23.9 C
Jakarta

Staim Tulungagung dalam Noktah Sejarah: Tak Kenal Lelah Memberi Cahaya bagi Nonmuhammadiyah

Baca Juga:

Oleh: Shubhi Mahmashony Harimurti, M.A.

Tanpa pilih kasih. Itulah frasa yang cocok untuk menggambarkan sejarah Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Tulungagung, Jawa Timur. Karena yang terlibat dalam keluarga besar civitas academica berasal dari latar belakang yang bermacam-macam. Jika didata maka lebih dari 85% mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan bukan merupakan warga Muhammadiyah. Namun, ini justru menjadi kelebihan perguruan tinggi yang terletak di Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung tersebut.
Tahun 1986 secara resmi kampus ini berdiri yang merupakan inisiatif dari pimpinan persyarikatan setempat. Sebagai mentor yang mendampingi pendirian adalah Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya. Pada saat itu masih secara formal bernama Fakultas Tarbiyah UM Surabaya yang bertempat di Tulungagung. Sedangkan berdiri sendiri dengan nama Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Tulungagung adalah pada tahun 1987.

Para tokoh pendiri antara lain Jahdin dan Masrun. Para pengajar awal kebanyakan merupakan aktivis persyarikatan yang juga dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung. Termasuk Allahuyarham Drs. Moh Shoim yang merupakan Ayahanda penulis. Ketua pertama adalah Umar Daham (1986-1987). Kemudian digantikan oleh Jahdin (1987-2012). Lalu berturut-turut dipimpin oleh Prof Munardji (2012-2013) dan Nurul Amin (2013-sekarang).

Saat pertama kali berdiri, mahasiswa yang bergabung ada sekitar 50 mahasiswa. Hingga tahun 1992, animo agak meningkat. Ada sekira 100 mahasiswa diterima tiap tahun. Saat fenomena guru Madrasah Diniyah (Madin) menyerbu, hingga tahun 1997 STIT Muhammadiyah Tulungagung dapat menampung lebih dari 200 mahasiswa tiap angkatan. Durasi 1998-2006 agak menurun ke angka 100 mahasiswa yang diterima tiap tahun akademik. Setelah itu cacah yang masuk lumayan stabil sekitar 150 mahasiswa hingga sekarang.

Lahan yang digunakan untuk kampus terutama Masjid Ikhwanul Muslimin merupakan wakaf dari salah satu warga Muhammadiyah. Lambat laun tanah di sekitar masjid pun ikut dibeli oleh STAIM Tulungagung. Perkembangan pembangunan lumayan pesat hingga mendekati jalur rel kereta api di sisi barat. Total luas tanah yang sepenuhnya milik persyarikatan ini mencapai 5.000 meter persegi dengan dua lantai. Luasan ini belum termasuk kampus unit Kecamatan Campurdarat yang berdiri tahun 2000 dan Kecamatan Bandung yang sudah ada sejak 2006.

Wakil Gubernur Jawa Timur 2008-2018 Syaifullah Yusuf meresmikan gedung perkuliahan STAIM Tulungagung pada 30 September 2012 (Dokumentasi STAIM Tulungagung).
Terhitung sejak tahun 1990 ketika Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI) mewajibkan semua guru termasuk pendidik di madrasah untuk mempunyai ijazah minimal Diploma 2 hingga Sarjana maka animo masyarakat untuk kuliah di STAIM Tulungagung mulai meningkat. Tercatat itu adalah masa emas kampus yang termasuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) tersebut. Tuntutan profesi memaksa para guru tersebut menuntut ilmu di kampus yang saat itu masih bernama STIT Muhammadiyah Tulungagung tersebut. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa hampir semuanya justru warga Nahdlatul Ulama (NU).

Fenomena membanggakan kala itu adalah ketika hampir semua guru Agama Islam di Tulungagung kuliah di STIT Muhammadiyah Tulungagung. Bahkan beberapa di antara mereka sukses menjadi kepala sekolah di institusi masing-masing termasuk menduduki orang nomor satu di Kemenag Tulungagung dan Trenggalek. Para pejabat tersebut sukses dalam karirnya setelah menggondol ijazah dari kampus yang terletak di Jalan Pahlawan III/27 Tulungagung tersebut. Karena sebelumnya mereka masih menjadi guru Diniyah biasa. Dua warga NU yang sukses berkat kuliah di STIT Muhammadiyah Tulungagung adalah Sumarit yang berhasil menjadi mahkoda Kemenag Trenggalek dan Damanhuri yang menduduki jabatan serupa di kabupaten sebelah timur Kota Kripik tersebut. Salah satu kelebihan STIT Muhammadiyah Tulungagung dijadikan tempat menimba ilmu adalah status keswastaannya. Justru karena kampus plat hitam maka para mahasiswa dapat menjalankan aktivitas utamanya sebagai guru.

Tidak dapat dipungkiri bahwa motivasi sebagian dari para pendidik tersebut adalah mencari ijazah. Namun, tidak sedikit pula yang memang murni ingin mencari wawasan tambahan. Puncak dari dominasi mahasiswa Nahdliyin di STIT Muhammadiyah Tulungagung adalah saat tahun 2010 Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) mempunyai program beasiswa Peningkatan Kompetensi Guru Diniyah. STIT Muhammadiyah Tulungagung ketiban sampur menjadi penyelenggara pendidikan berbeasiswa tersebut. Demikian Nurul Amin, Ketua STAIM Tulungagung menyampaikan dalam wawancara virtual melalui aplikasi Zoom pada Sabtu 26 September 2020.

