31.9 C
Jakarta

Strategi Dakwah Kultural

Baca Juga:

 

Oleh: Pujiono*)

BOYOLALI, MENARA62.COM – Di bawah ini saya sarikan tulisan dari sambutan Ketua PWM Jateng, Dr. KH. Tafsir, M.Ag pada Konsolidasi Muhammadiyah Jateng di UNIMUS, Ahad (3/12/2023).

Dakwah itu merangkul bukan memukul, dan mengajak bukan menginjak. Saatnya mubaligh Muhammadiyah berfikir “jumlah kepala” dengan potensi “isi kepala” nya.

Saat terjadi gempa tektonik di Klaten (2006), saya melakukan penelitian suasana keberagamaan di tengah bencana. Terinspirasi sebuah tulisan di salah satu tembok : Tuhan Engkau di mana?

Demikian juga Disertasi saya mencoba mengangkat strategi dakwah Muhammadiyah di desa
Plompong Brebes, Kaliwungu Kendal, dan Jatinom Klaten.

Di Plompong, sebuah desa yang berada di tengah hutan, mayoritas masyarakatnya petani. Dan di sana Muhammadiyah bisa berkembang dengan pesat sebagai warga mayoritas, 70 persen. PRM Plompong memiliki amal usaha yang komplit, meskipun mayoritas petani. Kaum petani banyak melakukan “slametan” (sedekah ala Jawa dengan berbagi makanan untuk berbagai keperluan). Berbeda dengan pegawai ASN, yang jarang melakukan slametan. Karena gajinya sudah pasti terbayar setiap tanggal satu. Tak peduli musim dan keadaan ekonomi.

Berbeda dengan petani, yang memulai mengolah sawah, lalu menebar benih, menanam bibit, mengairi dan memupuk, menyiangi gulma dan menjaga tanaman hingga panen. Bisa jadi, besok hari mau panen tetapi malamnya diterjang angin lisus atau terkena banjir. Maka masyarakat petani dengan ihtiar ilahiyah berupa slametan di setiap etape bercocok tanam merupakan wujud “ibadah sosial/ghairu mahdhah“.

Warga mayoritas Muhammadiyah yang petani terbiasa mengadakan slametan di Plompong. Mengapa dakwah Muhammadiyah bisa diterima di sana? Karena bersifat kultural, sesuai kearifan lokal dan secara sosiologis dipahami dan dipraktikkan dengan baik oleh pimpinan dan warga Muhammadiyah.

Selain itu, ada warga Muhammadiyah yang mahir musik Melayu. Maka masyarakat pun tertarik dan ikut serta berkesenian melalui grup musik Orkes Melayu kebanggaan warga Plompong. Kalau sekarang dangdut atau campursari. Jika “ketanggor” (ketemu) ustad yang gemar mengharamkan musik dan melafadzkan dalil “kullu bid’atin dholalah, wa kullu dholalatin fin-nar” (setiap bid’ah/tambahan yang baru itu sesat, dan setiap kesesatan masuk neraka) pastilah Muhammadiyah di Plompong tidak akan berkembang seperti sekarang.

Kaliwungu

Berbeda lagi dengan Muhammadiyah Kaliwungu, Kendal. Di mana warga persyarikatan berada di tengah mayoritas warga NU. Boleh dikatakan, masyarakat batuk saja bunyinya NU (disampaikan secara bercanda, guyonan). Tapi Muhammadiyah bisa berkembang di tengah mayoritas warga nahdhiyin. Ternyata di tahun 60- an Hizbul Wathan Pemuda Muhammadiyah memiliki group Drumband. Dan Group drumband HW-PM saat itu telah menjadi kebanggaan warga Kaliwungu. Meski mereka anggota Banser GP Anshor, namun bangga bisa ikut Group Drumband. Di sinilah pertalian emosional-kultural terjadi sehingga di Kaliwungu Muhammadiyah bisa eksis dan berkembang hingga sekarang.

Jatinom

Di Jatinom Klaten, ada harmoni tradisi berupa “Yaqowiyu“, yaitu tradisi menyebar apem setiap bulan Sapar, bulan kedua penanggalan Jawa. Sehingga lazim disebut juga dengan perayaan “Saparan“. Banyak masyarakat yang “ngalap berkah” (mencari keberkahan) dari apem yang didapatkan. Menurut keyakinan sebagian masyarakat, apem biasa ditaruh di 3 tempat, yaitu : dompet, lumbung padi dan kebun.

Halaman masjid yang dipergunakan sebagai tempat acara apeman merupakan “Masjid Muhammadiyah“. Bahkan yang menyebarkan apem dari panggung di halaman masjid Ketua PCM Jatinom. Tradisi yaqowiyyu masih berlangsung hingga kini.

Berdasarkan tiga lokasi perkembangan Muhammadiyah di Plompong, Kaliwungu dan Jatinom, kita bisa ambil kesimpulan 2 hal. Bahwa budaya berbagi “makanan” dan “seni” merupakan sarana yang efektif untuk berdakwah dan mengumpulkan warga. Masyarakat mudah dikumpulkan jika ada makanan dan kesenian.

Dalam tradisi lebaran Idul Fitri, kita sering melihat simbol budaya berupa Bedug dan Ketupat. Atau “bancakan” nasi tumpeng untuk hajatan ulang tahun atau tasyakuran. Bedug merupakan simbol seni-budaya dan ketupat adalah simbol budaya pangan masyarakat Jawa Islam.

Dakwah kultural harus dipahami dan mampu diamalkan oleh para Mubaligh dan Dai Muhammadiyah. Memahami kondisi sosiologis, seni dan budaya lokal bisa menjadi sarana yang efektif dalam mengembangkan dakwah di akar rumput. Saatnya Muhammadiyah menambah “jumlah kepala”, di samping “isi kepala” yang sudah mendunia.

UNIMUS Semarang : 3 Desember 2023
*) Pujiono, Majelis Tabligh PWM Jateng. Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Program Khusus Banyudono, Boyolali.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!