ke atas.

Film arahan Mochtar Soemodimedjo ini diangkat dari novel karya Pandir Kelana yang mengisahkan tentang perjuangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Siliwangi disebabkan karena pelanggaran Perjanjian Linggardjati tahun 1946 oleh Belanda.

Alkisah, Markas besar TNI di Yogyakarta memutuskan untuk menarik semua kereta api yang menuju Yogyakarta. Letnan Sudadi (Rizawan Gayo), Letnan Firman (Pupung Harris), dan Sersan Tobing (Gito Rollies) ditugaskan untuk mengamankan kereta api terakhir yang akan diberangkatkan dari Stasiun Purwokerto menuju Yogyakarta. Perjalanan kereta api terakhir yang mengangkut pengungsi dan dokumen bersejarah republik diwarnai berbagai rintangan karena serangan udara tentara sekutu yang dibonceng oleh Belanda. Kisah perjuangan ini dikemas dengan cerita romantis serta dibumbui komedi.

Sebelum “Kereta Api Terakhir”, Pusbangfilm Kemendikbud telah merestorasi film “Darah dan Doa” (1950) pada tahun 2013; “Pagar Kawat Berduri” (1961) pada tahun 2017, dan; “Bintang Ketjil” (1963) pada tahun 2018.

Pusbangfilm Kemendikbud melayani peminjaman film yang telah direstorasi untuk komunitas masyarakat sebagai fasilitasi belajar perfilman maupun digunakan sebagai media pembelajaran. “Siapapun yang memerlukan, asal tidak komersial,” kata Maman Wijaya.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Opo tumon ? Miras Kok Dilegalkan

Opo tumon ?  Mungkin bagi kita yang waras, akan langsung geleng-geleng kepala. Entah apa yang melatar belakangi keluarnya Perpres No 10 tahun 2021 tentang Bidang...

Gun Stapler, Metode Sunat Ini Jadi Pilihan Public Figure

JAKARTA, MENARA62.COM – Sunat atau khitan umumnya dilakukan pada saat seorang pria berusia bayi hingga anak-anak. Tetapi pada beberapa orang, sunat dilakukan saat usia...

Relawan Tim Batavia LPB MUI: Respon Banjir Di Desa Pantai Harapanjaya

BEKASI, MENARA62.COM -- Sabtu dan Ahad (27-28 Februari 2021) lalu, menjadi hari yang cukup sibuk bagi relawan Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) Majelis Ulama Indonesia  (MUI)....

Mahasiswa 24 PTMA Mengikuti LKMM Tingkat Lanjut

YOGYAKARTA, MENARA62.COM -- Sebanyak 173 mahasiswa dari 24 Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) mengikuti Latihan Ketrampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Tingkat Lanjut atau Pelatihan Kader...

Syukur Tak Terukur

Ibn ‘Abbas r.a., salah seorang sahabat terdekat Rasulullah SAW, yang ‎juga sepupu beliau, karena ia adalah putra dari paman Rasulullah SAW, Abbas ‎ibn Abdul...