Para guru Diniyah yang menangkap peluang tersebut 95% justru dari kalangan NU. Sesuatu yang bisa dimaklumi karena Madrasah Diniyah yang tersebar di Kota Marmer hampir semua bisa dipastikan terafiliasi dengan organisasi yang berlambang bola dunia dengan bintang sembilan tersebut. Guru Diniyah Muhammadiyah memang ada yang ikut. Namun, sedikit sekali.

Beasiswa ini terus berlanjut hingga tahun 2019 lalu. Tetap saja warga Nahdliyin yang justru mendominasi mahasiswa yang dibiayai oleh Pemprov Jatim tersebut. Hal ini tidak pernah dipermasalahkan oleh pihak STAIM Tulungagung. Karena bagi institusi yang dipimpin oleh Nurul Amin ini memberi cahaya secercah tidak perlu harus memilah. Semua berhak mendapatkan akses pendidikan.

Cerita unik sempat muncul saat para guru Madin tersebut hendak mendaftar sebagai mahasiswa di STAIM Tulungagung. Mereka awalnya takut. Khawatir jika setelah resmi menjadi mahasiswa maka wajib menjadi anggota organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan tersebut. Ternyata setelah dijalani tidaklah sengeri yang dibayangkan. Para guru Madin itu semakin terbuka pikirannya tentang Muhammadiyah.

Mereka justru bertambah wawasannya. Tidak lagi terlalu fanatik dan membenci persyarikatan. Keberadaan mata kuliah Agama Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dapat menjadi penetral ‘kebencian’ yang sempat ada. Dalam proses perkuliahan juga tidak pernah terjadi perdebatan yang berarti. Para guru Madin ini juga menikmati kuliah di STAIM Tulungagung dan tidak merasa terbebani.

Meskipun begitu, jarang sekali dari mereka yang pada akhirnya bergabung dengan Muhammadiyah. Tetap istiqomah di NU. Akan tetapi, saat sudah lulus para pendidik tersebut bersedia mempromosikan STAIM Tulungagung melalui jaringan ikatan alumni yang dimiliki. Rasa bangga tetap ada di dada. Tidak ada perasaan malu sama sekali. Hal yang patut diapresiasi dari mereka adalah tidak membenci Muhammadiyah sama sekali. Pemandangan seperti ini bukan hanya ada pada mahasiswa yang mendapatkan beasiswa Pemprov Jatim, namun juga mereka yang berbiaya mandiri dan berasal dari kalangan Nahdliyin.

Dominasi nonmuhammadiyah di kampus yang berdiri tahun 1986 tersebut juga ada pada level dosen. Meskipun begitu mereka juga tidak begitu membenci organisasi berlambang matahari terbit ini. Bahkan hampir semua mempunyai kartu tanda anggota Muhammadiyah. Para dosen tersebut memang tidak mempunyai latar belakang organisasi yang berpusat di Yogyakarta ini. Namun, mereka bersedia menyesuaikan dan tidak mempermasalahkan.

Sebelum resmi menjadi dosen, mereka terlebih dahulu diberikan pembekalan mengenai Kemuhammadiyahan. Para dosen yang sebenarnya tidak ada hubungan dengan Muhammadiyah tersebut lama kelamaan juga menerima pemahaman yang bagi mereka terhitung baru tersebut. Sekali lagi, kampus yang terletak di Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung tersebut menebar manfaat bagi warga di luar Muhammadiyah. Tenaga kependidikan (tendik) pun mayoritas bukan warga persyarikatan.
Tahun 2000, STIT Muhammadiyah Tulungagung memulai untuk membuka unit baru di Campurdarat. Sebenarnya kampus ini menginduk ke STIT Muhammadiyah Bangil, Pasuruan. Kebanyakan mahasiswanya adalah lulusan Madrasah Aliyah (MA) Ummul Akhyar, Campurdarat yang secara penampilan berpakaian sedikit berbeda dengan warga Muhammadiyah pada umumnya. Mereka cenderung memanjangkan jenggot, bercelana di atas mata kaki, dan bagi perempuannya mengenakan cadar. Lagi-lagi sedikit perbedaan manhaj ini tidak mereka permasalahkan. Kampus yang kemudian di tahun 2007 sepenuhnya dikelola oleh STIT Muhammadiyah Tulungagung tetap memberikan pencerahan bagi mahasiswa yang tidak sepemahaman.

Pada tahun 2006, di Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung didirikan sebuah kelas jarak jauh yang menginduk ke Universitas Muhammadiyah Surabaya. Lambat laun kelas tersebut juga dialihkelola kepada STIT Muhammadiyah Tulungagung. Seperti halnya di kampus pusat, pada waktu itu yang mendominasi adalah para guru Madin yang tentu saja berlatar belakang NU.

Tahun 2009 STIT Muhammadiyah Tulungagung sempat mempunyai kampus cabang di Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Setidaknya bertahan hingga 4 tahun untuk menampung para alumnus Perguruan Muhammadiyah di daerah itu sebelum akhirnya merger dengan kampus cabang di Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung. Berbeda dengan narasi sebelumnya, untuk konteks Watulimo yang dominan adalah warga persyarikatan sendiri. Namun, saat bergabung ke kabupaten tetangga lagi-lagi kader Nahdliyin yang mayoritas.

Begitu lah sejarah singkat STAIM Tulungagung khususnya peran serta kiprah dalam melayani maupun memajukan umat dan bangsa, tanpa membeda-bedakan. Tidak patah semangat juga meski menjadi minoritas.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!